Friday, May 30, 2014

Dinamika Politik Islam di Era Globalisasi

Dinamika Politik Islam di Era Globalisasi - Maraknya fenomena demokrasi di belahan dunia, tepatnya di negara-negara Islam mengalami degradasi serta mengalami kondisi yang miris dan pelik. Mesir yang telah mengalami revolusi pemerintahan dan konstitusi secara referendum, namun harus mengulang sejarah pada tahun 2013 dengan terjadinya mosi tidak percaya kepada pemerintah Mursi oleh seluruh masyarakat Mesir yang diakhiri dengan penumbangan pemerintahan Mursi oleh militer.

Tuntutan revolusi kembali digulirkan melihat prestasi Pemerintahan Mursi dalam mengelola perekonomian dalam negeri yang dianggap gagal oleh masyarakat Mesir. Sebuah realitas yang sangat ironis mengingat sisi keterpilihan Mursi adalah hasil dari proses pemilu. Sebuah penodaan terhadap khithoh demokrasi oleh tindak kekerasan dari pihak militer yang mem-back up proses penggulingan pemerintah Mursi. 

Gejolak internal politik juga terjadi di Suriah yang diprediksikan mengalami kemandulan dalam menemukan titik temu dari beberapa pihak yang terkait. Walaupun hal ini telah dicoba diadakan mediasi oleh Iran maupun Amerika. Seiring dengan hal tersebut, konflik horizontal antara Israel dan Palestina tidak kunjung berhenti dalam perebutan kekuasaan pengelolaan tanah yang ada di Palestina. Walaupun telah terjadi perjanjian di antara keduanya, namun lagi-lagi masih ada beberapa indikasi pelanggaran dari pihak Israel dengan memperluas daerah pemukiman Yahudi.

Pergolakan politik di negara-negara timur tengah selalu menjadi berita hangat dengan benturan politis yang sering kali berujung pada anarkisme dan kelumpuhan total dari semua bidang dikarenakan oleh mosi tidak percaya dari masyarakat yang diselesaikan dengan cara referendum. Menjadi sebuah analisa tersendiri mengingat timur tengah adalah penganut Islam yang memiliki konsep suri tauladan Rasulullah. Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW bukan hanya diutus sebagai Rasulullah, beliau juga berkiprah dibidang politik dan pemerintahan. Semenjak Rasulullah melaksanakan hijrah ke madinah, beliau pertama kali mengadakan kegiatan politiknya dengan pendirian masjid nabawi di Yatsrib. Masjid ini dijadikan tenpat ibadah dan central kegiatan sosial dan politik umat Islam pada masa itu. Sehingga kemakmuran masjid lebih dirasakan oleh segenap umat Islam.


Dinamika Politik Masa Rasulullah Saw

Rasulullah juga disebut sebagai bapak politik Islam karena Nabi Muhammad SAW lah yang telah meletakkan batu pertama tata kelola pemerintahan yang berdasarkan syari'at Islam. Beliau menjabat kepala pemerintahan di Madinah yang anggota masyarakatnya adalah kaum muslim dan non muslim. Namun dalam pemerintahan beliau tidak mendiskreditkan masyarakat non muslim serta bersikap bijaksana dalam memimpin. Dalam firman Allah Q.S. Ibrahim: 4 yang artinya, ''kami tidak mengutus seorang Rosulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah akan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana". 

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah diutus disesuaikan dengan zamannya. Nabi Muhammad SAW sebagai akhirul ambiya memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat kompleks, baik dari segi penyempurnaan akhlak, tata kelola ekonomi, politik dan pemerintahan. Politik Rasulullah SAW adalah pola politik yang berangkat dari hati dalam membentuk sebuah strategi yang mengatur manusia tanpa ada unsur tendensi ataupun kerabat dekat dalam perekrutan pegawai dan pemerintahan. Hal ini jauh berbeda dengan realitas kini, bahwa politik diasumsikan sebagai jalan pembenaran dalam pencapaian tujuan dengan menghalalkan berbagai cara.

Berapa banyak fakta pelaksanaan pilkada dan pemilu di beberapa daerah harus diwarnai aksi kecurangan dari beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab. Bahkan, harus dikotori dengan tindakan permainan hukum di MK serta bentrokan massa antara kelompok rival peserta pilkada dan caleg pada rekapitulasi suara hasil pemilu.

Setelah wafatnya Rasulullah, terjadi kekosongan kepemimpinan pemerintahan dan ummat. Para sahabat Rasulullah SAW langsung berinisiatif untuk mengadakan musyawarah dengan kaum Anshor dan Muhajirin. Setelah para sahabat bermusyawarah dalam pemutusan penerus estafeta kepemimpinan Islam, hingga  menghasilkan nama Abu Bakar As-Shidiq sebagai figur terpilih oleh forum yang layak untuk meneruskan kepemimpinan umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW. walaupun ditulis dalam sejarah masih adanya sebagian kecil umat Islam yang berkeyakinan kepemimpinan umat Islam adalah dengan sistem keturunan, yakni pada diri Ali bin Abu Thalib sebagai nasab yang terdekat dengan Rasulullah
Dinamika Politik Islam di Era Globalisasi

Pergolakan politik Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW diwarnai dengan gerakan pemurtadan dan mogok zakat oleh mereka yang lemah iman dan mereka yang memiliki riwayat masuknya ke dalam Islam hanya untuk mendapatkan jaminan keamanan dan kesejahteraan dari kepemimpinan Rasulullah SAW. Namun pergolakan tersebut berhasil diselesaikan oleh Abu Bakar As-Shidiq dan jajaran pemerintahannya. Pemerintahan Khulafaau Rosyidin yang dipimpin oleh Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khothob, Usman bin Affan, Ali bin Abi Tholib diakhiri sejarah anarki, bahkan aksi pembunuhan kepada kholifah Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib.

Suatu hal yang tragis ketika tinta emas politik Islam yang telah digagas oleh Rasulullah harus dinodai atas dasar nafsu keserakahan kepada kekuasaan, sehingga integrasi umat Islam mengalami penurunan. Hal ini dibuktikan dengan masa dinasti Bani Umayyah yang maraknya dengan pertumpahan darah dan Bani Abbasiyah yang kemerosotan dalam kepemimpinan yang tidak elektabilitas serta kompeten dalam kepemimpinan pemerintahannya.

Demikian uraian tentang dinamika politik Islam di era Globalisasi semoga bisa menjadi cermin dalam memilih pemimpin ke depan dan bisa bijak dalam melangkah.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon