Tuesday, March 25, 2014

Penguatan Implementasi Kurikulum 2013

Penguatan Implementasi Kurikulum 2013 - Kesadaran tentang penting dan mulianya pendidikan akan memunculkan sikap optimis pentingnya membenahi performa unsur utama pendidikan, yaitu guru. Terlebih ketika mencermati dan menyadari bahwa tantangan dan persoalan yang kita hadapi hari ini semakin berat, rumit dan kompleks. Terutama dalam rangka mempersiapkan generasi 2045. Generasi saat Indonesia memasuki 100 tahun merdeka dan generasi saat kejayaan Indonesia begitu kuat diharapkan terwujud (baca juga postingan: Harapan untuk Kurikulum Baru).

Mempersiapkan generasi emas Indonesia tahun 2045 berarti dimaknai sebagai mempersiapkan kepemimpinan negeri ini. Pemaknaan ini memiliki konsekuensi bahwa penyiapan dan pembinaan bagi anak-anak usia emas dan usia produktif awal adalah suatu yang mesti diperkuat. Hal ini karena saat kita mencermati struktur penduduk kita pada tahun 2010, terdapat 46 juta anak usia 0 – 9 tahun dan 44 juta anak usia 10 – 19 tahun. Jadi, pada tahun 2045 mereka akan berusia 35 – 44 tahun dan 45 – 55 tahun. Merekalah yang akan memimpin dan mengelola bangsa dan Negara yang kita cintai ini. Mereka harus kita bekali dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap sesuai dengan zamannya. Mereka harus memiliki kemampuan berpikir orde tinggi, kreatif, inovatif, berkepribadian mulia, dan cinta pada tanah air, serta bangga menjadi orang Indonesia, sebagaimana yang digagas dalam kurikulum 2013 (baca juga postingan: Kurikulum "Berpikir" 2013).

Sebagai faktor yang paling menentukan, guru dan tenaga kependidikan mau tidak mau harus ditingkatkan profesionalitasnya. Sangat tepat ketika pemerintah menentukan tema dalam peringatan Hari Guru Nasional tahun 2013 dan HUT ke 68 PGRI ini adalah “Mewujudkan guru yang kreatif dan inspiratif dengan menegakan kode etik untuk penguatan kurikulum 2013”. Hal ini dimaksudkan untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan tersebut. Dengannya diharapkan memacu guru untuk terus mampu mengembangkan kemampuannya secara mandiri. Mampu sebagai inspirasi dan keteladanan, kreatif dan inovatif. Kita semua berharap para guru dan tenaga kependidikan kita menjadi pembelajar dan pendidik sejati.

Guru sebagai ujung tombak (walaupun bukan hanya guru saja yang menentukan kualitas pendidikan karena masih banyak faktor yang lain) [baca juga postingan: Potret Pendidikan: Guru sebagai Terdakwa] pendidikan, memiliki peran yang sangat sentral dalam mewujudkan sekolah dan siswa yang akan menjadi bahan pokok utama terwujudnya generasi emas Indonesia. Guru selalu dituntut untuk menyampaikan materi, juga dituntut untuk menjadi guru yang digugu dan ditiru yang sebenarnya. Guru harus bisa menanamkan moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur, dan lain sebagainya. Member penghargaan kepada yang berprestasi dan hukuman bagi yang melanggar, menumbuhsuburkan nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Inilah yang dimaknai dengan integritas dan keteladanan, suatu nilai yang ideal yang semestinya melekat pada seorang guru.

Anita Lie menguti pernyataan Parker Palmer dalam bukunya “The Courage To Teach” (2003), menjadi guru bukan sekedar melakukan pekerjaan biasa, tetapi juga memenuhi panggilan hati dan melakukan perjalanan spiritual. Sehingga idealnya seorang guru harus selalu mengaitkan profesinya dalam tiga komponen, dirinya dengan anak didik, serta bidang pengetahuan atau keterampilan yang diampunya. Yang pertama, seorang guru harus bisa menemukan dan mengukuhkan identitas serta integritas dirinya. Dia harus terus menggali dirinya, menemukan identitasnya, mengembangkan gaya, metode, dan teknik mendidik terbaiknya untuk menyinarkan aura yang bisa menerangi peserta didiknya.

Kedua, penyatuan diri dengan bidang yang diampunya, “The messenger is the message”. Salah satu indikatornya adalah kecintaan terhadap apa yang diajarkan kepada anak didiknya, termasuk kaidah-kaidah dalam disiplin ilmu. Juga keyakinan, bahwa apa yang diajarkan akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi peserta didik sebagaimana pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang terkandung di dalamnya akan membawa kebaikan bagi sang guru. Ketiga, guru tidak berhenti hanya pada peran “The messenger who delivers the message”, tetapi seorang guru memungkinkan untuk menyapa tiap pribadi peserta didik, menyentuh hati dan perasaan, serta membebaskannya untuk menemukan guru dari dalam diri mereka sendiri. Parker menyebut, “The teacher within”. Implikasi pemahaman ini adalah, bukan hanya membebaskan mereka dari ketidaktahuan, tetapi juga membebaskan mereka dari ketergantungan pada guru di luar dirinya. Guru sejati berperan menyadarkan peserta didik menemukan guru dalam diri mereka sendiri, yang akan membimbing, mengarahkan, dan memimpin menuju kesuksesan dalam hidupnya.

Inilah kiranya apa yang harus ditanamkan dalam diri seorang guru. Wajib bagi guru di hari ini melakukan perenungan betapa kedudukan dan peran seorang guru sangat diharapkan bagi perbaikan negeri tercinta ini. Dyers, J. H (2011), mengatakan dua per tiga faktor penentu keberhasilan seorang manusia adalah pendidikan, sedangkan satu per tiga lainnya adalah faktor genetik (keturunan). 



-------------- Ghusni Darodjatun, M.Pd
(Pendidik di MTsN Margadana Kota Tegal)

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon