Saturday, April 19, 2014

Embrio Kemunculan dan Berdirinya Pondok Pesantren

Berdirinya Pondok Pesantren - Pada postingan kali ini, situs Membumikan Pendidikan akan mencoba mengulas tentang bagaimana Embrio kemunculan pesantren. Tema ini sangat menarik karena bagaimana pun pesantren adalah model pendidikan dan pembelajaran yang pertama dan tertua di Negara Kesantuan Republik Indonesia ini, dan bisa dibilang sebagai lembaga pendidikan. Oleh karena itu, situs Membumikan Pendidikan sebagai situs pendidikan tertarik untuk membahas mengenai tema ini. Baiklah langsung saja berikut ulasan singkatnya.


Embrio Kemunculan Pondok Pesantren

Bahwa embrio kemunculan pondok pesantren diawali dengan pengajian-pengajian yang diadakan oleh seorang yang dianggap ‘alim di pedesaan-pedesaan di mana santri yang berdatangan adalah masyarakat sekitar yang ingin memperdalam pengetahuan ke-Islaman pada kyai tersebut. Santri sekitar daerah kyai tersebut, biasanya “nglaju” (baca: santri pulang pergi atau tidak menetap). Ia akan datang saat digelar pengajian dan pulang ke rumah masing-masing manakala pengajian selesai.



Namun, lambat laun dalam perkembangan selanjutnya, realitas seperti ini akan bergeser, ketika nama seorang ulama semakin tersohor. Santri yang berdatangan dan hendak berguru kepadanya pun semakin banyak. Tidak hanya sebatas penduduk daerah sekitarnya saja, namun banyak yang datang dari luar daerah tempat tinggal kyai. Mula-mula, santri semacam ini akan tinggal di rumah-rumah penduduk sekitar lingkungan kyai dengan membawa bekal sendiri-sendiri. Ketika jumlahnya mulai tak tertampung lagi, maka pada akhirnya didirikanlah pondok pesantren untuk menampung santri-santri yang datang dari berbagai daerah tersebut.
Embrio Kemunculan dan Berdirinya Pondok Pesantren
Diduga juga, istilah pondok ini berasal dari kata bahasa Arab yaitu “funduk” yang berarti hotel atau tempat penginapan. Memang, pada kenyataannya pondok tidak lebih seperti rumah penginapan. Khusus pondok pesantren yang ada di Jawa, struktur bangunannya mirip dengan padepokan atau “kombongan” sebuah rumah yang terdiri dari beberapa kamar. Masing-masing kamar biasanya dihuni sekitar 30 orang. Dan sampai saat ini, di pondok-pondok tertentu masih bisa dilihat pondok pesantren dengan struktur bangunan seperti ini.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu dan semakin banyaknya santri yang berdatangan dan jauh dari tempat tinggal seorang kyai serta tidak memungkinkan dia “nglaju”, maka pada akhirnya dibuatlah rumah-rumah kecil untuk menginap santri yang datang dari berbagai daerah. Inilah benih-benih yang nantinya disebut dengan pesantren.

Pada masa-masa awal, pesantren sudah memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan pesantren yang paling sederhana hanya mengajarkan cara membaca huruf Arab dan al-Qur’an. Sementara, pesantren yang agak tinggi adalah pesantren yang mengajarkan berbagai kitab fiqih, ilmu akidah, dan kadang-kadang amalan sufi, di samping tata bahasa Arab (nahwu, sharf). Secara umum, tradisi intelektual pesantren baik sekarang maupun waktu itu ditentukan tiga serangkai mata pelajaran yang terdiri atas fiqih menurut madzhab Syafi’i, akidah menurut madzhab Asy’ari, dan amalan-amalan sufi dari karya-karya Imam al-Ghazali dan al-Junaid.



Ciri umum yang dapat diketahui adalah pesantren memiliki kultur khas yang berbeda dengan budaya sekitarnya. Beberapa peneliti menyebut sebagai sebuah sub-kultur yang bersifat “idiosyncratic”. Cara pengajarannya unik. Sang kyai, membacakan manuskrip-manuskrip keagamaan klasik berbahasa Arab (dikenal dengan sebutan “kitab kuning”), sementara para santri mendengarkan sambil memberi catatan (Jawa: ngesahi) pada kitab yang sedang dibaca. Metode ini disebut “bandongan” atau layanan kolektif (collective learning process). Selain itu, para santri juga ditugaskan membaca kitab, sementara kyai atau ustadz yang sudah mumpuni menyimak sambil mengoreksi dan mengevaluasi bacaan serta performance seorang santri. Metode ini dikenal dengan istilah “sorogan” atau layanan individual (individual learning process). Kegiatan belajar mengajar di atas, berlangsung tanpa penjenjangan kelas dan kurikulum yang ketat, dan biasanya dengan memisahkan jenis kelamin (gender) siswa. Perkembangan awal pesantren inilah yang menjadi cikal bakal dan tipologi unik lembaga pesantren yang berkembang hingga saat ini.

Pada abad ke-18, nama pesantren sebagai lembaga pendidikan rakyat menjadi begitu berbobot, terutama berkenan dengan perannya dalam menyebarkan agama Islam. Pada masa itu, berdirinya sebuah pesantren, senantiasa ditandai dengan “perang nilai” antara pesantren yang akan berdiri dengan masyarakat sekitar. Dan cerita senantiasa berakhir dengan kemenangan pihak pesantren. Sehingga pesantren diterima untuk hidup di masyarakat dan kemudian menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya dalam bidang kehidupan moral. Lebih lanjut Supriyadi dalam bukunya "Kyai, Priyayi di Masa Transisi" menambahkan bahwa kehadiran pesantren dengan jumlah santri yang banyak, membuat kehidupan ekonomi masyarakat sekitar menjadi ramai, banyak pedagang kecil lahir. Bisa dibilang bahwa keberadaan sebuah pondok pesantren telah memakmurkan masyarakat di sekitarnya.



Selain itu, pesantren juga memiliki hubungan erat dengan pejabat setempat. Kiprah kyai dalam menumpas para musuh telah menarik perhatian yang cukup besar; baik dari para pejabat maupun para raja waktu itu. Banyak para ulama yang diminta oleh raja-raja sebagai pengajar putra putrinya tentang masalah keagamaan. Dan sebagai bentuk penghormatan pihak keraton kepada para pemimpin pondok ini, pihak keraton menghadiahkan tanah perdikan di wilayah berdirinya pondok-pondok pesantren. Tanah perdikan atau tanah putih adalah tanah yang dibebaskan oleh kerajaan dari tarikan pajak.

Pada waktu itu, para kyai selalu terkenal dengan kesaktian yang dimilikinya, makanya seringkali para raja dulu datang ke tempat para ulama tersebut untuk mohon bantuan, manakala kerajaan mengalami kekacauan. Sebut saja nama Ki Agung Muhammad Besari, pengasuh pondok Tegalsari di daerah Ponorogo. Lantaran kesaktiannya yang menonjol, Sultan Pakubuwono sempat mengunjunginya untuk meminta bantuan saat Kerajaan Kartasura diserang musuh. Begitu juga dengan seorang ulama yang bernama Syaikh Muhyiddin Pamijahan yang mendapat undangan beberapa kali dari raja waktu itu untuk mengajar putra putrinya.

Terpengaruh dengan adat hindu sebelumnya, di mana posisi seorang biksu menempati urutan kasta yang pertama, maka begitu juga dalam kacamata masyarakat Jawa. Orang-orang yang ada di pesantren; baik kyai ataupun santrinya mendapat tempat yang tinggi dalam stratifikasi masyarakat. Bahkan bersamaan dengan itu, terjadi fenomena menarik di masyarakat, dimana para pejabat kerajaan bahkan para rajanya sekalipun tertarik untuk menikahkan putra putrid mereka dengan ulama tersohor atau anaknya. Realitas ini menunjukkan, bahwa ada semacam penggabungan dua strata tertinggi di masyarakat sekaligus. Yang pertama, strata priyayi yang mempunyai kehormatan lantaran masalah duniawi; sedangkan yang kedua adalah strata kyai, mempunyai kehormatan lantaran masalah ukhrawi. Contoh misalnya Kyai Hasan Besari, pendiri pondok Tegalsari Ponorogo yang menjadi menantu dari Pakubuwono II.

Walaupun kehidupan asketis yang luar biasa terjadi dalam dunia pesantren waktu itu, namun demikian tidak bisa dipungkiri peran yang sangat luar biasa pada masa penjajahan. Di mana jarang sekali ada sebuah pondok yang kompromi dengan penjajah. Namun realitasnya justru sebaliknya; pondok pesantren senantiasa menjadi basis perjuangan melawan kaum penjajah. Di daerah Kendal Jawa Tengah misalnya, terkenal dengan pondok yang didirikan oleh kyai Rifa’i Kalisasak yang aktif melawan penjajah.

Mastuhu dalam bukunya yang berjudul "Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren" mengatakan, bahwa pada dekade ini, pondok pesantren juga dikenal sebagai basis gerakan perjuangan melawan penjajah, di pondok inilah sering kali para pemuda yang hendak maju perang berkumpul untuk melakukan “isian dan gemblengan” (baca: mengisi jiwa dan raga seseorang dengan doa-doa agar selamat dari musuh). Kita tak mungkin bisa melupakan kasus perang diponegoro yang melibatkan kyai-kyai terkenal di pedesaan Surakarta; seperti kyai Maja (Baderan-Maja), kyai Suhada Som (Wanareja-Bekonang), kyai Hudawijaya (Pingit Karanganyar), kyai Saidiman (Gempol-Mulur), kyai Muqayyat (Pengkol-Delanggu) dan kyai-kyai lainnya.

Begitu mengakarnya peran ulama/kyai dalam benak masyarakat Indonesia-Jawa khususnya, pada akhirnya memunculkan mitos-mitos baru adanya tokoh-tokoh ulama yang berada di balik perjuangan pahlawan kemerdekaan. Demikianlah ulasan mengenai embrio kemunculan dan berdirinya pondok pesantren. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan sahabat-sahabat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon