Wednesday, May 14, 2014

Proses Pembentukan Sikap melalui Pola Modeling

Proses Pembentukan Sikap melalui Pola Modeling - Pada postingan yang lalu telah sedikit dipaparkan tentang bagaimana pembentukan sikap melalui pola pembiasaan (baca juga: Pembentukan Sikap melalui Pola Pembiasaan) dengan dimunculkannya dua percobaan yang dilakukan oleh dua orang psikolog ternama yakni Watson dan Skinner. Selain pola tersebut, ada juga pembentukan sikap dengan pola modeling. Apa itu pembentukan sikap melalui pola modeling? Yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses peniruan atau mencontoh.

Salah satu karakteristik anak didik yang sedang berkembang adalah keinginannya untuk melakukan peniruan (imitasi). Hal yang ditiru itu adalah perilaku-perilaku yang diperagakkan atau didemonstrasikan oleh orang yang menjadi idolanya. Prinsip peniruan ini yang dimaksud dengan "Modeling". Modeling adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya.
Proses Pembentukan Sikap melalui Pola Modeling

Pemodelan biasanya dimulai dari perasaan kagum. Anak kagum dengan kecerdasan orang lain, misalnya terhadap guru yang dianggapnya bisa melakukan segala sesuatu yang tidak bisa dilakukannya. Secara perlahan, perasaan kagum akan mempengaruhi emosinya dan secara perlahan itu pula anak akan meniru perilaku yang dilakukan oleh idolanya itu. Sebagai contoh, jika idolanya (guru atau siapa saja) menunjukkan perilaku tertentu terhadap suatu objek, maka anak akan cenderung berperilaku sama seperti apa yang dilakukan oleh idolanya itu. Jika idolanya itu begitu "telaten" terhadap tanaman yang ada di halaman sekolah, misalnya, maka anak itu juga akan memperlakukan seperti apa yang dilakukan idolanya terhadap tanaman tersebut; apabila idolanya selalu berpakaian rapi dan bersih, maka anak itu juga berperilaku seperti itu.

Proses penanaman sikap anak terhadap suatu objek melalui proses modeling pada mulanya dilakukan secara mencontoh. Namun, anak perlu diberi pemahaman mengapa hal itu dilakukan. Misalnya, guru perlu menjelaskan mengapa kita harus telaten terhadap tanaman; atau mengapa kita harus berpakaian bersih. Hal ini diperlukan agar sikap tertentu yang muncul benar-benar didasari oleh suatu keyakinan kebenaran sebagai suatu sistem nilai.

Dengan demikian, dalam dunia pendidikan, seorang guru haruslah berperilaku yang normatif dan tidak asal. Karena hal ini juga termasuk dalam kompetensi kepribadian seorang pendidik. Anak akan sangat gampang dan mudah meniru apa-apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Sehingga akan sangat riskan ketika seorang pendidik melakukan perbuatan negatif di depan anak didiknya. Semoga dengan berjalannya kurikulum yang sekarang ini, kurikulum yang menekankan karakter, akan menumbuhkan sikap yang bijak kepada para pendidik di negeri ini. Sehingga anak didik akan dengan mudah untuk menyerap ilmu karena ditopang oleh teoritik berikut praktisnya.


Advertisement

1 komentar:

Mau jadi pramugari/staff airlines? Let's join us! http://sekolahpramugari.sch.id

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon