Tuesday, June 28, 2016

Seputar Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar - Pada postingan kali ini, Membumikan pendidikan akan share perihal Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar.  Bahwa selagi beliau (Nabi Muhammad SAW) genap 40 tahun, dimana suatu awal kematangan dan ada yang berpendapat pada usia inilah para Rasul diangkat menjadi Rasul. Maka mulai tampak tanda-tanda nubuwah yang menyembul dari balik kehidupan pada diri beliau. Di antara tanda-tanda itu adalah mimpi yang hakiki. Selama 6 bulan mimpi yang beliau alami itu hanya menyerupai fajar subuh yang menyingsing. Mimpi ini termasuk salah satu bagian dari 46 bagian dari nubuwah. Akhirnya pada bulan Ramadhan pada tahun ketiga dari masa pengasingan (kontemplasi) di Gua Hira, Allah berkehendak untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada penghuni bumi, memuliakan beliau dengan nubuwah dan menurunkan Jibril kepada beliau dengan membawa ayat-ayat al-Qur'an (Lihat Fathul Bari Ibnu Hajar, 1/27).
Seputar Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar
Dalam redaksi Syaikh al-Mubarakfuri dalam al-Rahiqul Makhtum (Sirah Nabawiyah, 62) membuat ketetapan mengenai hari itu, yaitu pada hari senin, malam tanggal 21 dari bulan Ramadhan, atau bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 610 M. Usia beliau saat itu genap 40 tahun lebih 6 bulan 12 hari menuru perhitungan kalender Hijriyah, atau 39 tahun lebih 3 bulan 20 hari menurut perhutungan kalender Syamsiyah. Ada perbedaan pendapat di antara pakar tentang penentuan harinya dari bulan Ramadhan. Dalam Mukhtashar Siratir Rasul Syaikh Abdullah an-Najdi dan Rahmah Lil 'Alamin 1/49, ada yang berpendapat pada hari ke tujuh, ada pula hari ke tujuh belas, ada pula pada hari ke delapan belas. Al-Khadhri dalam Mudharat-nya menegaskan pada hari ke tujuh belas. Sehingga tanggal tersebut kita kenal dengan peristiwa “Nuzulul Quran”. Tanggal ini dapat kita buktikan dari al-Quran sendiri, yaitu dalam firman Allah Swt.
QS. al-Anfal ayat 41
“…jika kamu beriman kepada Allah dan kepada yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu hari bertemunya dua pasukan…” (QS. al-Anfal: 41)

Para mufassir mengatakan, yang dimaksud dengan kalimat “…bertemunya dua pasukan…” adalah pasukan Islam dan kafir dalam perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah.

Allah juga berfirman:
QS. al-Baqarah ayat 185
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al-Baqarah: 185)
QS. al-Dukhan ayat 3
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Quran) pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”.
QS. al-Qadar ayat 1
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan”.

Perihal Lailatul Qadar

  • 1. Keutamaan Lailatul Qadar
Malam qadar adalah malam yang paling utama sepanjang tahun berdasarkan firman Allah Swt: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. al-Qadar: 1-3).

Malam kemuliaan sebagaimana dalam ayat di atas dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadar yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya al-Quran. Maksudnya, beramal pada malam tersebut berupa shalat, dzikir dan membaca al-Quran, lebih utama dari amalan selama seribu bulan yang tidak mempunyai Lailatul Qadar.
  • 2. Sunnah Mengintainya
Disunnahkan mencari Lailatul Qadar itu pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Nabi Saw sangat giat mencari ketika saat itu pada sepuluh hari yang terakhir. Dan telah disebutkan hadits-hadits pada ulasan-ulasan terdahulu bahwa bila datang puluhan terakhir, Nabi Saw meramaikan malamnya, membangunkan keluarganya dan mempererat sarungnya.
  • 3. Di Malam Keberapa Jatuhnya
Ada beberapa pendapat dari para ulama dalam menentukan malam Lailatul Qadar. Di antaranya adalah:

Mereka ada yang mengatakan bahwa ia adalah malam ke dua puluh satu, ada pula yang mengatakan malam ke dua puluh tiga, ada yang berpendapat malam ke dua puluh lima, dan ada yang malam ke dua puluh Sembilan. Serta ada yang mengatakan bahwa ia berpindah-pindah pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh hari yang terakhir. Tetapi kebanyakan mereka berpendapat bahwa jatuhnya ialah pada malam ke dua puluh tujuh. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnad yang sah dari Ibnu Umar r.a katanya, telah bersabda Rasulullah Saw:
Keutamaan Malam Lailatul Qadar
“Barang siapa mencarinya, hendaknya dicarinya pada malam ke dua puluh tujuh”
  • 4. Beibadah dan Berdoa di Malamnya
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw, bersabda:
Keutamaan Malam Lailatul Qadar
“Barang siapa yang beribadah pada malam Qadar karena iman dan mengharapkan keridhaan Allah, diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu”.

Diriwayatkan pula dari Aisyah r.a oleh Ahmad, Ibnu Majah, dan juga oleh Imam Tirmidzi yang menyatakan sahnya, katanya:
Keutamaan Malam Lailatul Qadar
“Saya bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana pendapat anda seandainya saya mengetahui malam jatuhnya Lailatul Qadar itu, apakah yang harus saya ucapkan waktu itu? Maka jawab Nabi: Katakanlah: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah daku ini”.

Demikianlah uraian mengenai seputar nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar. Semoga dapat bermanfaat dan bisa menambah wawasan keislaman sahabat-sahabat membumikan pendidikan.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon