Friday, May 23, 2014

Menumbuhkan Harapan yang Tinggi dalam Belajar

Menumbuhkan Harapan yang Tinggi dalam Belajar - Penulis memulai tulisan ini dengan mengutip sedikit hadits qudsi yang kurang lebih mempunyai arti “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku”. Seseorang akan sukses jika ia merasa yakin bahwa ia akan sukses. Demikian juga, orang akan mengalami kegagalan jika ia menyangka bahwa ia akan gagal. Troisi (1983) mengatakan, “Expectation of success breeds success and expectation of failure breeds failure”. Kita tentu ingat buku terkenal “You can if you think you can”-nya Peale itu. Dalam buku tersebut menunjukkan betapa besar kekuatan sebuah keyakinan. Dalam proses belajar, bahwa keyakinan atau harapan sangat membantu siswa berkembang bahkan melampaui apa yang biasa mereka capai.
Menumbuhkan Harapan yang Tinggi dalam Belajar

Harapan atau keyakinan tidak harus datang dari diri sendiri tapi juga dari orang lain. Dari harapan-harapan, doa-doa dan keyakinan orang lain baik orang tua, teman, guru atau siapa pun. Ini menunjukkan bahwa secara psikologis seseorang akan melakukan apa yang orang lain harapkan untuk ia lakukan. Demikianlah, ekspektasi (harapan) seorang guru secara positif berpengaruh terhadap kesuksesan siswanya.

Implikasi Ekspektasi Terhadap Prestasi Belajar

Dalam penelitian yang lain (Reynolds dan Teddlie [2000]) tentang pengaruh ekspektasi atau harapan dalam berbagai artikel psikologis, ditemukan sebuah kesimpulan yang konsisten, bahwa harapan yang tinggi serta usaha mengkomunikasikan harapan-harapan tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Lebih jauh, dalam penelitian-penelitian tersebut menganjurkan, dalam mengkomunikasikan harapan yang tinggi tersebut sebaiknya diberikan kepada siswa dalam bentuk tindakan-tindakan praktis dan penguatan-penguatan lisan. Contoh sederhananya, seorang guru perlu mengatakan, “Saya yakin kamu bisa” kepada siswa untuk member semangat dan menumbuhkan keyakinannya bahwa ia bisa jika belajar dengan sungguh-sungguh.

Di samping itu, dalam teori tingkat aspirasi (Aspiration Level Theory), bahwa tingkat aspirasi atau ekspektasi yang diberikan kepada siswa memiliki pengaruh yang kuat terhadap kemampuan bersaing siswa dalam meraih kesempatan memasuki lembaga pendidikan lanjutan yang lebih bermutu. Semakin tinggi tingkat aspirasi yang diberikan guru, semakin tinggi pula daya saing siswa dan semakin besar kesempatan mereka memasuki lembaga pendidikan lanjutan yang lebih bermutu.

Hanya saja, perlu dijelaskan bagaimana ekspektasi atau aspirasi tersebut mempengaruhi dan, dalam kadar tertentu mengubah cara guru mengajar dan menghadapi siswa. Ekspektasi yang terlalu tinggi secara negatif mempengaruhi performance siswa, dan malah tidak memotivasi mereka. Tetapi, sebuah ekspektasi yang seimbang dan rasional, memberikan motivasi positif bagi siswa untuk melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

Karenanya, tantangannya adalah bagaimana sekolah menemukan keseimbangan menguak potensi siswa tanpa secara berlebihan memacu mereka sehingga mereka justru merasa khawatir mengalami kegagalan. Dengan menetapkan standar sebuah prestasi yang bisa mereka capai sesuai dengan kemampuan mereka, kemungkinan besar semua siswa dapat meraih kesuksesan dan sekaligus pengakuan terhadap prestasi mereka. Dalam konteks ini, siswa lebih memungkinkan mengalami dorongan untuk menunjukkan yang terbaik yang bisa mereka lakukan, untuk menumbuhkan cinta terhadap pelajaran yang diberikan di sekolah dan juga menumbuhkan rasa senang terhadap sekolah.

Sangat menarik untuk dicermati di sini pendekatan transenden yang digunakan Kesseler (2000: 117-118) untuk meningkatkan prestasi siswa. Dengan mengadopsi skema “Spiritual-Urges”-nya, ia menulis “transendensi ialah upaya melintasi batas-batas kemampuan manusiawi”. Ia kemudian menganjurkan, ketimbang menekankan ekspektasi guru yang notabene dari luar diri siswa, adalah lebih baik mengakui dan mendukung keinginan-keinginan siswa sendiri untuk mengambil langkah yang bisa melampaui prestasi yang biasa mereka capai.

Contoh baik untuk ini adalah apa yang dilakukan oleh A’a Gym di Pesantren Darut Tauhid. Di pesantren ini para santri didorong untuk berkreasi mengembangkan kemampuan masing-masing dengan suatu keyakinan bahwa “Anda akan berhasil selama Anda percaya bahwa Anda akan berhasil, dan yakin bahwa Allah akan membantu”. Demikianlah uraian singkat bagaimana menumbuhkan keyakinan kepada anak didik atau siswa agar semangat belajar dan terus belajar.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon