Thursday, September 25, 2014

Pendidikan di Eropa Abad Pertengahan

Pendidikan di Eropa Abad Pertengahan - Abad pertengahan merupakan jaman scholastik (pelajaran sekolah). Scholastik dimaksud sebagai usaha ilmiah untuk membuat supaya pelajaran-pelajaran gereja dapat dipahami dengan memberikan bukti-bukti yang logis. Kehidupan duniawi dianggap hanya sebagai landasan bagi hidup di alam baka. Apabila di Yunani dan Romawi ada orang tunduk pada negara, maka kini tunduk pada gereja. Abad pertengahan di Eropa dibagi menjadi dua bagian yang berlainan keadaannya. Abad ke-5 dan ke-6 disebut abad gelap. Pada masa itu terjadi perpindahan bangsa-bangsa, kekacauan, dan bangkitnya kebudayaan. Sesudah perang salib, timbullah bagian kedua dari jaman tengah ini dengan timbulnya kota-kota, dan budak belian dibebaskan sekembalinya dari perang Palestina. Pada bagian kedua inilah awal munculnya universitas.

Dalam masa abad gelap di seluruh Eropa terjadi perpindahan bangsa-bangsa dari timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan. Pada abad ke-7 terjadi pula perpindahan bangsa-bangsa baru dari tanah Arab melalui Mesir, Afrika, menyeberang ke Spanyol dan Prancis. Mula-mula akan mengalahkan bangsa Barat, tapi pada tahun 732 dapat dikalahkan oleh bangsa Prancis.

Beberapa aliran yang mempengaruhi pendidikan dan pengajaran antara lain: Religi, Renaissance, Reformasi, Rationalisme, dan Sosialisme. Aliran-aliran tersebut tidak terpisah satu sama lain, akan tetapi yang satu merupakan reaksi atas aliran sebelumnya, dan saling mempengaruhi.

Pada abad pertengahan, aliran religi menjadi sangat berpengaruh. Pendidikan bersifat akherat, hal-hal yang sifatnya duniawi tidak begitu mendapat perhatian. Semua usaha pendidikan tertuju kepada kehidupan akherat. Yang menjadi lembaga pendidikan adalah: rumah tangga, gereja, sekolah, negara, dan masyarakat. Semua lembaga tersebut didominasi oleh religi. Agama merupakan pusat dari seluruh pendidikan dan pengajaran. Pekerjaan para paderi yang semula mengerjakan tanah, mengeringkan paya-paya guna memajukan pertanian, beralih ke penyelenggaraan kepentingan-kepentingan rohaniah, yaitu dengan didirikannya sekolah-sekolah. Sekolah-sekolah yang didirikan pada abad pertengahan antara lain:
    Pendidikan di Eropa Abad Pertengahan
  • Sekolah Biara. Pertama didirikan oleh Benedictus dari Nurcia tahun 520. Tujuannya adalah: mendidik anak untuk calon penghuni biara dan untuk kehidupan dalam masyarakat. Maka muncul 2 macam sekolah: sekolah untuk mendidik calon rahib, dan sekolah luar untuk kepentingan kehidupan masyarakat, namun demikian gurunya sama. Mata pelajarannya meliputi: bahasa latin (bahasa pengantar); agama; membaca; menulis; dan menyanyi. Bagi kelas-kelas tinggi: agama; sejarah; dan the seven liberal arts. Kepala sekolah gereja disebut scholarum, yang kemudian berubah menjadi scholasticus. Metode mengajar yang dipakai adalah mekanis, yaitu murid-murid menyebut apa-apa yang disebutkan oleh guru. Sesudah itu semuanya harus dihafal di luar kepala. Hukuman bagi setiap kesalahan dengan pukulan;
  • Sekolah Kathedral. Didirikan pada setiap kathedral (gereja pusat), ditempatkan di bawah pemilikan uskup. Pengajarannya hampir sama dengan sekolah biara, kepala sekolahnya disebut magister;
  • Sekolah Istana. Didirikan di istana sebagai pusat pengetahuan oleh Karel Agung (768-814) yang banyak menaruh minat terhadap pendidikan dan kemajuan rakyat. Sekolah itu dinamakan Schola Palatina, yang menjadi teladan bagi seluruh kerajaan. Di sini dididik anak-anak raja dan kaum bangsawan dan juga pemuda-pemuda yang hendak menjadi pegawai. Pemimpinnya yang terkenal adalah: Aicinus. Banyak pelajar yang datang dari negeri-negeri lain. Oleh sebab itu sekolah istana Karel Agung memperoleh nama internasional;
  • Sekolah Cathecismus dan sekolah parochi (sekolah nyanyi). Catechismus adalah pelajaran agama berupa tanya jawab; dan parochi adalah daerah di bawah seorang parochus atau pastur. Dua sekolah ini dapat dianggap sebagai bentuk permulaan sekolah rakyat (sekolah umum). Pengajaran diselenggarakan oleh para pendeta parochi. Di Metz didirikan sebuah sekolah nyanyi oleh Karel Agung untuk murid-murid nyanyian- nyanyian gereja. Pelajaran yang diberikan: agama; membaca; menulis; bernyanyi; dan pekerjaan tangan.
Akibat perang salib terjadi bermacam perubahan, seperti: Munculnya golongan ketiga; kemajuan perniagaan dan industri; terjadinya cita-cita pendidikan yang lain; Munculnya golongan bangsawan yang mempunyai cita-cita pendidikan tertentu, yaitu pendidikan ksatria; Munculnya bermacam-macam gilde yang merupakan lembaga pendidikan yang baik.

Berkembanganya perdagangan dan perindustrian memperkuat kedudukan kota-kota yang mendirikan bermacam-macam sekolah. sekolah kota dikepalai oleh seorang rektor. Bentuk pengajarannya masih bersifat formalistis, menghafal seperti buku. Sedangkan pendidikan ksatria tujuannya tidak menari kepandaian dan pengetahuan, melainkan ketangkasan naik kuda, dan membuat syair. Abad ke-13 dinamai abad universitas. Di sini lama kelamaan terjadi kebutuhan untuk memperoleh pengajaran tinggi. Beberapa sekolah biara terbaik diperluas dan dipertinggi mutu pelajarannya. Sehingga berdirilah universitas-universitas yang pertama:
  • Universitas di Salerno: untuk ketabiban;
  • Universitas di Bologna: untuk ilmu hukum;
  • Universitas di Paris: untuk theologi.
Perguruan tersebut hanya mempunyai satu fakultas, yaitu: sekolah tinggi. Metode yang dipakai adalah metode scholastik: maha guru mempergunakan buku tertentu, misalnya: Corpus Juris, kemudian pelajar membuat diktat. Setelah itu diadakan penjelasan dan pembicaraan. Atas inisiatif raja, paus, dan orang-orang terkemuka jumlah universitas semakin lama semakin bertambah banyak. Kelemahan-kelemahan abad pertengahan:
  • Semua sekolah diperintah oleh gereja dan paderi;
  • Semua pelajaran dan pendidikan hanya untuk kepentingan gereja dan paderi;
  • Kehidupan sehari-hari tidak mendapt perhatian sebagaimana mestinya;
  • Yang diselenggarakan adalah pengetahuan yang telah ada, yang berasal dari ahli-ahli Yunani dan Romawi, sehingga tidak ada perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan;
  • Metode mengajar formalistis: menghafal tepat seperti yang terdapat dalam buku secara mekanis. Oleh sebab itu seringkali bersifat verbalistis.
Perubahan akan terjadi pada jaman Renaissance yang akan diuraikan pada postingan berikutnya. Semoga dapat bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon