Saturday, May 31, 2014

Demokrasi Wajah Modernisasi Politik Islam

Demokrasi Wajah Modernisasi Politik Islam - Zaman modern dimulai munculnya renaissance (masa pencerahan) dari belenggu gereja yang pada saat itu sangat membelenggu umat kristiani. Dan ada juga literatur yang menyatakan bahwa zaman modern dimulai sejak zaman Nappolanneo memasuki Mesir yang berdampak pada pembaharuan pemikiran Islam.

Di Indonesia tokoh pembaharuan dalam pemikiran Islam diantaranya adalah Nurkholis Madjid yang menggasas konsep tajdid yang berusaha mengkikis kejumudan dalam berpikir oleh pemahaman agama yang hanya sebatas pemahaman tekstual belaka. Konsep tajdid tersebut pada awalnya ditentang oleh kalangan masyarakat, namun beriringnya waktu kini mulai dapat diterima oleh publik dalam meningkatkan gairah pengembangan pemikiran Islam.
Demokrasi Wajah Modernisasi Politik Islam
Pergolakan politik yang terjadi di beberapa negara Islam, seperti Mesir, Suriah dan Palestina sebenarnya dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah. Mediasi oleh pihak ketiga seharusnya dapat berfungsi secara efektif selama pihak tersebut tidak ikut campur dalam konflik internal mereka. Bahwa kedaulatan politik Islam ada di tangan syuro' (musyawarah) seperti halnya yang dicontohkan oleh Khulafaau Rosyidiin.


Konsep Demokrasi di Indonesia

Konsep syuro' tersebut memiliki kesamaan dengan konsep mufakat untuk maslahat yang dibangun oleh pendiri bangsa Indonesia. Bahwa dalam pemilihan pemimpin di negeri ini ditempuh dengan jalan pemilihan melalui pemilu untuk setiap 5 tahun kalinya sebagai bentuk penyegaran kepemimpinan yang akan selalu hadir dalam mencapai Indonesia yang lebih baik.

Demokrasi yang memberikan mandat kekuasaannya di tangan rakyat, yang berawal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat menjadi sebuah solusi modernis dalam politik Islam. Bahwa pada hakikatnya rakyat memegang penuh kedaulatan, namun dalam tahap aplikasinya melalui proses keterwakilan dalam bentuk demokrasi modern melalui sistem pemilu. Sehingga keterpilihan para anggota legislatif menjadi pundak aspirasi masyarakat dalam menampung kebutuhan dan kepentingan rakyat.

Melihat fenomena aksi politik Islam di Indonesia pada Pemilu 2014 menuai hasil yang membahagiakan, dimana suara komulatif partai politik Islam mencapai 32%. Hasil ini menggambarkan bahwa pemilihan politik Islam masih menjadi pilihan masyarakat Indonesia yang dominan menganut agama Islam. Tentunya hal ini akan dipertaruhkan kembali ketika figur dari partai-partai politik Islam harus bertarung dipemilihan presiden, dimana figur-figur dari partai nasionalis kini masih menjadi wacana prioritas pilihan masyarakat.

Demikian, semoga tulisan yang singkat ini bisa membuka wawasan kita dalam mengimplementasikan demokrasi di Negara tercinta kita.



------------ Haliemah Noor Q
(Alumni Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon