Monday, February 17, 2014

Pengertian Puasa dan Sejarahnya

Pengertian Puasa dan Sejarahnya - Postingan kali ini, situs membumikan pendidikan akan mencoba mengulas mengenai puasa dan sejarahnya. Secara etimologi, puasa (arab: shaum) diartikan dengan menahan (arab: imsak). Adapun pengertian puasa menurut istilah syar’i (terminologi), adalah menahan diri dari segala perkara yang membatalkannya dari mulai terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari disertai dengan niat (untuk melakukan ibadah) kepada Allah Swt. Ramadhan sendiri artinya adalah membakar (dosa).

Jadi, puasa ramadhan adalah upaya menahan diri (makan, minum, berhubungan intim) dari terbit fajar hingga maghrib untuk membakar dosa-dosa sehingga tergolong orang yang bertakwa dan diridhoi Allah Swt.

Puasa di bulan Ramadhan adalah termasuk ke dalam rukun Islam yang ke empat. Ia di syari’atkan pada tahun ke dua Hijriyah sesudah turunnya perintah shalat dan zakat. Sebagaimana dalam firman Allah Swt:

QS. al-Baqarah Ayat 183-184
QS. al-Baqarah Ayat 183-184

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan. Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.

Sejarah Diwajibkannya Puasa

Berdasarkan ayat tersebut di atas dan sejarah, maka puasa bukanlah barang baru. Ia sama tuanya dengan sejarah manusia sendiri. Peristiwa pelarangan Allah kepada nenek moyang kita Nabi Adam dan Hawa cukup menjadi bukti sejarah, pertanda puasa sudah bermula sejak awal manusia diciptakan.

Sehubungan dengan perang menundukkan nafsu syahwat, telah diceriterakan dalam proses diwajibkannya puasa.

"Bahwasanya Allah Swt setelah selesai menciptakan akal, Dia berfirman: Wahai akal, menghadaplah kamu kepadaku! Maka dengan segera akal menghadap-Nya. Lalu Allah menyuruhnya: Mundurlah wahai akal! Maka ia segera mundur mentaati perintah Allah Swt. Kemudian Allah Swt bertanya: Wahai akal, sebenarnya siapakah kamu dan Aku ini? Akal menjawab: Ya Allah, Engkaulah sesembahanku, sedang aku hanyalah hamba-Mu yang lemah. Akhirnya ia dipuji oleh Allah dengan firman-Nya: Wahai akal, tiada makhluk yang Aku ciptakan lebih mulia dibandingkan kamu". 
"Kemudian Allah Swt ciptakan pula nafsu, dan ketika ia disuruh menghadap Allah, sepatah katapun tiada jawaban darinya. Bahkan ketika ditanya oleh Allah: Siapa kamu dan siapa Aku ini? Jawabnya: Aku ya aku, Kamu ya Kamu. Maka dengan demikian ia patut menjalani hukuman, akibat tidak tahu diri, ia disiksa dilemparkan ke dalam kobaran api neraka jahannam selama 100 tahun. Dan setelah habis masa hukumannya, ia dikeluarkan dari neraka. Lalu ditanya kembali oleh Allah: Siapa sebenarnya engkau, dan siapa pula Aku? Jawabnya tiada berbeda dengan dulu: Aku ya aku, Engkau ya Engaku. Akhirnya ia dihukum kembali, tapi kali ini ia dilemparkan dalam neraka lapar selama 100 tahun. Sehabis masa hukumannya ia ditanya kembali tentang siapa Penciptanya. Maka berkat hukuman lapar (Puasa) ia mengakui bahwa dirinya adalah hamba yang lemah. Dan Allah Tuhannya, itulah sebabnya Allah mewajijbkan puasa baginya."  (Misykah)

Dalam sejarah agama-agama besar, puasa adalah merupakan salah satu ibadah yang penting. Karena memang Tuhan telah mewajibkan puasa kepada umat-umat terdahulu dimana kepadanya dikirimkan rasul-rasul Allah. Ia telah diwajibkan pada zamannya Nabi Musa, Nabi Daud, dan Nabi Isa A.s. Dalam Bible sendiri banyak menyebut-nyebut tentang puasa. Dalam Perjanjian Lama kita dapat lihat misalnya pada kitab Yesaya 58 : 3-6 dan Danial 10 : 2. Sedangkan dalam Perjanjian Baru pada Matius 6 : 16-17 Matius 9 : 14-17, Lukas 5 : 33-38, dan Markus 2 : 18-22.

Bangsa Arab pra Islam juga mengenal puasa. Hal ini berdasarkan pada riwayat Bukhary dari Aisyah r.a, bahwa kaum Quraisy melakukan puasa Asyura (10 Muharram) pada zaman jahiliyah. Kemudian ketika Rasulullah Saw diutus, maka kaum muslimin disuruh puasa pada hari itu sampai diwajibkannya puasa Ramadhan.

Lebih jauh lagi, selain puasa yang dilakukan manusia, alam (tumbuhan dan binatang) pun di sepanjang zaman mengenal puasa. Dalam suatu penyelidikan, bahkan mungkin anak-anak sekolah sudah mengerti semua bahwa pada tumbuhan, terutama yang berbiji belah (dicotyl) ternyata terdapat puasanya juga. Pada tiap tahunnya mengalami musim gugur. Daun, dimana tidak saja berfungsi untuk menahan penguapan, penampung cahaya, dan menyerap udara tetapi juga berfungsi melakukan peng-asimiliasian serta mengatur makanan. Sesudah musim gugur terjadi, tumbuhan mengalami musim berdaun muda kembali, kemudian disusul dengan musim bunga dan berbuah.

Sedangkan bagi kelompok hewan, yang paling mudah diselidiki ialah bangsa unggas (misalnya: ayam). Ia berpuasa selama mengerami telornya. Biasanya ayam yang sedang mengerami telornya, makanannya sangat sedikit dan teratur sekali yakni pada pagi-pagi sekali atau di sore harinya.

Lalu bagaimana hukum puasa di bulan Ramadhan? Tidak sedikit pula orang yang belum tahu dan mengerti mengenai hal ini. Sehingga banyak yang meninggalkan puasa tanpa ada sebab yang dibenarkan oleh syar'i. Lebih jelasnya baca “Hukum Puasa di Bulan Ramadhan”.

Demikianlah ulasan mengenai pengertian puasa dan sejarahnya. Semoga dapat memberikan pemahaman dan wawasan perihal puasa dan sejarahnya. Sehingga dalam menjalankan puasa Ramadhan bisa lebih maksimal dan bermakna.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon