Saturday, June 07, 2014

Pendewasaan Karakter Pendidik

Pendewasaan Karakter Pendidik - Guru, sebutan ini tentu tidak asing lagi di telinga kita. Istilah guru pada awalnya menunjuk pada perilaku seseorang yang patut untuk “digugu dan ditiru”. Seiring perkembangan zaman dan realita sekarang ini istilah guru mulai diplesetkan menjadi “wagu tur saru” (tidak sesuai/tidak indah atau tidak sopan) hingga “wagu tur kuru-kuru”. Namun, realita memang menunjukkan demikian dimana sekarang ini kita bisa melihat bagaimana seorang guru yang seharusnya menjadi contoh teladan yang baik kini menjadi seseorang yang tidak lagi menunjukkan sikap bagaimana menjadi seseorang yang beradat dan berbudaya. Bahkan nyaris kita sering mendengar berita berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru, dari kekerasan fisik hingga pada kekerasan seksual yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang yang notabene berprofesi sebagai pendidik.

Sebagai seorang pendidik, seorang guru dituntut dalam empat kompetensi yaitu, paedagogik, kepribadian, social, dan professional. Di luar empat kompetensi guru tersebut, seorang guru dituntut untuk bersikap sabar dalam mendidik peserta didiknya baik sebagai guru kelas, guru mata pelajaran, guru konseling, di berbagai jenjang pendidikan dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Kata “sabar” ini mudah diucapkan akan tetapi perlu perjuangan untuk benar-benar memiliki sifat ini. Banyak kita dengan berbagai kekerasan baik fisik, lisan, maupun seksual yang dilakukan oleh oknum guru, dari sekedar mencubit, memukul, menampar, melempar, hingga aksi pemukulan dan pencabulan terhadap peserta didiknya. Kekerasan ini pada mulanya dianggap wajar, akan tetapi seiring berjalannya waktu, zaman, dan pengakuan keberadaan HAM, tindak kekerasan ini bisa termasuk pada tindak pelanggaran HAM terhadap anak-anak apalagi tindak pemukulan dan pencabulan. Dampak fisik maupun psikis akan lebih dirasakan oleh peserta didik baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang.

Pendewasaan Karakter PendidikAkan tetapi seorang guru juga manusia biasa, apalagi bagi mereka guru muda yang masih membutuhkan pengalaman dan pendewasaan karakter diri sebagai pribadi dan sebagai pendidik. Pengendalian diri mutlak diperlukan, akan tetapi pengaruh lingkungan kerja tidak bisa lepas dari karakter setiap pendidik. Seorang pendidik terutama guru muda sebagian besar belum memiliki kestabilan emosi yang baik dan cenderung belajar dari perilaku guru senior. Hal ini disadari oleh penulis pada awal meniti karir, sikap dan gaya mengajar rekan guru senior menjadi acuan dengan ditambah pengalaman kegiatan sewaktu mengikuti pendidikan. Ketika sebagian besar guru senior di sekolahan menggunakan system pengajaran yang keras, maka guru yunior pun tidak akan segan untuk melakukan tindak kekerasan karena beranggapan siswa telah terbiasa dengan perlakuan demikian. Termasuk pengaruh kebiasaan guru untuk mencari keuntungan lebih dari setiap kegiatan/ketentuan yang harus diikuti oleh sekolah dan juga kebiasaan-kebiasaan guru bersikap masa bodoh terhadap tugas mengajarnya terutama guru yang sudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) yang merasa sudah terjamin gaji tiap bulannya tapi melupakan bahkan mengacuhkan kualitas pembelajaran. Di sinilah diperlukan kejelian dan kecermatan seorang guru untuk belajar mendewasakan diri baik dari segi emosional, pembelajaran, dan sikap.

Sebuah perubahan akan terlihat dan itu pasti akan terlihat ketika seseorang mengalami proses belajar dan mau belajar dari pengalaman, baik pengalaman orang lain terlebih pengalaman diri sendiri. Ketika seseorang menempuh pendidikan dengan setumpuk buku pelajaran ataupun modul yang berisi materi pelajaran, tentu tidak akan serta merta dikuasai secara utuh menyeluruh dan diintegrasikan dalam dirinya karena diakui atau tidak jalur pendidikan yang ditempuh lebih berorientasi pada masa/waktu/jenjang berikutnya maupun sekedar untuk memperoleh ijazah sebagai syarat mencari pekerjaan bukan isi/materi buku/pelajaran tersebut. sebagai contoh, seorang siswa kelas 3 akan belajar giat ketika akan ujian agar bisa naik kelas 4 bukan untuk mengintegrasikan apa yang dipelajarinya, siswa SMP menempuh pendidikan selama tiga tahun tentu orientasinya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi bukan untuk mengaplikasikan konsep pelajaran yang diperolehnya. Seseorang akan belajar lebih dari apa yang dia dengar, dia lihat, dan yang dia alami.

Meskipun begitu prinsip setiap orang tentu berbeda. Ada yang mengutamakan kualitas kinerja, ada yang mengutamakan status social, ada yang mengutamakan kesejahteraan hidupnya, ada pula yang mengutamakan kemaslahatan orang banyak dalam arti berharap dirinya dapat bermanfaat bagi orang banyak. Terkait bagi mereka yang mengutamakan peningkatan kualitas pembelajaran lebih mudah terpancing emosional demi mendapatkan skor/nilai maksimal peserta didiknya. Akan tetapi ketika pembelajaran yang diimplementasikan dengan cara keras, meskipun peserta didik mendapatkan skor maksimal, namun ada sesuatu yang hilang yaitu rasa kebahagiaan, karena ketika mengerjakan soal tersebut mereka dalam keadaan tertekan dan diliputi perasaan takut. Dan yang akan tumbuh dalam dirinya adalah sebuah kesombongan dan dendam yang suatu saat dapat membinasakan dirinya.

Kebahagiaan adalah kunci awal sebuah kesuksesan. Mari kita bersama mengembalikan senyum anak bangsa ini, bangsa Indonesia dengan pembelajaran dan pengalaman yang menyenangkan. Semoga bermanfaat. 






--------- Nur Aizah (Pendidik)


Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon