Monday, September 29, 2014

Perkembangan Pendidikan Pada Abad Ke-19

Perkembangan Pendidikan Pada Abad Ke-19 - Setelah pada postingan-postingan yang lalu telah diuraikan secara singkat dari mulai perkembangan pendidikan pada abad klasik sampai pada abad pencerahan (Aufklarung). Maka pada kesempatan kali ini saya akan share tentang bagaimana perkembangan pendidikan pada abad ke-19. Bahwa pada abad ini, pendidikan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Ada beberapa penyebab terjadinya kemajuan tersebut adalah:
Revolusi Prancis
Revolusi prancis yang terjadi sejak tahun 1789, berupa kebangkitan kasta ketiga menimbulkan gelombang demokrasi hampir di seluruh Eropa. Kasta ini menuntut hak- haknya di lapangan politik, diikuti pula adanya perlawanan terhadap kaum bangsawan dan agama. Perlawanan ini muncul akibat meluasnya cita-cita pencerahan, yang mengemukakan teori tentang manusia yang mempunyai derajat sama, tidak terpengaruh oleh kelahiran, kasta, atau kepercayaan. Semboyan kebebasan, persamaan, dan persaudaraan bergema di sluruh dunia Barat.

Pengaruhnya dalam bidang pendidikan, rakyat umum menuntut pula hak-haknya di lapangan pendidikan dan pengajaran. Bahwa pengajaran jangan hanya dinikmati oleh kaum bangsawan dan hartawan saja. Orang mulai menganggap bahwa sekolah sebagai suatu lembaga penting yang dapat memelihara dan memajukan negara dan masyarakat. Oleh karena itu pengajaran  harus  diperluas  dan  harus  diselenggarakan  oleh  negara (bukan gereja). Revolusi di bidang pendidikan mencapai puncaknya ketika Konvensi Nasional berhasil memberikan pendidikan gratis kepada semua warga negara (1791).
Revolusi Industri
Perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu alam menyebabkan perubahan besar di sektor industri. Perkembangan teknik menghasilkan penemuan-penemuan baru dan memungkinkan munculnya berbagai industri, yang sebelumnya dikerjakan dengan tangan, mulai dikerjakan dengan mesin. Pabrik-pabrik tumbuh di mana-mana. Revolusi industri ini dimulai di Inggris, kemudian tersebarluas hingga pada abad ke-19 pengaruhnya tampak di hampir seluruh dunia.

Pendidikan Abad ke-19
Pengajaran Klasikal Abad Ke-19

Pengaruh revolusi industri di bidang pendidikan dan pengajaran cukup besar. Sejak itu pengajaran harus diberikan pada jumlah murid yang besar (pengajaran massa). Sistem pengajaran sekepala diganti dengan sistem pengajaran klasikal. Di bawah ini beberapa tokoh pendidikan yang besar pengaruhnya pada abad ke-19, yaitu:

Johan Heinrich Pestalozzi (1746-1827). Dilahirkan di Zurich (Swiss). Pestalozzi memulai usahanya di bidang pendidikan dengan mendirikan sebuah rumah yang diberi nama “Neuhof”, yang dijadikannya rumah pendidikan untuk 50 orang anak-anak terlantar. Anak-anak itu bekerja disitu, seperti bercocok tanam, bertenun, dan beternak. Sesudah itu baru diajarkannya membaca, menulis, dan berhitung. Walaupun usahanya ini pernah gagal karena kurangnya dana, namun akhirnya mengalami jaman keemasannya juga. Muridnya banyak dan memiliki staf guru-guru yang kuat. Ia banyak mendapat kunjungan dari berbagai negara yang bermaksud untuk mempelajari metode mengajarnya.

Cita-cita pendidikannya, Pestalozzi menghendaki pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa anak. Bakat yang dibawa anak sejak lahir harus dikembangkan, sehingga anak dapat mencapai kepribadian yang sejati. Tugas pendidik adalah menolong anak dalam pembentukan diri sendiri. Pestalozzi menghendaki perbaikan masyarakat melalui pendidikan individu dengan pertolongan keluarga, terutama oleh ibu.

Dalam didaktiknya, semua pengajaran harus berpangkal pada pengamatan benda-benda yang sebenarnya. Pestalozzi membedakan tiga unsur yang harus dikembangkan oleh pengajaran, yaitu: Bunyi (kata); Bentuk; dan Bilangan.

Johann Friedrich Herbart (1776-1841). Lahir di Oldenburg (Jerman). Setelah belajar pada ilmu filsafat di Universitas di Yena, ia menjadi Gubernur dan kemudian Mahaguru dalam ilmu filsafat pada beberapa universitas di Jerman. Herbart adalah seorang pelopor yang terbesar dari intelektualisme, yaitu sebuah paham bahwa kemajuan di bidang rohaniah hanya dapat dicapai melalui akal dan pengetahuan saja.

Pada tahun 1806 ia menulis Allgemeine Paedagogik (paedagogik umum), yang merupakan ilmu mendidik yang berdasarkan ilmu filsafat dan ilmu jiwa. Herbart adalah seorang ahli fikir pertama yang melihat paedagogik sebagai ilmu pengetahuan praktis yang berdasarkan pada: ilmu filsafat, yang menentukan tujuan pendidikan; dan ilmu jiwa, yang menentukan jalan dan alat-alat untuk sampai pada tujuan itu. Adapun tujuan pendidikan menurut Herbart adalah kebajikan, dan untuk mendapatkannya diperlukan pengetahuan. Maka pendidikan dan pengetahuan berfungsi memberikan pengetahuan itu.

Pengertian dari pengetahuan dan bagaimana cara mencapainya diuraikan dalam ilmu jiwanya, yang terkenal dengan nama “teori tanggapan” atau “ilmu jiwa tanggapan”. Ia menentang teori daya dari Aristoteles, bahwa perasaan dan kehendak dianggap sebagai daya-daya jiwa yang berdiri sendiri dan terpisah dari tanggapan-tanggapan. Menurutnya semua gejala jiwa berdasarkan pada tanggapan-tanggapan. Perasaan, hasrat, dan kemauan adalah keadaan-keadaan khusus yang timbul karena asosiasi tanggapan yang silih berganti muncul dalam kesadaran. Memiliki tanggapan-tanggapan berarti memiliki pengetahuan.

Bila tidak ada tanggapan-tanggapan, tidak akan mungkin timbul kemauan. Kemauan adalah kelanjutan dari sejumlah tanggapan. Oleh karenanya, pengajaran berfungsi memberikan tanggapan-tanggapan yang sebanyak-banyaknya, sehingga dapat mempengaruhi dan mengatur kemauan (juga kesusilaan). Itulah inti dari “intelektualisme” menurut Herbart. Dengan demikian, kesusilaan dapat dikuasai atau dipengaruhi melalui intelektual (akal), yang penuh dengan tanggapan-tanggapan. Oleh karena itu, seharusnya tanggapan-tanggapan itu jelas dan terang.

Dalam mencapai tujuan pendidikan, dibutuhkan 3 alat pendidikan, yaitu: (a) pemerintahan, untuk membiasakan anak agar taat kepada kehendak pendidik. Dalam hal ini diperlukan: pengawasan, memberikan perintah, larangan, ancaman, dan hukuman. Jadi merupakan tindakan preventip; (b) siasat menuju pembentukan kesusilaan dan ke arah pemberian pimpinan untuk sampai pada keteguhan watak, pada kesusilaan yang sebenarnya. Untuk itu, dijaga agar anak tetap setia pada kehendak berbuat baik; dan (c) pengajaran, yang bermaksud memberikan sejumlah besar tanggapan-tanggapan yang jelas dan terang.

Syarat agar tujuan pengajaran dapat tercapai adalah: (a) pengajaran harus menarik perhatian; (b) tanggapan-tanggapan baru diberikan berdasarkan hal-hal yang telah dikenal, berdasarkan tanggapan-tanggapan yang telah ada (apersepsi); (c) pengertian-pengertian yang jelas diberikan dengan mempergunakan metode mengajar yang teratur; dan (d) bahan pelajaran harus sebanyak mungkin berhubungan satu sama lain, sehingga semua yang dipelajari merupakan suatu kesatuan yang bulat (asas konsentrasi).

Friedrich Frobel (1782-1852). Dilahirkan di Thuringen (Jerman) pada 1782. Dia pertama kali mendirikan sebuah sekolah bagi anak-anak kecil pada tahun 1837 di Blankenburg, yang dinamakannya “kindergarten” (Taman Kanak-kanak). Di sekolah tersebut diutamakan bermain, menyanyi dan pekerjaan tangan.

Dalam bukunya Menschenerziehung Frobel mencoba memberikan dasar filsafat pada sistim pendidikannya. Pokok ajarannya adalah sebagai berikut: “segala sesuatu merupakan satu kesatuan yang dikuasai oleh satu hukum yang sama dan sumber yang sama, yaitu Tuhan. Tuhan ada pada segenap isi alam semesta. Tuhan menciptakan manusia menurut contohnya. Oleh karena itu, manusia harus bekerja dan berkarya menurut contoh Tuhan. Dorongan untuk mencipta ini ada pada setiap manusia, juga pada anak. Dorongan mencipta pada anak harus dikembangkan dengan seksama, karena anak harus dibentuk menjadi manusia yang berbudi baik dan dapat menciptakan serta memajukan kebudayaan.”

Frobel menghendaki agar pengajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan alam anak- anak. Anak-anak harus dibawa ke arah ketertiban, penguasaan diri, dan keaktifan. Hal itu dapat dicapai dengan jalan pekerjaan, karena pada setiap anak selalu ada dorongan untuk bekerja. usaha Frobel untuk memuaskan dorongan ini pada anak adalah dengan jalan menyuruhnya bekerja di kebun dan mengikuti kegiatan permainan yang dipimpinnya sendiri. “suruhlah anak itu bermain, tidak ada yang lain selain bermain, sampai ia berumur 7 tahun.” Setiap anak mempunyai kebunnya sendiri di sekolah. dengan demikian dapat terlatih daya kerja anak dan mereka belajar bergaul dengan teman-temannya.

Pada permainan Frobel banyak mempergunakan imajinasi anak, dengan jalan menyuruh anak sambil bermain membuat dan menyusun bermacam-macam benda. Ia berpedoman pada suatu prinsip, bahwa saat memberikan alat-alat permainan hendaknya diperhatikan urutan yang teratur, mulai dari benda-benda yang sederhana, meningkat sampai pada benda yang paling rumit.

Karya Frobel yang terkenal dengan nama Spielgaben, terdiri dari 5 jenis alat permainan, yaitu: (a) terdiri dari sebuah kotak berisi 6 bola dari wol. Warnanya bermacam-macam seperti warna pelangi. Anak-anak harus bermain dengan bola itu. Dengan itu mereka mendapatkan pengertian seperti: ke kiri- ke kanan, ke muka – ke belakang, dan sebagainya; (b) terdiri dari sebuah bola kayu, sebuah kubus kayu, dan sebuah silinder kayu. Bola dan kubus merupakan suatu pertentangan, yakni dari gerak dan istirahat. Silinder adalah bentuk peralihan; (c) terdiri dari sebuah kubus yang dapat dibagi menjadi 8 kubus kecil. Anak-anak harus menyusun kubus-kubus tersebut sampai timbul “bentuk kehidupan” (misal, 2 kubus disusun ke atas menjadi meja), dan “bentuk keindahan” (misal, 4 kubus merupakan sebuah bujur sangkar);(d) sebuah kubus yang dapat dibagi menjadi 8 prisma; dan (e) sebuah kubus yang dibagi atas 27 kubus-kubus kecil.

Dengan alat permainan yang keempat dan kelima anak-anak harus menyusun bentuk-bentuk yang lebih pelik. Disamping bahan-bahan tersebut, ia juga memberikan alat- alat lain seperti: bilah-bilah untuk disusun, kertas-kertas anyaman, manik-manik. Semua alat tersebut berfungsi sama, yaitu mengembangkan kegiatan sendiri.


Selain itu anak-anak diberi pula kesempatan untuk mempelajari pelajaran seperti: menggambar, bercerita, syair, mengamati binatang dan tumbuh-tumbuhan. Pada prinsipnya, dengan permainan yang dapat mengembangkan imajinasi anak, maka berkembanglah dorongan mencipta pada anak. Dengan demikian Frobel mengubah prinsip sekolah, dari sekolah dengar menjadi sekolah kerja. Tujuan pendidikan bagi Frobel adalah “memperkuat daya mencipta pada manusia dengan mempergunakan semua alat, dan dimulai sejak kecil”.

Demikian uraian mengenai perkembangan pendidikan pada abad ke-19. Semoga bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon