Friday, March 28, 2014

Mempersoalkan Pendidikan yang Berkarakter di Negara Kita

Mempersoalkan Pendidikan yang Berkarakter - Di Negara kita (Indonesia), pada akhir-akhir ini banyak sekali ditemui kasus kekerasan di dalam ruang lingkup dunia pendidikan, seperti pemukulan yang dilakukan oleh oknum guru terhadap murid ataupun pelecehan terhadap muridnya sendiri baik di tingkat sekolah dasar (SD), menengah (SMP), maupun SMA. Salah satu contoh tindak kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan yang menyeret suatu institusi pendidikan yang mana membawa seorang guru kepala sekolah di salah satu sekolah menengah pertama di salah satu Kabupaten, sungguh terlihat sangat miris. Pasalnya, kasus pemukulan tersebut di bawa ke ranah hukum dan hingga saat ini kasus tersebut belum selesai juga ditangani pihak aparat terkait dalam hal ini pihak kejaksaan negeri.

Menyikapi persoalan tersebut, menurut pendapat kami, seorang pendidik khususnya guru di sekolah adalah model atau panutan atau contoh bagi siswa-siswanya. Seharusnya guru tersebut menjadi contoh yang baik. Sebagaimana kata pepatah, “apabila kita mendidik dengan kekerasan maka anak didik mulai membenci. Apabila mendidik dengan lemah lembut maka anak didik akan mulai menyayangi”. Ketika guru melakukan tindak kekerasan maka tidak jarang muridnya akan menirukan hal yang sama. Karena bagi mereka kekerasan menjadi tindakan yang biasa dilihat dan biasa dilakukan. Dan yang paling memiriskan hati lagi adalah hal ini dapat menjadi kebanggaan bagi si murid atau siswa dalam menirukan dan melakukan tindak kekerasan tersebut.

Menurut kami, pendidikan adalah landasan utama untuk melakukan perubahan besar bagi Indonesia. Hanya dengan pendidikan yang baik lah paradigma, sikap, dan perilaku umat manusia dapat berubah dan tercerahkan. Saya sendiri sangat setuju dengan pendapat Jhon Locke, seorang filsuf yang mengatakan bahwa sejak lahir manusia merupakan sesuatu yang kosong dan dapat diisi dengan pengalaman-pengalaman yang diberikan lewat pendidikan dan pembentukan yang terus menerus. Lalu apa jadinya institusi pendidikan jika pendidikan yang terjadi di sekolah-sekolah para gurunya sering memperagakan dan melakukan tindak kekerasan kepada murid atau siswanya sendiri.

Dari lubuk hati kami yang paling dalam, kami tidak setuju dengan adanya tindak kekerasan seseorang atau beberapa orang guru terhadap para muridnya dengan alasan apapun. Dari kebanyakan yang kami lihat serta ketahui tentang mekanisme atau cara mendidik memang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Walaupun demikian, cara yang dilakukan itu tidak sampai mencelakakan anak didik. Karena jika anak dididik dengan kekerasan maka anak itu akan bertambah nakal, bukannya menjadi anak yang baik.

Begitu jugalah keadaannya ketika suatu tindak kekerasan sudah merambah masuk ke dunia pendidikan atau ke sekolah-sekolah, seperti yang kita ketahui bersama terjadi belakangan ini di berbagai daerah. Di dalam mendidik anak atau siswa harusnya tiap guru memiliki cara dan trik tersendiri. Bukan hanya untuk diterapkan oleh para guru yang notabene sebagai pendidik melainkan guru juga sebagai peran utama yang bisa memerankan semua aspek dalam kehidupan ini agar dapat masuk dan diterima oleh akal pikiran serta menetap dalam jiwa sanubari para siswa. Sehingga meninggalkan kesan yang positif dan baik nantinya tanpa ada menimbulkan efek dendam di dalam hati dan pikiran para siswa. Melainkan dibuat sebagai pembelajaran yang baik dan menjadi pengalaman yang berharga bagi seluruh siswa itu sendiri.

Kami pernah mendengar sebuah resonansi jiwa bagaimana seorang anak itu dididik yang mana hal tersebut menjadikannya kuat dan berkarakter tanpa intervensi kekerasan di dalamnya. Inti ceritanya adalah bagaimana respon seorang ayah yang telah dibohongi oleh anaknya. Namun, ayahnya berkata; “ada sesuatu yang salah dalam membesarkan dan mendidik kamu. Sehingga kamu tidak mampu untuk berkata jujur terhadap ayahmu sendiri”. Kemudian ayahnya pada saat itu berdua pulang bersama anaknya memakai kendaraan mobil, lalu memutuskan keluar dari mobil dan memilih jalan kaki selama 5 jam perjalanan untuk merenungi apa yang salah dalam mendidik anaknya. Sementara anaknya hanya mengendarai mobil di belakang ayahnya dengan pelan-pelan, padahal saat itu hari sudah gelap.

Begitulah seandainya sang ayah itu memberikan hukuman dengan cara kekerasan, maka perenungan itu tidak akan didapatkan. Dan pelajaran mengenai suatu hukuman yang diberikan kepada anak. Apabila anak itu mendapatkan hukuman dengan tindakan kekerasan maka akan menimbulkan suatu penderitaan serta akan melakukan hal yang sama pada generasi selanjutnya. Namun pada resonansi jiwa tersebut menunjukkan bahwa memberikan pelajaran atau didikan yang baik itu terhadap anak bisa dilakukan tanpa dibubuhi kekerasan. Saya pribadi adalah sosok yang anti dengan kekerasan. Karena menurut saya jika dalam hal mendidik seorang guru menggunakan kekerasan terhadap muridnya, maka akan banyak sekali menimbulkan efek negatif bagi guru itu sendiri maupun terhadap para murid.
Dampak kekerasan terhadap siswa itu sendiri bisa tampak dan memiliki dampak yang kurang baik bagi siswa. Hal dampak yang kurang baik itu menyerang fisik, psikologis, dan sosial. Dampak secara fisik mengakibatkan organ-organ tubuh siswa mengalami cacat seperti memar atau pun luka-luka. Secara psikologi merupakan trauma psikologis yang menimbulkan rasa takut, rasa tidak aman atau nyaman, dendam, menurunkan semangat belajar, menurunkan daya konsentrasi, menurunkan kreativitas, hilang inisiatif dan daya tahan (mental) siswa, menurunkan rasa percaya diri, inferior, depresi, stress, dan sebagainya.

Dalam jangka panjang dampak ini bisa terlihat dari penurunan prestasi, perubahan perilaku yang menetap. Sedangkan pada dampak sosialnya adalah siswa yang mengalami tindakan kekerasan tanpa adanya penanggulangan. Dan siswa juga bisa menarik diri dari lingkungan pergaulan, karena ada rasa takut, merasa terancam, merasa tidak bahagia berada di antara teman-temannya. Mereka juga menjadi pendiam, sulit berkomunikasi baik dengan guru maupun sesame temannya. Dan bisa jadi mereka menjadi sulit untuk mempercayai orang lain serta semakin menutup diri dari pergaulan.

Namun, kekerasan dalam pendidikan ini tidak akan bisa hilang dengan begitu saja selain dari keikutsertaan dan adanya kontribusi dari semua pihak. Bisa juga didapat pemahaman tentang dampak yang sedang terjadi dari kejadian itu sendiri. Dan pada dasarnya di sini semua elemen harus ikut merasa bertanggung jawab. Sampai kapan kita akan bertahan untuk selalu diam, dan jika kemungkinan dalam posisi tersebut saudara kita, anak tetangga kita, dan bahkan anak kandung kita sendiri pun bisa mengenali dan mengalami tindakan kekerasan di sekolahnya.


KARENA GURU ADALAH BENTENG TERAKHIR BAGI TEGAKNYA MORAL PANCASILA”. 

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon