Monday, May 12, 2014

Mengkaji Keilmuan dalam Ranah Modern

Mengkaji Keilmuan dalam Ranah Modern - Arus globalisasi dan modernisasi telah menyerang ke segala lini kehidupan umat manusia. Nalar berpikir modernisasi yang muncul pada sekitar abad lima belasan, kini telah mencapai puncaknya. Pada wiliyah pengetahuan, August Comte, seorang sosiolog kenamaan telah menggung-agungkan apa yang disebut positivis dan menganggapnya sebagai puncak dari perkembangan akal budi, setelah melampaui dua tahap sebelumnya yaitu tahap teologis dan metafisis.

Di dalam dunia pengetahuan, imbas yang terbesar adalah munculnya penjaga otoritas kebenaran bernama “ilmiah”. Layaknya Tuhan, segala sesuatu akan diakui kebenarannya sebelum memperoleh legitimasi cap “ilmiah”. Begitu juga dengan era rasionalisme yang telah banyak menggeser pemegang otoritas kebenaran yang pada mulanya dipegang oleh para tokoh keagamaan kepada professor-profesor di dunia kampus.


Keilmuan dalam Ranah Modern

Era modern adalah era teknologi; era modern adalah era mesin; era modern adalah efisiensi; serta era modern adalah era percepatan. Semua ini berujung pada birokrasi yang rigide dengan asas hubungan organic yang luar biasa. Pada era-era inilah, dunia semakin mengecil dan segalanya dilampaui dengan serba cepat. Tidak ada lagi jarak, tidak ada ruang dan tidak juga waktu. Apa yang telah dihasilkan oleh kemajuan teknologi seperti, mesin, telepon, televise, internet, dan computer, benar-benar telah banyak mengubah cara pandang manusia terhadap dunia.
Mengkaji Keilmuan dalam Ranah Modern
Namun demikian, modernisasi ternyata mempunyai kepincangan yang teramat fatal. Terbukti, dengan perkawinannya antara teknologi dengan kapitalisme, merupakan salah satu bagian dari gelegar modernitas. Dan realitas ini tentunya, telah memberikan keseronokan kepada segelintir manusia. Watak yang rakus dan tak bermoral serta hanya men-Tuhan-kan materi di atas segala-galanya, ternyata hanya melahirkan masyarakat hedonistik di bawah selubung Negara kesejahteraan. Ditambah lagi dengan percepatan segala informasi melalui media, baik itu media elektronik maupun cetak atau pun yang lainnya. Pun dengan merambahnya dunia internet dalam aktivitas keseharian kita, tentu kita tak mungkin mampu menahan laju gerak budaya yang masuk negeri ini. Pada akhirnya, mengutip perkataan Herbert Marcuse, “buah dari sistem ini adalah memudarnya dimensi bagian dalam dari pikiran pupusnya kekuatan kritis rasio tertunduk pada fakta kehidupan demi memenuhi dorongan hedonistik” (A. Syafi’i Ma’arif, 1992).

Di dunia “entertainment”, yang berlandaskan pada ideology capital, dimana uang merupakan segala-galanya, menjadi kendala yang cukup besar bagi penjagaan moralitas generasi muda bangsa. Atas nama seni, lekukan-lekukan tubuh perempuan dipamerkan, kekerasan diumbar di media-media televisi; dan akhirnya, menembus batas memasuki setiap rumah mengancam moralitas anak-anak kecil. Tontonan kekerasan yang disajikan setiap hari, membekas dalam memori alam bawah sadar generasi muda bangsa, dan siap-siap akan disantapnya.

Adalah Antony Giddens, seorang ilmuan social berkebangsaan Inggris, pencetus gagasan “jalan ketiga” (third way) yang terkenal itu, dalam sebuah bukunya, “Beyone Left and Right”, mengungkap mengenai persoalan ketidakpastian (uncertainy) sebagai kenyataan yang dihadapi manusia pada masa sekarang. Ketidakpastian ini, yang ia sebut dengan “manufactured uncertainy”, merupakan resiko yang memang dihadapi oleh manusia sebagai konsekuensi dari pilihan sadarnya sendiri menciptakan dan mengembangkan teknologi. Ketidakpastian itu kemudian diibaratkan dengan “Juggernaut” (truk besar) yang meluncur tanpa kendali, dimana tidak ada satu pun manusia yang dapat meloloskan diri. Manusia, kata Giddens, hanya bisa pasrah dan mungkin berdo’a memohon keselamatan dalam menghadapi ketidakpastian itu.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon