Thursday, April 24, 2014

Ironi Dunia Pendidikan Indonesia

Ironi Dunia Pendidikan Indonesia - Salah satu tujuan Indonesia merdeka adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan merupakan sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Sudah sejak lama pemerintah Indonesia mencanangkan gerakan wajib belajar sembilan tahun. Dengan adanya wajib belajar sembilan tahun diharapkan masyarakat Indonesia berpendidikan minimal sampai sekolah tingkat menengah pertama atau SMP. Bahkan saat ini pemerintah pun menggratiskan biaya pendidikan bagi anak-anak SD sampai SMP di seluruh Indonesia. Namun program pendidikan gratis bagi seluruh anak-anak Indonesia nyatanya belum mampu meningkatkan IPM Negara Indonesia yang masuk dalam deretan terbawah. Berbagai program pemerintah digulirkan untuk menggenjot agar IPM bisa naik dan setara dengan Negara lain. Bermunculannya PKBM, perubahan dan penyempurnaan kurikulum untuk pendidikan di Indonesia, itu semua dilakukan pemerintah agar pendidikan Indonesia tidak begitu tertinggal jauh dengan pendidikan Negara-negara lain serta untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing dengan Negara-negara lain menuju pasar bebas 2015.

Namun terkadang praktek di lapangan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ujian nasional yang diharapkan mampu meningkatkan prestasi dan kemampuan lulusan peserta didik banyak diwarnai kecurangan yang sudah menjadi rahasia umum (baca juga postingan: UN dan Runtuhnya Pendidikan Karakter). Mulai adanya kebocoran soal ujian, kunci jawaban yang bisa beredar pada siswa, bahkan sampai pada kecurangan yang melibatkan pihak sekolah. Bukan tanpa alasan jika pihak sekolah melakukan ini semua. Sekolah tidak mau menanggung resiko apabila ada siswanya yang tidak lulus maka berdampak pada penurunan jumlah peserta didik baru yang mendaftar pada sekolah tersebut, yang berimbas pada berkurangnya dana BOS yang diterima oleh sekolah tersebut. Miris rasanya saat melihat anak sekolah yang nongkrong, kongkow-kongkow bersama temannya pada saat menjelang ujian nasional. Ketika mereka ditanya kenapa tidak belajar, dengan santainya mereka menjawab “buat apa belajar toh nanti juga kita akan dapat kunci jawaban”. Mereka begitu santai bukan karena kesiapan menghadapi ujian nasional tapi karena sudah tahu pasti mendapat kunci jawaban.
Ironi Dunia Pendidikan Indonesia
Bermunculannya PKBM yang bak jamur di musim penghujan juga belum mampu memberikan kontribusi yang lebih baik untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Banyak PKBM yang didirikan hanya untuk mendapatkan dana dari pemerintah. Para pendiri PKBM berusaha menjaring siswa sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kuota yang ditetapkan pemerintah agar PKBM tersebut mendapatkan dana dari pemerintah. Program kejar paket yang seharusnya diikuti oleh orang-orang yang mau melakukan penyetaraan pendidikan justru diikuti oleh anak-anak usia sekolah yang seharusnya belajar di sekolah-sekolah regular.

Bahkan yang lebih ironis banyak anak-anak yang belajar di PKBM yang seharusnya ketika belajar di sekolah regular masih kelas satu atau dua SMP/SMA, dapat mengikuti ujian untuk mendapatkan ijazah. Sungguh sangat disayangkan apabila praktek seperti ini terjadi secara terus menerus dan seolah-olah para pengelola PKBM menutup mata terhadap hal ini. Mereka seolah tidak peduli dengan kualitas lulusan yang penting para siswa mau membayar maka ijazah kesetaraan akan didapatkan. Bukan hanya itu saja, penyelenggaraan ujian penyetaraan pun banyak diwarnai perjokian tidak kalah dengan ujian masuk perguruan tinggi. Sungguh berbagai macam cara dihalalkan oleh para pihak yang terlibat di dunia pendidikan (baca juga postingan: Wajah Kriminalisasi Sistem Pendidikan). Semoga pemerintah tidak menutup mata terhadap realita yang terjadi di masyarakat. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Ayo kita mulai dari sekarang, mulai dari yang terkecil dan memulai dengan bismillah, InyaAllah pendidikan Indonesia akan berkualitas apabila diawali dengan niat yang baik, tulus ikhlas mendidik generasi muda harapan bangsa. 




---------- Titin Sugiarti
(Guru Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bulakamba)

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon