Monday, June 09, 2014

Pendidikan Seks pada Anak-Anak dan Remaja

Pendidikan Seks pada Anak-Anak dan Remaja - Berita mengenai kekarasan seksual terhadap anak-anak akhir-akhir ini menjadi berita paling santer di TV bahkan beritanya lebih ramai dari pada berita koalisi politik menjelang pemilihan presiden. Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya tetapi juga terjadi karena adanya kesempatan. Anak-anak begitu rentan menjadi korban kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini. Kenapa para pelaku kejahatan seksual cenderung mengincar anak-anak untuk menjadi korbannya? Ada beberapa alas an yang sering diungkap oleh pelaku kekerasan seksual yang tertangkap oleh pihak berwajib diantaranya adalah orientasi seksual yang menyimpang dari pelaku yakni “pedofilia” atau gairah untuk menyalurkan hasrat seks pada anak-anak (baca juga postingan: Jenis Penyakit Psikoseksual). Yang kedua adalah sering kali pelaku adalah orang-orang yang pernah menjadi korban kekerasan seksual di masa lalunya.
Pendidikan Seks pada Anak-Anak dan Remaja
Wacana mengenai pendidikan seksual pada anak-anak sekolah kembali ramai dibicarakan oleh insane pendidikan di negeri ini, adanya berita kekerasan seksual yang menimpa siswa-siswa sekolah taman kanak-kanak Jakarta Internasional School seolah menyadarkan kembali ingatan kita akan pentingnya pengetahuan mengenai pendidikan seksual kepada anak-anak agar mereka lebih memahami arti pendidikan seks secara lebih komprehensif. Sehingga mereka tidak terjebak dalam kehidupan seks yang salah. Membicarakan masalah seksual di masyarakat kita yang masih memegang teguh etika ketimuran sepertinya menjadi suatu hal yang tabu, apalagi apabila orang tua membicarakan hal-hal yang berbau seks di hadapan anak-anak sering dianggap tidak sopan, tidak tahu adab sehingga jarang sekali orang tua dan anak berkomunikasi dan berbicara mengenai masalah tersebut. 

Rasa tabu dan kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak dalam membicarakan masalah seksual, kadang membuat anak mencari tahu sendiri tentang arti dari seks. Bagi anak-anak remaja yang sedang dalam masa peralihan dan juga mempunyai rasa keingintahuan yang besar terhadap hal-hal yang mereka anggap baru, tentunya timbul penasaran terhadap apa yang namanya seks. Hal ini tidak dapat kita salahkan karena merupakan naluri apalagi remaja yang mulai masuk pada masa pubertas. Keinginan remaja untuk mengetahui tentang arti seks dapat diarahkan oleh orang tua dan guru sehingga mereka tidak melakukan penyimpangan dan juga bisa memperoleh pengetahuan seksual yang gamblang dan jelas serta benar sesuai dengan kaidah pendidikan agama dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Pendidikan seks perlu diajarkan sejak usia dini kepada anak-anak kita agar mereka tidak mudah terjebak dalam pergaulan bebas dan orientasi mengenai seks yang salah kaprah. Contoh pendidikan seks yang bisa diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini dalam lingkungan keluarga adalah membiasakan tidur dengan kamar terpisah antara anak laki-laki dan anak perempuan, tidak mandi bersama antara anak laki-laki dan anak perempuan tentunya disertai dengan penjelasan-penjelasan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak mengapa hal tersebut harus dilakukan. Guru dan orang tua adalah sosok yang penting serta mempunyai pengaruh yang besar dalam tumbuh kembang anak. Sehingga peran guru dan orang tua sangatlah vital dalam memberikan pendidikan mengenai seks kepada anak-anak.



Guru sebagai sosok yang digugu dan juga ditiru oleh anak-anak dapat menyampaikan pendidikan seks kepada anak didiknya tentunya dengan bahasa yang edukatif dan juga mudah dipahami oleh anak didiknya. Kemajuan teknologi yang begitu pesat membuat semua orang bisa mengakses informasi dengan begitu cepat dan tanpa batas, apalagi anak zaman sekarang yang sudah melek teknologi dengan dilengkapi dengan gadget canggih dan modern yang dapat mengakses internet 24 jam. Mereka bisa saja mengakses konten-konten dan juga berbagai artikel mengenai pornografi kapan saja dan di mana saja dengan bebas. Hal ini tentunya menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan pada orang tua, karena dengan melihat dan membaca artikel maka fantasi remaja bisa membahayakan bagi perkembangan mentalnya. Apalagi rasa keingintahuan dan rasa ingin mencoba pada diri remaja yang sedang memasuki masa pubertas sangatlah tinggi sehingga apabila hal ini tidak disalurkan dengan hal-hal yang positif dapat menimbulkan dampak negatif bagi remaja. Misalnya terjadi seks bebas yang berujung pada kehamilan dan aborsi pada remaja puteri akibat pergaulan tersebut.

Orang tua pun harus lebih memperhatikan tingkah laku anak-anaknya ketika di rumah. Jangan sampai orang tua terlena dan membiarkan anak-anaknya tanpa control terhadap alat-alat komunikasi yang dimiliki anak-anaknya. Sesekali orang tua juga perlu mengontrol apa saja yang terdapat pada HP dan gadget anak-anaknya sehingga orang tua tidak kecolongan nantinya.

Bagaimanapun peran dan kontrol orang tua sangalah penting dalam mengawasi tumbuh kembang anak-anaknya yang sedang dalam masa peralihan menuju fase remaja. Pendidikan moral dan agama perlu lebih ditekankan, juga arahan dari orang tua agar anak lebih aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang bernilai posotif bisa menjauhkan anak-anak dari pemikiran-pemikiran negatif dan keinginan untuk mencoba hal-hal yang berbau pornografi sebelum waktunya. Terakhir mari selamatkan anak-anak kita dari bahaya pornografi.

Demikianlah ulasan mengenai Pendidikan Seks pada Anak-Anak dan Remaja. Semoga bisa menjadi informasi yang bermanfaat.

Advertisement

2 komentar

terimakasih udah shre sangat membantu buat referens :)

salam kenal dari www.cintateknologi.com

ok salam kenal balik Om Bayu, semoga artikelnya bisa bermanfaat.

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon