Friday, May 16, 2014

Resistensi Pembinaan Fitrah Manusia

Resistensi Pembinaan Fitrah Manusia - Al-Qur’an adalah kitab suci yang dapat menjadi petunjuk bagi jiwa yang kalut. Dapat member penerangan terhadap masyarakat penyembah berhala [1]. Sebagai sumber ajaran agama Islam, al-Qur’an berhubungan secara totalitas dengan kehidupan manusia [2]. Al-Qur’an menawarkan kehidupan seimbang, integral yang terwujud dalam pola tingkah laku taqwa. Karena pola tinglah laku taqwa adalah tingkatan tertinggi yang menunjukkan kepribadian manusia yang benar-benar utuh dan integral, yang semua unsure-unsur positif terserap masuk dalam dirinya [3].

Secara tegas al-Qur’an menegaskan sebagai petunjuk bagi manusia yang terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat [4]. Menurut Abdurrahman Dahlan [5], al-Qur’an merupakan kitab petunjuk terbaik, yang paling lurus, sempurna, agung, adil, dan sesuai dengan segala hal dan kehidupan manusia untuk kepentingannya di dunia dan akhirat dalam memberikan petunjuk kepada manusia, al-Qur’an memperlihatkan keterangan yang memuaskan dan rasional disertai dengan perangsangan emosi dan kesan insan, dan al-Qur’an mendidik emosi sejalan dengan fitrah, sederhana dan tidak membebani, di samping langsung mengetuk pintu akal dan hati secara serempak [6].

Pembinaan Fitrah Manusia

Resistensi Pembinaan Fitrah Manusia
Setiap orang memiliki potensi dasar yang baik, yang disebut fitrah. Fitrah itulah yang selalu membawa manusia berkecenderungan pada kebaikan dan kebenaran. Tetapi, dalam perjalanannya, sering kali fitrah seseorang tertutup berbagai macam pengaruh, baik pengaruh pengetahuan, lingkungan, dan budaya di mana yang bersangkutan hidup dan menetap. Berbagai lapisan itu membentuk lapisan yang menyelimuti fitrah. Dan pada gilirannya fitrah tidak lagi mampu menggerakkan pola pikir dan tingkah laku seseorang. Perjanjian primordial manusia di saat berada di dalam rahim, yaitu berjanji akan selalu mengikatkan diri kepada Tuhan-nya (Allah), juga merupakan fitrah yang harus diingatkan. Sebab, dengan kelemahannya, manusia tak lagi mampu mengingat dirinya sendiri pada perjanjian primordialnya terhadap Tuhan.

Pengajaran pendidikan agama yang paling utama adalah seperti fungsi dan tugas yang dilakukan oleh nabi-nabi Allah, membersihkan, mengingatkan, dan menggugah, serta mengaktifkan (kembali) fitrah tiap manusia. Sehingga pada akhirnya fitrah itu mampu mempengaruhi dan mengarahkan pola piker dan perbuatan atau tindakan seseorang. Dengan kata lain, tujuan utama pengajaran pendidikan agama adalah menggugah “Fitrah Insaniyah” dan membantu memunculkan kembali potensi kebaikan yang telah ada dalam diri tiap orang. 

Akar masalah pendidikan terletak pada, pertama, bagaimana orang mendefinisikan fitrah, sekaligus definisi itu akan menjadi arah dan spirit pengajaran pendidikan agama. Kedua, paradigma yang digunakan dalam pembinaan dan pengembangan fitrah. Ketiga, tujuan pembinaan fitrah.

Kita tidak akan bisa mengubah buah sebelum mengubah akar. Di negeri kita banyak biaya, energy, waktu, dan sebagainya berhamburan tanpa makna karena sering kali proyek-proyek tidak mengenai sasaran yang sebenarnya. Kita kerap menghujjat, bahwa pendidikan agama di sekolah tidak ada artinya. Tiap hari anak-anak sekolah menyuguhkan sikap dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Mereka menirukan perilaku orang dewasa baik secara lagsung maupun melalui media masa seperti televise.

Kita semua harusnya bisa introspeksi diri, ada apa dengan pendidikan di negeri ini? Apa yang kurang? Berbagai macam kebijakan baik itu untuk guru maupun anak didik sudah dilakukan, tetapi kenapa masih demikian? Bagaimana kita bisa membumikan pendidikan di negeri ini? Banyaknya fenomena-fenomena yang mendiskriditkan dunia pendidikan, dari mulai tawuran antar pelajar yang sudah menjadi budaya, sampai pada pelecehan seksual yang akhir-akhir ini kita dengar.

Tulisan yang singkat ini mudah-mudah bisa menjadi cermin dan dapat menggugah jiwa, bukan hanya stakeholder tapi juga para pahlawan kita (baca: guru dan orang tua) agar dalam mendidik anak-anaknya mereka terus intens dan lebih baik lagi. Satu hal yang perlu kita semua ingat, bahwa anak-anak kita sudah dibekali fitrah yang baik, karena mereka semua sudah dibekali dengan potensi-potensi yang telah Tuhan berikan. Tugas kita sebagai guru dan orang tua adalah bagaimana mengoptimalkan dan memaksimalkan potensi-potensi tersebut.


Reff

[1]Al-A’zami. The History of The Qur’anic Texs From Revelation to Compilation. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sohirin Solihin, Anis Malik Thaha, Ugi Suharto, Lily Yuliadi dengan judul, “Sejarah Teks Al-Qur’an dan Wahyu sampai Kompilasi Kajian Perbandingan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru”. Gema Insani: Jakarta, 2005. hal. 63. 
[2]Abudin Nata. “Al-Qur’an dan Hadits”. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1996. hal. 125. 
[3] Fazlur Rahman. “Major Themes of The Qur’an”. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anas Mahyudin dengan judul, “Tema-Tema Pokok Al-Qur’an”. Pustaka. Bandung. 1996. hal. 43 
[4]QS. 17: 9. 
[5] Abdurrahman Dahlan. “Kaidah-Kaidah Penafsiran Al-Qur’an”. Mizan. Bandung. 1997. hal. 279.
[6] Abdurrahman Al-Nahlawi. “Ushulut Tarbiyatil Islamiyah wa Asalibuha”. Diterjemahkan oleh Herry Noer Ali dengan judul, “Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat”. Dipenogoro. Bandung. 1996. hal. 44.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon