Friday, May 16, 2014

Menciptakan Lingkungan Belajar yang Efektif

Menciptakan Lingkungan Belajar yang Efektif - Setiap sesuatu memiliki ruh atau esensi. Ruh sebuah lembaga pendidikan adalah kualitas proses belajar mengajar yang diciptakan. Sebuah upaya membangun lembaga pendidikan yang efektif, apapun bentuknya, menjadi tak bermakna apabila tidak dibarengi dengan upaya menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi setiap siswa. Dalam dua decade terakhir, wacana tentang lingkungan belajar yang ideal dapat ditemukan dalam diskursus “Sekolah yang Efektif dan Sekolah yang Berkembang” (effectiveness school and school improvement). Ide tentang sekolah yang efektif sebagian muncul sebagai reaksi dan tantangan terhadap tuduhan bahwa madrasah atau sekolah dan guru bukanlah merupakan factor penentu keberhasilan siswa.

Jurnal-jurnal penelitian pendidikan tahun 60-an dan pertengahan 70-an secara umum memuat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan kognitif dan prestasi siswa lebih bergantung kepada kemampuan intelektual bawaan setiap individu siswa dan latar belakang keluarga ketimbang guru dan sekolah tempat mereka belajar. Tetapi studi ulang mendalam terhadap jurnal-jurnal tersebut menunjukkan hal sebaliknya. Hasil-hasil penelitian itu, walaupun didukung oleh studi psikologis dan sosiologis yang kuat, tidaklah berdasarkan data-data empiric dan dalam tataran tertentu sering disalahpahami. Reynolds (1985: 2) mengemukakan, meskipun data-data yang diperoleh tidak mendukung penjelasan-penjelasan tentang peran penting keluarga secara ekskulusif, dan meskipun terdapat bukti-bukti yang bertentangan, hasil-hasil studi dilaporkan sedemikian rupa sehingga tampak sesuai dengan paradigma yang sedang berlaku [1].

Dalam redaksi yang lain Schmuck (1984), memaparkan bahwa variable-variabel yang menggambarkan perbedaan-perbedaan dalam kebijakan sekolah, struktur, norma-norma, proses pendidikan yang terjadi, lingkungan yang memengaruhi, dan program yang dilaksanakan tidak terungkap dalam hasil penelitian tahun 60-an dan pertengahan 70-an tersebut, yang sesungguhnya justru sangat signifikan mempengaruhi prestasi siswa.

Menciptakan Lingkungan Belajar yang EfektifBeberapa hasil penelitian tahun 80-an dan 90-an, sebaliknya. Membuktikan bahwa kondisi-kondisi internal tertentu sebuah lembaga pendidikan benar-benar mempengaruhi prestasi akademik siswa. Kepercayaan (trust) dan hubungan yang sehat (healthy relationship) dalam lingkungan sekolah, misalnya, berpengaruh besar terhadap prestasi belajar siswa. Sikap guru seperti menunjukkan perhatian, rasa hormat, dan kasih saying kepada siswa, mudah ditemui dan terlibat secara total dalam proses pembelajaran, kesiapan dan kemampuan menyampaikan materi pelajaran merupakan aspek-aspek yang menentukan kesuksesan dan kegagalan siswa. Tak kalah pentingnya, kepala sekolah juga member pengaruh yang tidak langsung tapi menentukan terhadap efektivitas sekolah dan keberhasilan siswa melalui visi, misi, tujuan, dan strategi yang dikembangkan dalam menjalankan roda aktivitas sekolah. Keadilan yang dirasakan siswa dan kepuasan yang mereka rasakan terhadap sekolah juga berpengaruh terhadap prestasi akademik mereka [2].

Secara intrinsic, ide tentang sekolah yang efektif adalah juga merupakan respon terhadap harapan agar sekolah menjadi tempat dimana semua siswa dapat belajar dengan baik. Jauh sebelumnya, John Vaizey (1962) menyerukan pentingnya “persamaan kesempatan” (equality of opportunity) dalam pendidikan. Vaizey melihat bahwa dunia kehilangan tidak sedikit orang-orang yang memiliki kecerdasan tinggi hanya karena system pendidikan yang tidak egaliter dan berpihak kepada sebagian siswa tertentu saja. Ia menolak asumsi bahwa setiap anak dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda (children are born intellectually sheep or goats). Sebaliknya, ia dengan tegas mendukung pandangan bahwa semua anak memiliki tingkat kemampuan intelektual bawaan yang sama, dan bahwa kemampuan lebih merupakan hasil pencarian ketimbang anugerah. Seorang anak bisa menjadi lebih atau kurang cerdas di samping tergantung pada kondisi keluarga dimana ia pertama kali mengawali hidupnya, juga pada lingkungan social dan pendidikan yang ia alami. Di sinilah sebuah system pendidikan, seperti madrasah atau sekolah, diharapkan dapan memainkan peranan penting dalam pembentukan intelektualitas, emosi, dan spiritualitas anak. Sekolah atau madrasah seharusnya menjadi wadah pemupukan kecerdasan setiap siswa, dan di atas segalanya, menjamin agar setiap siswa mendapat kesempatan belajar yang sama dan layak.

Gagasan-gagasan tentang sekolah yang efektif adalah dalam rangka menjawab tantangan di atas. Murphy menegaskan, kontribusi utama dan fundamental ide sekolah yang efektif adalah adanya komitmen agar sekolah menjadi tempat yang kondusif dimana semua anak dapat belajar dengan baik. Perspektif sejarah bahwa sekolah dapat diidentifikasikan secara pasti dari status sosio-ekonomi orang tua siswa ditolak secara tegas. Sejauh ini, termasuk di Negeri ini (Indonesia), pandangan bahwa prestasi seorang anak sangat ditentukan oleh latar belakang sosio-ekonomi orang tuanya masih mengakar cukup kuat. Keadaan ini sedikit banyak menjadi alas an sebuah lembaga pendidikan ketika tidak mampu berbuat banyak terhadap siswa yang berasal dari golongan masyarakat ekonomi lemah.

Sekolah yang efektif, sebaliknya, mengukur keberhasilan siswa tidak dalam kondisi absolute di luar jangkauan sekolah (seperti latar belakang ekonomi atau pendidikan orang tua) tapi dalam hal nilai tambah (value added) yang bisa diberikan sekolah bagi pengembangan kemampuan siswa. Filosofi bahwa keberhasilan akademis yang rendah dan perilaku ganjil siswa secara pasti merupakan masalah individu anak atau keluarganya tidak lagi bisa diterima. Latar belakang ekonomi siswa yang lemah atau “kemampuan bawaan” siswa yang minim tidak lagi relevan dijadikan alasan prestasi siswa yang rendah. Justru di sinilah peran sesungguhnya sebuah lembaga pendidikan, yaitu untuk membuat mereka menjadi manusia cerdas dan baik. Pernyataan ini tentunya tidak bermaksud menafikan peranan kemampuan intrinsic individu siswa serta pengaruh orang tua dala membentuk kualitas moral dan intelektual anak. Justru orang tua merupakan mitra terpenting sekolah dalam membentuk moralitas dan kemampuan intelektual anak. Penelitian-penelitian pendidikan seperti yang dilakukan oleh Cavanagh (2000), Coleman (1998), dan Creemers (1996) menunjukkan bahwa orang tua atau keluarga dan individu siswa merupakan aspek-aspek penting dari keberhasilan siswa, dan karenanya perlu dibangun kerjasama antara guru, orang tua, dan siswa.

Demikian ulasan tentang bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang efektif. Mudah-mudahan bisa membuat kita semua mengerti bahwa anak sesungguhnya memiliki kemampuan bukan sama sekali tidak memiliki kemampuan. Tugas kita sebagai guru dan orang tualah yang harus menumbuh kembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka agar mereka bisa nyaman dan semangat dalam belajar. Semoga bermanfaat.



Reff: 
[1] Reynolds, D. (1985). Introduction: Ten Years On – A Decade of Research and Activity in School Effective Research Riviewed. In D. Reynolds (ed) “Studying School Effectiveness”. London: The Falmers Press.
[2] Aroga, M.S. (1999). La Verneda-snt Marti: A School Where People Dare to Dream. “Harvard Educational Review”, 69 (3), 320-335.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon