Thursday, May 22, 2014

Jenis Penyakit Psikoseksual

Jenis Penyakit Psikoseksual - Fenomena di TK JIS menghentakkan dunia pendidikan. Pendidikan anak usia dini tercoreng gara-gara orang yang seharusnya menyiapkan anak didik agar kelak menjadi anak bangsa yang berguna kenyataannya malah dibekali pengalaman perilaku yang menjijikan seperti binatang. Berita pedofilia di TK JIS ramai dibicarakan orang, muncul berita yang sama yaitu pelecehan seksual di Sumedang oleh EJ 62 tahun dibekuk polisi karena melakukan pelecehan seksual kepada 11 bocah laki-laki dan perempuan berusia 5-7 tahun. Disusul kemudian di Sukabumi yang mencapai 110 lebih.
Jenis Penyakit Psikoseksual

Kasus-kasus pelecehan seksual pada anak tidak lepas dari fenomena pedofilia. Walaupun tidak semua pelecehan seksual pada anak dilakukan oleh penderita pedofilia. Ada 10 jenis penyakit psikoseksual.

Macam-macam Penyakit Psikoseksual

Pertama, PEDOFILIA. Kelainan seksual ini ditandai dengan kesulitan menyalurkan seksnya dengan orang dewasa kemudian penyalurkan melibatkan seksual dengan anak-anak, umumnya di bawah usia pra-remaja. Perlakuan awal dengan merayu, memegang kemaluan, kemudian meningkat mengulum kemaluan anak atau sebaliknya dan puncaknya adalah sodomi. Kedua, EKSIBISIONISME. Kelainan seksual yang akan memperoleh kenikmatan dengan kesukaan memperlihatkan organ kelamin pada orang yang dikenal, kepada orang lain yang tidak ingin melihatnya. Kemudian meningkat melakukan “autoeroticism” (praktek seksual merangsang diri sendiri) dengan khayalan, dengan gerakan sambil memperlihatkannya kepada orang lain. Ketiga, FROTTEURISME. Kelainan seksual akan memperoleh kenikmatan dengan menggesek-gesekkan organ kelaminya kepada orang lain yang tidak menginginkannya. Perlakuan awal dengan menempelkan kemaluannya kepada orang lain kemudian meningkat menggesek-gesekkan. Perlakuan ini sering dilakukan pada saat sibuk, di tempat ramai seperti bus atau di tempat yang sesak. Keempat, FETISISME. Kelainan seksual yang mencapai kenikmatan seksual dengan menggunakan objek bukan manusia, paling sering pakaian dalam lawan jenis, menempelkan kemaluannya pada pakaian dalam lawan jenis kemudian meningkat memakainya kemudian menggesek-gesekkannya. Kelima, SEKSUAL MASOKISME. Kelainan seksual yang akan mencapai kenikmatan dari rasa sakit. Gangguan seksual ini melibatkan kesenangan dan kegembiraan yang diperoleh dari rasa sakit pada diri sendiri, baik yang berasal dari orang lain atau dengan diri sendiri. Gangguan ini biasanya terjadi sejak kanak-kanak atau menginjak remaja yang sudah mulai kronis. 

Keenam, SEKSUAL SADIS. Kelainan seksual yang akan mencapai kepuasan seksual dengan menyakiti orang lain. Seksual sadisme bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan, baik heteroseksual maupun hubungan homoseksual. Ketujuh, TRANSVESTIC FETISISME. Kelainan seksual ini ditandai dengan kepuasan mengenakan pakaian perempuan oleh laki-laki heteroseksual. Kelainan seksual dimulai pada saat remaja secara diam-diam (tanpa ingin diketahui oleh orang lain), dan kemudian saat beranjak dewasa mulai berpakaian perempuan lengkap dan di depan umum. Kedelapan, VOYEURISM. Kelainan seksual pada laki-laki yang akan mencapai kenikmatan seksual dengan menyaksikan atau mengintip perempuan yang telanjang, membuka baju, atau melakukan seks. Ketika menyaksikan atau mengintip berfantasi melakukan hubungan seks dengan korbannya, tetapi ia tidak benar-benar melakukan itu jarang ada kontak fisik. Kesembilan, BESTIALITAS. Kelainan seksual yang mencapai kenikmatan seksual dengan hewan. Hewan yang jadi objek kepuasan seksual adalah hewan piaraan seperti anjing, domba, atau kambing. Perlakuan awal dengan mengelus-elus hewan, menciumi dan kemudian kontak fisik. Kesepuluh, NECROPHILLA. Kelainan yang menggambarkan perasaan atau perilaku seksual dengan melibatkan mayat. Perlakuan kelainan seksual ini mendapatkan kepuasan seksual dengan mayat yang dilakukan dengan cara meraba-raba organ tertentu, memeluk dengan kegairahan seksual.

Demikianlah uraian tentang jenis-jenis penyait psikoseksual. Kewaspadaan bersama terhadap kejahatan seksual perlu dijalin bersama antara orang tua, sekolah, masyarakat, dan dinas-dinas terkait. Semoga bisa bermanfaat.



----------- Abdul Chamid, S.Pd, Kons
(Ketua Laboratorium ABKIN Kabupaten Tegal)

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon