Thursday, May 01, 2014

Demokratisasi Pendidikan Islam Menuju Terbentuknya Masyarakat Madani Indonesia

Demokratisasi Pendidikan Islam Menuju Terbentuknya Masyarakat Madani Indonesia - Masyarakat madani pada prinsipnya memiliki makna ganda, yaitu masyarakat yang beriman, berpengetahuan, demokrasi, toleransi, memiliki potensi, aspirasi, motivasi dan hak asasi. Namun yang paling dominan adalah masyarakat yang demokrasi. Masyarakat madani juga merupakan masyarakat yang religius [1]. Maka pendidikan dalam hal ini Pendidikan Islam harus mampu membangun masyarakat demokratis, beradab, religius ilahiyah, masyarakat yang menghargai hak asasi manusia, menghargai perbedaan paham, pluralitas, memiliki partisipasi sosial yang tinggi dengan menjunjung nlai-nilai etika dan moral sehingga dapat terwujud masyarakat madani indonesia yang religius dan demokratis. 

Pendidikan Islam seperti madrasah, pesantren, dan lembaga-lembaga Islam lainnya, dalam proses belajar mengajarnya dapat melaksanakan demokratisasi pendidikan di kelas sehingga mampu membawa membawa peserta didik untuk dapat menghargai kemampuan dan kemajemukan teman dan guru atau menghargai perbedaan-perbedaan yang ada. Demokratisasi pendidikan juga dapat ditempuh dengan mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan dunia sekarang yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik dan masyarakat (pragmatisme), tanpa harus melupakan hari kemarin [2]. Sebagai contoh jika peserta didik kebanyakan berlatar belakang masyarkat petani, maka orangtuanya cenderung menuntut hasil nyata dari pendidikan anaknya agar mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian, dan seterusnya.

Demokratisasi Pendidikan Islam

Demokratisasi Pendidikan Islam Menuju Terbentuknya Masyarakat Madani IndonesiaFreire menyarankan upaya untuk mencapai demokratisasi pendidikan yang berwawasan adalah dengan menciptakan kebebasan intelektual antara pendidik dan peserta didik dalam proses belajar mengajar di kelas. Proses belajar harus terbuka, penuh dialog dan penuh tanggung jawab antara pendidik dan peserta didik dalam bentuk egaliter dan kesetaraan [3].

Pendidikan dan Pendidikan Islam selama ini terkesan menganut asas subject matter oriented yang membebani peserta didik dengan informasi kognitif dan motorik yang kadang-kadang kurang relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan psikologi peserta didik. Dengan pendidikan yang demokratisasi tentu akan terjadi kesetaraan atau sederajat dalam kebersamaan antara peserta didik dengan pendidik. Pengajaran tidak harus top down namun harus diimbangi dengan bottom up sehingga tidak ada lagi pemaksaan kehendak pendidik, tetapi yang akan terjadi adalah tawar menawar kedua belah pihak dalam menentukan tujuan, materi, media, proses belajar mengajar dan evaluasi hasil belajarnya [4].

Demokratisasi pendidikan merupakan pendidikan hati nurani, artinya pendidikan yang lebih menghargai potensi manusia dikatakan lebih humanis beradab dan sesuai dengan cita-cita masyarakat madani (baca juga postingan: Fondasi Humanisme dalam Pendidikan). Tilaar, menyatakan bahwa tuntutan terbentuknya masyarakat madani Indonesia, mengandung berbagai unsur, yaitu: (1) kebebasan intelektual, (2) kesempatan untuk bersaing (3) mengembangkan kepatuhan spiritual dan moral, (4) pendidikan yang mengakui untuk berbeda dan (5) percaya kepaada kemampuan manusia [5].

Demokratisi pendidikan di dalam masyarakat madani adalah bagaimana proses pendidikan Islam dapat menyiapkan peserta didik agar terbiasa bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat secara bertanggung jawab dan turut bertanggung jawab, terbiasa mendengar dengan baik dan menghargai pendapat dan pandangan orang lain menumbuhkan keberanian moral yang tinggi, dan mempelajari kehidupan masyarakat.





Reff:

[1] Husaini Usman, Menuju Masyarakat Madani Melalui Demokrasi Pendidikan, From http:www.depdiknas.go.id/Jurnal/28/menuju-masyarakat-madani-melalui.htm, tgl 11-9-2001.
[2] Shannon, Gagasan Baru Dalam Pendidikan, (Jakarta: Mutiara, 1978), hlm. 32.
[3] P. Freire, Pendidikan Sebagai Praktik Pembebasan, (Jakarta: Gramedia, 1984), hlm. 24.
[4] Taroepratjeka, “Pengembangan, Pendidikan Tinggi dalam Pembangunan Jangka Panjang Kedua I” makalah seminar Temu alumni IKIP Yogyakarta, 18 Mei 1996, hlm. 3.
[5] H.A.R Tilaar, Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia, Strategi Reformasi Pendidikan Nasional, (Bandung: Remaja Rosdakarya. 1999). hlm. 172-174.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon