Sunday, March 16, 2014

Biografi Al-Harits Al-Muhasibi Sufi yang Demokratis

Biografi Al-Harits Al-Muhasibi Sufi yang Demokratis - Al-Harits bin Asad al-Muhasibi (wafat 243 H) menempuh jalan tasawwuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya. Ketika mengamati madzhab-madzhab yang dianut oleh umat Islam, al-Muhasibi menemukan kelompok di dalamnya. Di antara mereka ada sekelompok orang yang tahu benar tentang keakhiratan, namun jumlah mereka sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu karena kesombongan dan motivasi keduniaan. Di antara mereka terdapat pula yang terkesan sedang melakukan ibadah karena Allah, tetapi sesungguhnya tidak demikian [1].
Biografi Al-Harits Al-Muhasibi Sufi yang Demokratis

Pemikiran Tasawuf Al-Muhasibi

Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, wara', dan meneladani Rasulullah. Menurut al-Muhasibi, ketika sudah melakukan hal-hal di atas, maka seseorang akan diberi petunjuk oleh Allah berupa penyatuan antara fiqh dan tasawwuf. Ia akan meneladani Rasulullah dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia.

Beliau sangat berhati-hati dalam menjelaskan batasan-batasan agama, dan tidak mendalami pengertian batin agama yang dapat mengaburkan pengertian lahirnya dan menyebabkan keraguan. Inilah yang mendasarinya untuk memuji sekelompok sufi yang tidak berlebih-lebihan dalam menyelami batin agama. Dalam konteks ini pula beliau menuturkan sebuah hadits Nabi Saw yang berbunyi:
Pikirkanlah makhluk-makhluk Allah dan jangan coba-coba memikirkan Dzat Allah, karena kalian akan tersesat karenanya.
Berdasarkan hadits di atas dan hadits-hadits senada, al-Muhasibi mengatakan bahwa ma'rifat harus ditempuh melalui jalan tasawwuf yang mendasarkan pada Kitab dan Sunnah. Beliau menjelaskan tahapan-tahapan ma'rifat sebagai berikut:
  • Taat. Awal dari kecintaan kepada Allah adalah taat. Kecintaan kepada Allah hanya dapat dibuktikan dengan jalan ketaatan, bukan sekedar pengungkapan kecintaan semata sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Mengekspresikan kecintaan kepada Allah hanya dengan ungkapan-ungkapan, tanpa pengamalan merupakan kepalsuan semata. Di antara implementasi kecintaan kepada Allah adalah memenuhi hati dengan sinar. Kemudian sinar ini melimpah pada lidah dan anggota tubuh yang lain.
  • Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma'rifat selanjutnya.
  • Pada tahap ketiga ini Allah menyingkap khazanah-khazanah keilmuan dan keghaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap di atas. Ia akan menyaksikan berbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah.
  • Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dengan fana' yang menyebabkan baqa' [2].
Sedangkan pandangannya tentang khauf dan raja', menurutnya dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh pada al-Qur'an dan al-Sunnah. Dalam hal ini, beliau mengaitkan kedua sifat itu dengan ibadah dan janji serta ancaman Allah. Untuk itu, beliau menganggap apa yang diungkapkan Ibnu Sina dan Rabi'ah al-Adawiyah sebagai jenis fana' atau kecintaan kepada Allah yang berlebih-lebihan dan keluar dari garis yang telah dijelaskan Islam sendiri serta bertentangan dengan apa yang diyakini para sufi dan kalangan Ahlussunnah [3]. Al-Muhasibi lebih lanjut mengatakan, bahwa al-Qur'an jelas sudah berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan. Ajaran-ajaran al-Qur'an pun sesungguhnya dibangun atas dasar targhib (sugesti) dan tarhib (ancaman).

Raja', dalam pandangan al-Muhasibi, seharusnya melahirkan amal sholeh. Seseorang yang telah melakukan amal sholeh, berhak mengharap pahala dari Allah. Dan inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati dan para sahabat Nabi.



Reff:

  • [1] Ibrahim Hilal, al-Tasawwuf al-Islami baina al-Din wa al-Falsafah, Dar al-Nahdhah al-'Arobiyah, Kairo, 1979, hal. 56.
  • [2] Ibrahim Hilal, al-Tasawwuf al-Islami baina al-Din wa al-Falsafah, hal. 58-59
  • [3] Ungkapan Ibnu Sina yang dimaksud berbunyi: "Zuhud dalam pandangan orang yang tidak arif adalah menukar keduniaan denga keakhiratan. Ibadah menurut pandangan orang yang tidak arif adalah melakukan suatu kebaikan karena pahala yang akan diperolehnya di akhirat kelak". Adapun yang diungkapkan Rabi'ah al-Adawiyyah: "Saya beribadah kepada Allah bukan karena takut masuk neraka, bukan pula karena ingin masuk surga. Namun, saya beribadah kepada-Nya karena rasa cinta dan rindu kepada-Nya".

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon