Monday, March 10, 2014

Apa itu Pendidikan Karakter?

Pendidikan Karakter - Pada kesempatan kali ini, Membumikan Pendidikan akan mengulas mengenai tema besar dalam dunia pendidikan, yaitu Pendidikan Karakter. Seperti kita tahu pendidikan karakter sedang digalakan. Namun kemudian pertanyaan timbul, apakah karakter itu? Karakter ada yang mengartikan sebagai suatu sifat atau kepribadian yang dimiliki seseorang. Karakter juga juga diartikan sebagai kekuatan dan respon terhadap sesuatu. Karakter juga menggambarkan suatu watak dan kebiasaan seseorang.
Apa itu Pendidikan Karakter?

Pengertian Karakter menurut Ahli

Kembali pada karakter, ada beberapa ilmuwan yang menjelaskan berbagai definisi karakter yang dihubungkan dengan moralitas seperti menurut Lawrence Kohlberg dalam bukunya "The Psychology of Moral Development" (1927) menyimpulkan hasil penelitian empiriknya terhadap perkembangan moralitas anak-anak dari berbagai latar belakang agama, yaitu Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, dan Islam, bahwa agama dan institusi agama tidak memiliki pengaruh terhadap perkembangan moral seseorang. Penelitian Kohlberg dikenal dengan teori Kognitif Developmental, yaitu 3 (tiga) tingkatan dan 6 (enam) tahapan perkembangan moral yang menegaskan bahwa pada intinya moralitas mewakili seperangkat pertimbangan dan putusan rasional yang berlaku untuk setiap kebudayaan, yaitu prinsip kesejahteraan dan prinsip keadilan. Menurutnya, prinsip keadilan merupakan komponen pokok dalam proses perkembangan moral yang kemudian diterapkan dalam proses pendidikan moral.

Pendekatan Kohlberg yang sangat empirik tersebut tidak mempertimbangkan potensi suci (Homo Devinans and Homo Religious) yang dimiliki oleh setiap manusia yang sangat berpengaruh dalam proses perkembangan moral dan pembentukan perilaku. Kohlberg lebih menitik beratkan pada adanya interaksi sosial dan perkembangan kognitif seseorang. Ini dapat dimaklumi sebagai tradisi ilmiah Barat yang hanya menumpukan pada konsep empirisme, apa yang terlihat oleh analisis penelitian.


Kemudian ada Sigmund Freud yang memiliki pendapat tentang potensi pada diri manusia yang sangat berpengaruh terhadap karakternya, yaitu: ID, EGO, dan SUPEREGO (es, ich, ueberich). Menurutnya, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psiko-seksual tertentu pada enam tahun pertama dalam kehidupannya. Berdasarkan teorinya tersebut, Freud menyimpulkan bahwa moralitas merupakan sebuah proses penyesuaian antara id, ego dan superego.


Di dalam Islam sendiri, Al-Ghazali memiliki pandangan unik tentang pembentukan karakter manusia. Dalam kitabnya "al-Maqshad al-Asna Syarh Asma Allah al-Husna" (tt). Beliau menyatakan bahwa sumber pembentukan karakter yang baik itu dapat dibangun melalui internalisasi nama-nama Allah (Asma al-Husna) dalam perilaku seseorang. Artinya, untuk membangun karakter yang baik, sejauh kesanggupannya manusia meniru-niru perangai dan sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih, penyayang, pengampun (baca: pemaaf), dan sifat-sifat yang disukai Tuhan, sabar, jujur, taqwa, zuhud, ikhlas beragama, dan sebagainya. Sumber kebaikan manusia terletak pada kebersihan rohaninya dan taqarrub kepada Tuhan. Karena itu, Al-Ghazali tidak hanya mengupas kebersihan badan lahir tetapi juga kebersihan rohani.


Dari beberapa definisi para ahli tentang apa itu karakter, maka dapat disimpulkan karakter manusia meliputi dua hal baik dan buruk. Dan setiap tokoh memiliki karakter yang bisa dijadikan panutan. Mengenai pendidikan karakter yang sedang digalakkan meliputi pembentukan siswa cendekiawan, mandiri dan berhati nurani. Maka kita dapat menelaah apa saja bentuk-bentuk karakter yang dapat kita ambil sebagai pegangan untuk mewujudkan siswa cendekiawan, mandiri dan berhati nurani.

Bentuk-Bentuk Karakter

  • Cendekiawan
Kata "cendekiawan" berasal dari Chanakya, seorang politikus dalam pemerintahan Chandragupta dari Kekaisaran Maurya. Cendekiawan atau intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, menggagas, menyoal, dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan. Oleh karena itu, cendekiawan sering dikaitkan dengan mereka yang lulusan universitas. Namun, Sharif Shaary, seorang dermawan Malaysia terkenal mengatakan bahwa hakikatnya tidak semudah itu. Ia berkata:
Belajar di Universitas bukan jaminan seseorang menjadi cendekiawan,,, seorang cendekiawan adalah pemikir yang senantiasa berpikir dan mengembangkan (serta) menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah seseorang yang mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji, menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umumnya untuk mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang intelektual juga seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani memperjuangkan kebenaran itu, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, terutama sekali kebenaran, kemajuan dan kebebasan untuk rakyat.
  • Mandiri
Mandiri sering juga disebut dengan tidak bergantung, menjadi mandiri adalah sebuah proses. Kita yang sangat bergantung dari bantuan orang lain, maka mulai dari sekarang kita harus mulai belajar menjadi mandiri. Apakah hanya secara financial? Tidak, kita harus bisa mandiri secara utuh. Artinya kita mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi baik masalah pribadi, maupun masalah-masalah umum.
  • Berhati Nurani
Berhati nurani, kita sadar tiap manusia memiliki hati (perasaan), namun dalam pembentukan karakter masih ditambahkan dengan kata nurani yang berarti cahaya/cahaya mata. Dua kata ini umumnya digabung yang berarti hati yang bercahaya atau cahaya mata hati. Di dalam bahasa Indonesia juga dapat berarti "Lubuk Hati yang paling dalam" atau disebut juga sebagai kata hati.

Imam Al-Ghazali mengibaratkan hati nurani sebagai kaca cermin. Bagi orang yang tidak pernah berbuat salah, maka nuraninya bagaikan cermin yang bening. Sehingga sekecil apapun noda di wajah, segera akan tampak di cerminnya. Adapun orang yang kerap melakukan kesalahan-kesalahan kecil, maka nuraninya bagaikan cermin yang terkena debu. Wajahnya masih tampak, namun noda-noda kecil sudah tidak tampak karena kotornya sang cermin. Sedangkan pelaku kejahatan besar maka nuraninya akan gelap, seperti cermin tersiram cat hitam. Mungkin hanya sebagian kecil saja dari cerminnya yang bisa digunakan untuk bercermin. Karenanya seorang penjahat atau pembohong kerap tidak merasa dirinya bersalah, karena cermin hatinya sudah tidak bisa menampakkan gambar apa-apa.
Sebagai refleksi, coba kita ingat jika kita menggunakan uang orangtua kita tanpa izin, maka ada perasaan kurang enak, atau kalau kita berbohong keluar malam untuk sesuatu hal yang tidak penting, coba ingat pula ketika kita berjanji namun kemudian kita mengingkari, ingat pula ketika kita melihat orangtua renta yang menggigil kedinginan karena kehujanan sementara kita membawa payung, jika kita kurang nyaman itulah hati nurani yang berbicara.

Terakhir, nurani dalam diri manusia berfungsi sebagai kotak hitam (BlackBox) untuk merekam segala cerita dan kejadian hidup. Dimensi waktunya mencakup waktu dulu dan waktu yang sedang terjadi sekarang. Selain itu, nurani berfungsi sebagai radar untuk mendeteksi pengaruh baik dan buruk yang datang dari dalam maupun dari luar diri manusia, yang kemudian disesuaikan dengan mengikuti fitrahnya, yaitu menerima kebenaran. Inilah perlunya kita mengasah hati nurani. Semoga kita menjadi manusia-manusia yang unggul, cendekiawan, mandiri, dan berhati nurani.

Demikianlah ulasan mengenai apa itu pendidikan karakter. Semoga membuka wawasan sahabat-sahabat dan juga mudah-mudahan bisa bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon