Tuesday, May 13, 2014

Keilmuan Pesantren sebagai Solusi Globalisasi dan Modernisasi

Keilmuan Pesantren sebagai Solusi Globalisasi dan Modernisasi - Pada postingan yang lalu, ketika manusia diliputi oleh sikap kapital dan  hedonis. Dimana segala sesuatu hanya bisa diukur dengan ukuran positivis dan materialis. Maka, pada era inilah manusia dirindukan oleh cinta kasih dan rasa saying. Manusia rindu dengan siraman spiritualitas, masyarakat rindu dengan aspek-aspek religious untuk sekedar mendapatkan ketenangan batin dalam dunia yang telah porak-poranda ini. Jika masyarakat modern telah mengalami keterlemparan sisi-sisi kemanusiaannya dan mulai rindu dengan nilai-nilai spiritualitasnya.

Di sisi yang lain, masyarakat tradisional atau masyarakat dalam negeri berkembang justru melupakan sisi keduniawian. Malahan di dunia pesantren, mereka lebih asyik bercanda dengan Tuhan-nya dengan berkhusuk ria memperbanyak dzikir; sementara dalam hal keduniawian benar-benar menyedihkan. Lebih jelas tentang dua titik yang berbeda ini, berikut adalah analisis perbandingan yang dikemukakan oleh H. Tirtosudiro, bahwa sebuah studi yang lebih empiric di Negara yang maju dan Negara yang sedang berkembang, mempunyai dua sisi yang cukup menarik.

Pertama, pada Negara-negara maju yang didominasi oleh Negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika, perjuangan dan kemakmuran telah dimulai sejak masa silam hingga masa sekarang. Mereka melesat dan tampil sebagai Negara-negara kaya berlimpah ruah dengan segala macam kebutuhan fisik. Namun, kekayaan dan supremasi ekonomi tidak melahirkan ketenangan hidup warganegara maupun memberikan kemapangan kebijakan politiknya. Sebaliknya, kelebihan material telah menimbulkan banyak persengketaan dan peperangan, serta imperialisme terselubung berwujud menciptakan kebergantungan ekonomi Negara lain. Di samping itu, dengan kemapanan ekonominya, Negara maju bisa mendikte Negara berkembang atau bahkan Negara miskin guna memperjuangkan kepentingan polotiknya. Penderitaan, ketidakberdayaan dan malapetaka muncul karena terlalu men-Tuhan-kan materi. Bukan sebaliknya, menciptakan kesejahteraan dan keadilan bersama.

Kedua, pada Negara yang sedang berkembang seperti di kawasan Asia dan Afrika, perjuangan guna menegakkan dan memelihara hubungan manusia dan Tuhan-nya (fungsi spiritualitas) telah hidup dan terpelihara sejak masa silam. Kehidupan ruhani telah melupakan dan menjadikan keterlenaan akan pentingnya mencari kehidupan duniawi sebagai amanat Tuhan Yang Maha Esa. Akibatnya, kehidupan mereka menjadi dijajah, ditaklukkan dan kehilangan eksistensinya, sebagai bangsa yang berdaulat. Dan kini, imperialisme hadir tersamar dalam bentuk kebergantungan ekonomi dan teknologi terhadap Negara yang terlebih dahulu mengenyamnya (H. Ahmad Tirtosudiro, 1997: xxii).

Mengacu dua titik pandang ini, maka dapat disimpulkan bahwa masing-masing titik yang radikal hanya menghasilkan kelemahan bagi umat manusia. Kemudian, pada satu titik di mana Negara maju dengan rasionalisme yang berlebihan, ternyata membawa dampak terhadap kegersangan spiritualitas dan kehancuran moralitas. Begitu juga keterlenaan terhadap masalah ukhrawi membuat kita terpuruk dan digilas oleh zaman.
Keilmuan Pesantren sebagai Solusi Globalisasi dan Modernisasi
Maka, jalan yang bisa ditempuh untuk menjawab dan memilih kedua realitas tersebut adalah dengan mengambil posisi tengah. Nah, kalau realitas tersebut kita coba bawa ke dalam dunia pesantren, seharusnya nilai-nilai pendidikan dalam pondok pesantren harus dilandasi semangat pembangunan dan juga dilandasi penyadaran nilai-nilai spiritualitas. Keseimbangan antara keduanya dan berada pada posisi yang di tengah-tengah, merupakan langkah solutif yang maju.

Lebih jauh, sebuah pondok pesantren seharusnya mampu mengembangkan kurikulum tidak hanya pada pendalaman keagamaan belaka. Lebih dari itu, pondok pesantren harus membekali para santrinya berbagai macam keterampilan untuk menyongsong Negara yang akan datang. Bukankah Tuhan sendiri telah berfirman dalam QS. Al-Qassas ayat 77,
Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan jangan kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Dalil tersebut, masih dikuatkan oleh sabda Nabi Saw, “Bukanlah orang yang bagus dari kamu, orang-orang yang meninggalkan duniamu untuk mencari akhiratmu, begitu juga sebaliknya, tidaklah dikatakan bagus, orang yang meninggalkan perkara-perkara akhirat untuk kepentingan dunia. Sehingga kamu mampu menyeimbangkan keduanya”.

Dengan demikian, maka makna ibadah tidak semata-mata dipahami sebatas ritualitas belaka, namun juga mencari kehidupan duniawi ke arah yang lebih manusiawi, sejahtera, adil, dan merata. Berjuang di dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun industry yang kokoh dan menegakkan pilar-pilar ekonomi rakyat, juga merupakan aktivitas menegakkan panji-panji spiritualitas dalam pembangunan.

Pada akhirnya, prinsip mencetak kader yang “Tafaqquh fi al-Diin wa al-Dunya” adalah pilihan yang terbaik untuk dijadikan landasan filosofi semangat pembelajaran di pondok pesantren.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon