Saturday, May 03, 2014

Belajar Membaca dan Memikirkan Alam Semesta Pespektif Al-Quran

Belajar Membaca dan Memikirkan Alam Semesta Pespektif Al-Quran - Membaca merupakan kebutuhan pokok bagi siapa saja yang ingin mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dalam Islam, membaca merupakan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw yang tertuang dalam surat al-‘Alaq. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan umatnya untuk selalu membaca. Banyak literatur-literatur yang menerangkan bahwa makna membaca pada wahyu pertama tersebut memiliki banyak makna, bisa menelaah, menyampaikan, meneliti, dan sebagainya. Dan pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan sedikit tentang “Belajar Membaca dan Memikirkan Alam Semesta Perspektif Al-Quran”, tepatnya surat Ali Imran ayat 190-191.

Baca juga: Kewajiban Belajar Mengajar Perspektif QS. Al-'Alaq
Belajar Membaca dan Memikirkan Alam Semesta Pespektif Al-Quran
Teks Ayat


Terjemahan

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, menjadi bukti adanya kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal sempurna. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia. Maka lindungilah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran: 190-191)

Analisis Kebahasaan QS. Ali Imran: 190-191

Al-Khalq ialah penciptaan tanpa contoh yang sama sekali baru. Berbeda dengan “al-Ja’lu”, ialah menjadikan dalam arti memfungsikan sesuatu yang sudah ada bahan dasarnya. Lain juga dengan “al-Fithr”, ialah menciptakan sesuatu yang bersifat bahan dasar atau potensi yang diciptakan sejak zaman azali. Ketiga terminology Quran tersebut dapat ditemukan dalam al-Quran.

Al-Samawat, secara etimologi (bahasa) diartikan sesuatu yang ada di atas. Karena kata “al-Samawat” berbentuk kata benda yang menunjukkan agregat jamak (plural), maka kata itu berarti segala sesuatu yang ada di atas. Dalam konsepsi kosmologis, langit itu segenap benda ruang angkasa dalam sistem universe. Matahari, sejumlah planet, bulan, bintang, meteor, dan gugusan galaksi yang jaraknya dari bumi jutaan tahun cahaya, semuanya merupakan benda-benda langit. 

Al-Ardl, ialah tenpat tumbuih dan berkembang biaknya makhluk hidup. Seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan “al-Albab”, bentuk jamak dari “al-Lubb” yang secara etimologis berarti saripati. Yang dimaksudkannya adalah saripati hati atau akal sempurna. Lain halnya dengan hati yang masih kasar atau belum halus disebut “al-Qalbu”. Dinamai demikian, karena keadaan hati sering tidak menetap (litaqallubihi). Istilah Quran yang menunjukkan kepada arti hati, selain dari kedua istilah itu adalah “al-Fu’ad”, yakni hati yang merupakan pancaran dari Tuhan, sehingga apa yang terpikirkan dan terasakan tidak pernah salah (ma kadza al-fu’adu ma ra’a).

Syarh Ayat

Langit dan bumi ini adalah ciptaan Allah yang paling besar dan paling tampak pada pandangan mata jika dibandingkan dengan makhluk manusia (baca: QS. Ghafir ayat 57). Demikian juga, petunjuk adanya kebesaran dan kekuasaan Allah sebagai Dzat Pencipta dari proses penciptaan dan keberadaan kedua makhluk tersebut. Sangat jelas dan terang bagi orang yang secara maksimal telah mendayagunakan akalnya. Salah satu kebesaran dan keajaiban langit yang sampai sekarang masih merupakan misteri dan teka-teki di kalangan para ilmuwan adalah jumlah bintang-bintang yang dari dulu sampai kapanpun tetap sama, yaitu sama-sama tak terhitung banyaknya dan entah dimana posisinya. Ada bintang yang terlihat berkelip-kelip, yang jika ditempuh oleh manusia memerlukan waktu jutaan tahun cahaya.

Apabila manusia menggunakan potensi akalnya dengan baik, sebetulnya tidak perlu terlalu jauh memikirkan langit dan bumi yang sudah dapat dipastikan tidak akan menemukan jawaban ilmiahnya. Tetapi marilah kita perhatikan sehelai daun pada sebuah pohon. Pada garis tengahnya terdapat urat besar. Dari urat besar itu bercabang urat-urat kecil yang menyebar ke bagian samping kiri dan kanan daun. Lalu setiap urat-urat kecil itu mengembangkan cabang-cabangnya yang bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang. Tidak terlihat, tetapi jelas ada dan di dalamnya ada kehidupan alam daun-daunan yang tumbuh secara teratur. Siapakah yang mengaturnya? Dialah Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, Allah SWT. Apabila makhluk terakhir ini dibandingkan dengan langit dan bumi, maka itu seakan tidak ada sehingga nyaris selalu luput dari perhatian manusia.

Sebelum ayat ini (QS. Ali Imran ayat 190-191), Allah SWT telah menjelaskannya dalam surat Al-Baqarah ayat 164, yang kurang lebih artinya:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan".

Antara kedua penjelasan dalam Ali Imran 190-191 dan Al-Baqarah 164, terdapat dua perbedaan susunan redaksi. Pertama, Ali Imran 191, ayat ditutup dengan "li ulil albab". Sedangkan penutup Al-Baqarah 164 adalah "li qaumin ya'qiluun". Kedua, fenomena alam yang ditunjukkan sebagai dalil adanya Allah yang menciptakan pada Ali Imran 190 jumlahnya hanya tiga, yaitu langit, bumi, dan silih bergantinya malam dan siang. Sedangkan pada Al-Baqarah 164 jumlahnya ada lima, yaitu selain yang tiga tadi disebutkan ditambah lagi dengan kapal yang berlayar di tengah lautan, air hujan sebagai sumber kehidupan di bumi, dan pengisaran angin dan awan.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon