Sunday, April 27, 2014

Membumikan Pendidikan Anak Yang Layak

Membumikan Pendidikan Anak Yang Layak - Problem pendidikan bangsa memang sangat kompleks. Di strata pendidikan paling tinggi misalnya, pergerakkan mahasiswa kian masif sedangkan khazanah intelektualnya pun mulai menurun. Di strata pendiikan usia pubertas kenakalan remaja menjadi tradisi para pelajar. Sedangkan anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar terus dibayang-bayangi efek globalisasi yang dapat menggiring ke lubang yang sama (baca: kenakalan remaja). Karena itulah pendidikan anak yang layak perlu diciptakan agar kecerdasan nasional dapat tercapai.

Di sisi lain guru yang menurut al-Ghazali merupakan pekerjaan paling mulia, justru semakin tidak jelas orientasinya. Wajar, posisi guru memang dilematis, mau memperjuangkan murid justru mereka sudah “ditemboki” hukum dan orang tuanya. Alhasil, ketika guru menggunakan didikan keras walaupun mendidik (spanking), justru mereka harus berurusan dengan aparat hukum.


Sedangkan ketika guru mau patuh dan tunduk terhadap titah pemerintah, agaknya naïf karena tidak sepenuhnya pemerintah mendukung langkah guru. Sertifikasi hanya sebatas iming-iming, sedangkan guru yang sudah lansia dan sudah puluhan tahun mengajar harus ikhlas dengan gaji yang tidak seberapa. Mungkin guru seperti ini yang dapat disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Karena memang mengajar orientasinya bukan materi. Inilah mengapa al-Ghazali memuliakannya. Namun kondisi guru sudah berbeda, mereka juga membutuhkan sesuap nasi untuk keluarganya.


Menanggapi problem tersebut, seharusnya ada langkah revitalisasi pendidikan yang sesungguhnya, bukan karena unsur proyek semata. Pergerakkan dan khazanah intelektual di kampus harus dibangun kembali, karena di tangan merekalah kunci control Negara berada. Di jenajng menengah (SMP, SMA atau sederajat) harus dapat menanggalkan predikat kenakalan. Sedangkan tingkat dasar harus dibekali dengan sempurna untuk menghadapi tantangan yang lebih kuat.

Namun, langkah antisipasi tersebut dirasa kurang jika tidak memperhatikan usia emas (golden age). Banyak yang berpendapat bahwa usia emas berkisar usia 0-7 tahun. Di tahun itulah usia anak sangat efektif untuk membangun karakter. Analogi mudahnya, bambu usia muda pasti bisa dibentuk karena masih relative lunak. Lain lagi jika bambu sudah tua maka akan sangat kuat dan sulit untuk sekedar dibengkokkan.

Perhatian terhadap pendidikan usia dini harus dioptimalkan. Harus ada penyadaran sampai ke pedalaman desa, karena pendidikan usia dini hanya sampai di kalangan menengah ke atas. Sedangkan di kalangan bawah, agaknya sulit untuk memaksimalkan pendidikan usia dini. Karena di samping alasan biaya juga tidak ada waktu luang untuk antar jemput anak. Sehingga, anak dimasukkan ke institusi pendidikan di usia 7 tahun, dimana anak sudah dapat pulang pergi sekolah sendiri.
Membumikan Pendidikan Anak Yang Layak
Selama ini, pendidikan usia emas yang sudah membumi adalah pendidikan taman kanak-kanak (TK). Namun seiring berjalannya waktu pendidikan anak usia dini (PAUD) dirasa perlu, karena diusia emas itulah nilai kepekaan berpikir anak sangat tajam.


Tentu tidak lupa dengan Husein Tabataba’i yang mampu hafal dan paham redaksi dan isi al-Qur’an sejak usia dini. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa ada potensi besar di jiwa anak usia emas. Oleh karena itu, pendidikan anak yang layak harus dioptimalkan dengan baik.

Optimalisasi Pendidikan Anak Usia Dini

Ada banyak alasan mengapa pendidikan anak harus layak. Moral para pelajar yang mulai tak terkendali, posisi pendidik yang penuh dilematis, peran pemerintah yang kurang tanggap dengan problem pendidikan, dan semua keluh-kesah serta potret buram pendidikan bangsa cukup untuk menjadi alasan mengapa harus ada pendidikan karakter. Sebab, jika dikaji secara mendalam, pendidikan karakter butuh langkah strategis baru untuk mencapai kedaulatan.

Karena problematika pendidikan anak sangat multidimensional, maka perbaikan harus segera digalakkan. Pendidikan yang layak bukan hanya sebatas gedung mewah dan fasilitas memadai, di sisi lain guru yang kompeten dan professional juga menjaga perkara yang urgen. Kemudian, orang tua dan pemerintah menjadi pendorong kinerja institusi pendidikan agar output menjadi generasi emas. Hanya saja, proses kegiatan belajar mengajar menjadi titik terpenting untuk menanamkan karakter kritis, inovatif, kreatif, dan mandiri.

Diakui, memang selama ini sekolah lebih identik dengan nilai dan angka. Sehingga persaingan sangat genting untuk menjaga nama almamater tetap harum. Alhasil, anak didik dipaksa dan didikte untuk memenuhi target.

Nah, kelemahan itulah yang harus dihindari oleh PAUD. Sesuai dengan usia, metode pendidikan yang layak adalah belajar sambil bermain (learning by doing), bukan bermain sambil belajar. Sebab, itu akan merangsang otak anak dan mereka menjadi cerdas dan kritis. Menurut Seto Mulyadi atau yang kerap disapa Kak Seto, bahwa pendidikan yang layak yaitu pendidikan yang memberi kenyamanan untuk beraktivitas.


Mungkin itulah kenapa usia dini dinamakan dengan usia emas. Sebab, di samping rangsangan otak anak dalam puncaknya, karakter anak juga mudah untuk dibentuk. Sangat disayangkan jika emas-emas bangsa disia-siakan. “Harta Karun” harus diperhatikan secara khusus oleh masyarakat terlebih pemerintah. Bagaimana caranya agar PAUD membumi sampai ke pedalaman, karena itu menentukan masa depan bangsa.

Penciptaan pendidikan yang layak bagi anak juga harus dilakukan di luar sekolah. Setidaknya dapat menghindarkan anak dari pengaruh negative televise. Sebab, belakangan ini tayangan TV dirasa kurang mendidik bagi sang anak. Banyak sinetron atau iklan yang berbau kriminalitas dan amoral yang sifatnya multitafsir, artinya tayangan TV lebih dapat dicerna oleh orang dewasa.

Terpenting, elemen yang terkait untuk menunjang pendidikan anak harus menciptakan pendidikan yang layak. Khazanah keilmuan juga tidak hanya difokuskan ke hal teknologi, pendidikan agama dan moral juga penting. Demikian, semoga bermanfaat bagi sahabat-sahabat Membumikan Pendidikan.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon