Wednesday, March 12, 2014

Belajar dengan cara menganalisis dalam Perspektif Qur’an Surat al-Ghasiyyah ayat 17-20

Belajar dengan cara menganalisis dalam Perspektif Qur’an Surat al-Ghasiyyah ayat 17-20 - Pada postingan terdahulu telah dipaparkan tentang Falsafah Dasar Iqra' [disini] dalam surat al-'Alaq ayat 1-5. Maka pada keseempatan kali ini akan dipaparkan juga bagaimana belajar dengan cara menganalisis perspektif QS. al-Ghasiyyah ayat 17-20. Dalam beberapa redaksi, menganalisis bermakna penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antarbagian untuk memperoleh pengertian yg tepat dan pemahaman arti keseluruhan. Dalam pengertian yang lain menganalisis juga mengandung arti penelaahan secara mendalam dan sistematis terhadap suatu pekerjaan, yang dapat memberikan keterangan tentang tugas, tanggung jawab, dan sifat pekerjaan, untuk dapat melaksanakan pekerjaan tersebut dengan baik.

Di bawah ini bagaimana belajar menganalisis menurut QS. al-Ghasiyyah.

QS. al-Ghasiyyah ayat 17-20

Teks ayat
أفلا ينظرون إلى الإبل كيف خلقت
وإلى السمآء كيف رفعت
وإلى الجبال كيف نصبت
وإلى الأرض كيف شطحت

Terjemahan

Tidaklah mereka memperhatikan, bagaimana unta diciptakan,
bagaimana lagit ditinggikan, gunung ditancapkan,
dan bumi dihamparkan?

Tanasub al-Ayat
Belajar dengan cara menganalisis dalam Perspektif Qur’an Surat al-Ghasiyyah ayat 17-20
Pada ayat sebelumnya Allah Swt menjelaskan tentang hari kiamat. Pada hari itu Allah Swt membagi manusia menjadi dua kelompok, yaitu yang selamat dan yang celaka dengan berbagai ciri dan perilaku masing-masing. Keyakinan terhadap kejadian dan keadaan manusia saat itu merupakan instrument dari keyakinan adanya Dzat Pencipta Alam. Karena itu, ayat “Afalaa yandzuruna...” sebagai penegasan yang ditujukan khususnya kepada orang-orang kafir tentang adanya Dzat Pencipta Alam.

Syarah Ayat
Ayat 17-20 surat al-Ghasiyah tersebut menunjukkan bahwa al-Qur’an dalam menyampaikan pesan-pesannya sangat memperhatikan objek yang diajak bicaranya. Dengan perkataan lain, setiap wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad Saw sangat terkait dengan situasi dan kondisi masyarakat, baik dari aspek social, politik, budaya, dan sebagainya. Secara akademis hal ini dapat dibuktikan dengan keharusan menggunakan pendekatan kesejarahan (asbab al-nuzul) dalam memahami isi kandungan al-Qur’an. Jadi, mengapa mereka disuruh memikirkan unta? Karena pada saat turunnya wahyu, bagi orang Arab, unta sudah merupakan bagian dari kehidupan mereka, baik ia sebagai alat transfortasi, sebagai makanan pokok yang paling lezat, maupun sebagai symbol status social. Antara unta, langit, bumi, dan gunung yang disebut dalam ayat tersebut memiliki hubungan yang sama sekali sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Arab saat itu. Ketika mereka tengah melakukan perjalanan dengan menggunakan unta, yang terbentang di hadapan mereka hanyalah lautan padang pasir yang seakan tak bertepi. Sesekali di sebelah kiri dan kanan terlihat gunung-gunung batu yang tandus, dan di atas mereka hanya terbentang langit yang maha luas.

Apakah gerangan yang menjadi perhatian dari binatang unta, langit, gunung, dan bumi yang akan mengantarkan si pemerhati kepada kesimpulan bahwa makhluk-makhluk itu adalah ciptaan Allah? Sekali lagi perlu dikemukakan, bahwa al-Qur’an berkomunikasi dengan manusia sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir mereka. Al-Qur’an tidak hanya berbicara dengan orang Arab, meskipun ia menggunakan bahasa Arab dan diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai orang Arab.

Karena itu, perhatian setiap orang akan berbeda-beda terhadap keempat jenis makhluk tersebut sesuai dengan kadar akalnya dan sejalan pula dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi pada saat orang itu hidup. Unta sebagai binatang khas Arab, tentu hanya dapat dipahami dengan baik oleh orang Arab itu sendiri, yang menurut beberapa hasil penelitian, ia adalah binatang yang memiliki banyak kelebihan. Di antaranya, ia memiliki punggung yang kuat; ia memiliki ketahanan fisik dalam menempuh perjalanan sangat jauh sekalipun; dan ia adalah binatang yang paling bertahan dengan haus dan lapar. Pendek kata, unta, langit, gunung, dan bumi dapat dipikirkan oleh setiap orang sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing melalui pendekatan berbagai ilmu.

Semoga bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon