Monday, March 17, 2014

Biografi Rabi'ah Al-Adawiyah Peletak Dasar Tasawwuf Cinta

Biografi Rabi'ah Al-Adawiyah Peletak Dasar Tasawwuf Cinta - Nama lengkap Rabi'ah adalah Rabi'ah binti Ismail al-Adawiyah al-Bashriyah al-Qaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H/713 M atau 99 H/717 M di suatu perkampungan dekat kota Bashrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185 H/801 M [1]. Ia dilahirkan sebagai putri keempat dari keluarga yang sangat miskin. Itulah sebabnya, orang tuanya menamakannya Rabi'ah. Kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih kecil.
Biografi Rabi'ah Al-Adawiyah Peletak Dasar Tasawwuf Cinta
Konon pada saat terjadinya bencana perang di Bashrah, ia dilarikan penjahat dan dijual kepada keluarga Atik dari suku Qais Banu Adwah [2]. Dari sini ia dikenal dengan al-Qaisiyah atau al-Adawiyah. Pada keluarga ini ia bekerja keras, namun kemudian dibebaskan karena tuannya melihat cahaya yang memancar di atas kepala Rabi'ah dan menerangi seluruh ruangan rumah pada saat ia sedang beribadah.
Setelah dimerdekakan tuannya, Rabi'ah hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai seorang zahidah dan sufiah. Ia menjalani sisa hidupnya hanya dengan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sebagai kekasihnya. Ia memperbanyak taubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam ketidakcukupan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan oleh orang lain kepadanya. Bahkan dalam doanya, ia tidak meminta hal-hal yang bersifat materi kepada Tuhan.

Ajaran Tasawwuf Cinta Rabi'ah al-Adawiyah

Rabi'ah al-Adawiyah, dalam perkembangan mistisisme dalam Islam tercatat sebagai peletak dasar tasawwuf bedasarkan cinta kepada Allah. Hal ini karena generasi sebelumnya merintis aliran asketisme dalam Islam bersasarkan rasa takut dan raja' (pengharapan kepada Allah). Rabi'ah pula yang pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang berdasarkan permintaan ganti dari Allah. Sikap dan pandangan Rabi'ah tentang cinta dapat dipahami dari kata-katanya, baik yang langsung maupun yang disandarkan kepadanya. Al-Qusyairi meriwayatkan bahwa ketika bermunajat, Rabi'ah menyatakan do'anya: "Tuhanku, akankah Engkau bakar kalbu yang mencintai-Mu oleh api neraka?" Tiba-tiba terdengar suara, "Kami tidak akan melakukan itu, Janganlah engkau berburuk sangka kepada Kami" [3]. Di antara sya'ir cinta Rabi'ah yang paling masyhur adalah:
"Aku mencintai-Mu dengan dua cinta, cinta karena diriku (Hubb al-Hawa) dan karena diri-Mu [Hubb Anta Ahl Lahu]. Cinta karena diriku adalah keadaan senantiasa mengingatkan-Mu. Cinta karena diri-Mu adalah keadaanku mengungkapkan tabir sehingga Engkau kulihat. Baik ini maupun untuk itu, pujian bukanlah bagiku. Bagi-Mu pujian untuk kesemuanya" [4]
Sementara itu, al-Ghazali memberikan ulasan tentang sya'ir Rabi'ah sebagai berikut:
Mungkin yang dimaksud oleh Rabi'ah dengan cinta karena dirinya adalah cinta kepada Allah karena kebaikan dan karunia-Nya di dunia ini. Sedangkan cinta kepada-Nya adalah karena Ia layak dicintai keindahan dan keagungan-Nya yang tersingkap kepadanya. Cinta yang kedua merupakan cinta yang paling luhur dan mendalam serta merupakan kelezatan melihat keindahan Tuhan. Hal ini seperti disabdakan dalam Hadits Qudsi, yaitu: Bagi hamba-hamba-Ku yang saleh Aku menyiapkan apa yang tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terbesit di kalbu manusia [5].
Demikianlah uraian mengenai Biografi Rabi'ah Al-Adawiyah Peletak Dasar Tasawwuf Cinta. Semoga bisa mencerahkan sahabat-sahabat dalam menggali makna sebenarnya dari cinta. Mudah-mudahan dapat bermanfaat.
Reff:
  • [1] Farid al-Sin al-'Arththar, Muslim Sains and Mystics, terj. A. J. Arberry, Routledge dan Kegal Paul, 1979, hal. 39.
  • [2] 'Abd al-Rahman al-Badawi, Syahidat al-Syauq al-Ilahi Rabi'ah al-Adawiyah, al-WakAlat al-Matbu'ah, Kuwait, 1978, hal. 13.
  • [3] Abu Qasim al-Karim al-Qusyairiyyah, Al-Risalah al-Qusyairiyyah fi al-'Ilm al-Tashawwuf, Isa al-Babi al-Halabi, 1334, hal. 328.
  • [4] Abu Bakar Muhammad al-Halabadzi, al-Ta'arruf li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, Isa al-Babi al-Halabi, 1960, hal. 131.
  • [5] Al-Ghazali, Ihya 'Ulum al-Din, Jilid III, Musthafa Bab al-Halab, Kairo, 1334, hal. 266-267.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon