Thursday, October 23, 2014

Karakteristik Anak dengan Gangguan Emosional dan Spektrum Autisma

Karakteristik Anak dengan Gangguan Emosional dan Spektrum Autisma - Anak dengan gangguan emosional dan spektrum autisma masuk dalam kriteria anak berkebutuhan khusus. Gangguan ini dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu perilaku eksternal (ke dalam) dan perilaku internal (ke dalam). Perilaku keluar, memiliki pengaruh langsung ataupun tidak langsung contohnya agresi, suka melawan, mencuri, dan kurangnya kontrol diri. Perilaku kedalam mempengaruhi anak yang mengalami gangguan ini contohnya kecemasan atau depresi yang parah, perubahan suasana hati yang berlebihan, atau menarik diri dari interaksi sosial (M.M Kerr dan Nelson, dalam Ormrod, 2009: 242).

Karakteristik Anak dengan Gangguan Emosional

Hal-hal yang perlu diketahui pada anak yang mengalami gangguan emosional adalah terjadi dalam situasi yang diikuti oleh beberapa karakteristik yang muncul dalam periode tertentu dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari seorang anak seperti:
  • Ketidakmampuan untuk belajar yang tidak dapat dijelaskan dari faktor intelektual, sensori maupun kesehatan.
  • Ketidakmampuan untuk mempertahankan atau membangun hubungan yang menyenangkan dengan teman sebaya atau dengan orang dewasa di sekitarnya.
  • Berperilaku tipikal atau memiliki perasaan yang tidak sesuai walau dalam situasi yang normal.
  • Kecenderungan untuk memunculkan simtom fisik atau ketakutan-ketakutan yang dikaitkan dengan seseorang atau sekolah

Penyebab terjadinya Gangguan Emosional

Penyebab terjadinya gangguan emosional ini berupa:
  • Faktor biologis, proses pengiriman informasi pada sistem saraf
  • Faktor psikososial, seperti stres yang berkepanjangan, kejadian hidup yang menekan, perlakuan salah pada masa kecil, fakator keluarga
 

Karakteristik Anak dengan Gangguan Emosional

  • Secara tingkah laku biasanya mereka tidak berbeda dengan anak kebanyakan. Namun bisa dilihat dari tingkah laku yang terinternalisasikan dan tingkah laku yang diekster-nalisasikan.
  • Secara emosional, biasanya mereka memiliki pengalaman kecemasan yang bersumber dari rasa ketakutan yang berlebihan. Ada depresi yang muncul
  • Secara sosial, ada hambatan dalam mempertahankan sebuah hubungan dengan orang lain.
  • Secara kognitif akan memiliki rentang kemampuan dari yang rendah hingga yang tinggi. Namun seringkali gangguan emosinya tersebut menghambat hasil pembelajarannya.
 

Autism Spectrum Disorders (ASD)

Autism Spectrum Disorders (ASD) merupakan kelainan-kelainan yang memiliki karakteristik gangguan dalam tiga area dengan tingkatan yang berbeda-beda. Ketiga area tersebut adalah kemampuan komunikasi, interaksi sosial, serta pola-pola perilaku yang repetitif dan stereotip (Hallahan & Kauffman, 2006 dalam Frieda, 2009). Di bawah ini adalah lima kelainan yang termasuk dalam ASD:
    Anak dengan Gangguan Emosional
  • Autisme; yaitu penarikan diri yang ekstrem dari lingkungan sosialnya, gangguan dalam berkomunikasi, serta tingkah laku yang terbatas dan berulang (stereotipik) yang muncul sebelum usia 3 tahun. Gangguan ini 3-4 kali lebih banyak pada anak lelaki daripada perempuan (Frieda, 2009).
  • Sindrom Asperger; abnormalitas yang secara kualitatif sama seperti autisme. Dapat disebut sebagai mild autism, tanpa gangguan yang signifikan dalam kognisi dan bahasa. Individu dengan sindrom asperger memiliki tingkat inteligensi dan kemampuan komunikasi yang lebih tinggi daripada mereka yang autis. Namun, mereka menampilkan sebagian besar, bahkan semua karakteristik ASD, dengan kesulitan utamanya yaitu berada di dalam interaksi sosial. Secara umum, dapat dikatakan bahwa asperger adalah bentuk lebih ringan dari autisme (Frieda, 2009).
  • Childhood Disintegrative Disorder; perkembangan yang normal hingga usia 2 sampai 10 tahun, kemudian diikuti dengan kehilangan kemampuan yang signifikan. Terjadi kehilangan dalam keterampilan terlatih pada beberapa bidang perkembangan setelah beberapa bulan gangguan berlangsung. Terjadi pula ganggguan yang khas dari fungsi sosial, komunikasi, dan perilaku. Pada beberapa kasus, kehilangan bersifat progresif dan menetap. Sebagian penderita akan mengalami retardasi mental berat (Frieda, 2009). Kelainan ini umumnya dialami anak laki-laki (Hallahan & Kauffman, 2006, dalam Frieda, 2009).
  • Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Specified (PDD-NOS); individu yang menampilkan perilaku autis, tetapi pada tingkat yang lebih rendah atau baru muncul setelah usia tiga tahun atau lebih.

Di Indonesia, belum ada angka yang pasti mengenai prevalensi autisme. Studi secara konsisten menunjukkan prevalensi anak denganspektrum autisma lebih banyak pada anak laki-laki daripada perempuan (3:1 atau 4:1), kecuali pada sindrom Rett, dimana sebagian besar yang terkena adalah perempuan (Hallahan & Kauffman, 2006 dalam Frieda, 2009). Namun, anak perempuan dengan spektrum autisma biasanya mempunyai gejala yang lebih berat dan hasil tes inteligensinya lebih rendah daripada anak laki-laki (Widyawati, 2002 dalam Frieda, 2009). Dari berbagai penelitian juga ditemukan bahwa anak dengan spektrum autisma berasal dari latar belakang keluarga dengan berbagai tingkat sosial ekonomi, inteligensi, letak geografis, suku, dan ras (Widyawati, 2002 dalam Frieda, 2009).

Penyandang ASD memiliki tiga golongan besar masalah, yaitu gangguan interaksi, gangguan komunikasi, dan gangguan perilaku. Autistik dengan gangguan interaksi mengakibatkan individu mengalami kesulitan dalam melakukan interaksi sosial. Ia lebih senang menyendiri dan enggan atau bahkan menolak untuk secara aktif menjalin hubungan sosial, misalnya menyapa atau berbasa-basi dengan orang di sekitarnya. Kurangnya kemampuan untuk berempati dan memahami sudut pandang orang lain membuat dia semakin sulit untuk memberikan respon atau berperilaku sesuai dengan harapan orang-orang di sekitarnya.

Pada anak dengan spektrum autisma yang juga memiliki memiliki sensitivitas tinggi terhadap suara/kondisi yang berisik/ribut, berada di antara sekumpulan orang yang sedang berbincang hanya akan mendatangkan perasaan tidak nyaman. Mereka cenderung menghindari situasi ramai atau berisik semacam ini. Selain mengalami gangguan ineraksi, komunikasi, dan perilaku, anak dengan spektrum autisma juga memiliki karakteristik-karakteristik tambahan, yaitu: gangguan dalam kognisi, persepsi sensori, motorik, afeksi atau mood, tingkah laku agresif dan berbahaya, serta gangguan tidur dan makan (Hallahan & Kauffman, 2006, dalam Frieda, 2009).

Ciri-ciri Gejala Adanya Gangguan Spektrum Autisma

Ciri-ciri gejala adanya gangguan spektrum autisma pada anak, yang dapat dideteksi sejak dini, adalah sebagai berikut:

Interaksi Sosial
  • tidak menunjukkan rasa senang ketika diangkat atau dipeluk, merasa takut, menangis atau marah.
  • tidak menunjukkan perbedaan respon ketika berhadapan dengan orangtua, saudara kandung atau guru dengan orang asing.
  • Enggan berinteraksi secara aktif dengan orang lain. Ia tidak berminat pada orang, melainkan asyik sendiri dengan benda-benda dan lebih senang menyendiri.
  • Tidak tersenyum pada situasi sosial, tetapi tersenyum atau tertawa ketika tidak ada sesuatu yang lucu.
  • Tatapan mata berbeda. Terkadang menghindari kontak mata atau melihat sesuatu dari sudut matanya.
  • Tidak senang bermain bersama anak lain, lebih senang bermain sendiri.

Perbedaan dalam interaksi sosial membuat kelekatan yang biasanya terbentuk dengan orangtua atau persahabatan dengan teman sebaya menjadi berbeda atau bahkan tidak ada. Meskipun mereka berminat untuk menjalin hubungan dengan teman, seringkali terdapat hambatan karena mereka tidak rnampu memahami aturan-aturan yang berlaku di dalam interaksi sosial. Kurangnya kesadaran sosial ini mungkin menyebabkan mereka tidak mampu memahami ekspresi wajah orang lain maupun mengekspresikan perasaannya sendiri baik dalam bentuk vokal maupun ekspresi wajah. Kondisi tersebut menyebabkan anak autis tidak dapat berempati. Tingkah laku individu autis seperti itu terkadang membuat kesan bahwa mereka tidak ingin berteman.

Komunikasi
  • Tidak memiliki perhatian untuk berkomunikasi atau tidak ingin berkomunikasi untuk tujuan sosial. Bahkan, 50% anak dengan spektrum autisma berpikir untuk menutup mulut, atau tidak menggunakan bahasa sama sekali (Hallahan & Kauffman, 2006, dalam Frieda, 2009).
  • Gumaman yang biasanya muncul sebelum anak dapat berkata-kata mungkin tidak nampak pada anak autis.
  • Mereka yang berbicara mengalami abnormalitas dalam intonasi, rate, volume, dan isi bahasa. Misalnya, berbicara seperti robot, echolalia,mengulang-ulang apa yang didengar; reverse pronouns; sulit menggunakan bahasa dalam interaksi sosial karena mereka tidak sadar terhadap reaksi pendengarnya.
  • Sering tidak memahami ucapan yang ditujukan kepada mereka.
  • Sulit memahami bahwa satu kata mungkin memiliki banyak arti.
  • Menggunakan kata-kata yang aneh atau kiasan, seperti seorang anak yang berkata "..sembilan" setiap kali melihat kereta api.
  • Terus mengulangi pertanyaan biarpun telah mengetahui jawabannya atau memperpanjang pembicaraan mengenai topik yang is sukai tanpa peduli dengan lawan bicaranya.
  • Sering mengulang kata-kata yang baru saja atau pernah mereka dengar, tanpa maksud berkomunikasi. Mereka sering berbicara pada diri sendiri atau mengulangi potongan kata atau cuplikan lagu dari iklan di televisi dan mengucapkannya di muka orang lain dalam suasana yang tidak sesuai. Contoh kasus : seorang guru memangku anak sambil berkata : "Ibu Santi sakit, Anto! Sayang dong ibu Santinya!". Kemudian Anto langsung menirukan, "Sayang Ibu Santi". Setelah itu, sampai sebelum pulang, Anto terus berucap "Sayang Ibu Santi". (Issom, 2005, hal. 35-36. Hasil Observasi disuatu Taman Latihan dan Pendidikan Anak Autistik dan Anak dengan Kesulitan Belajar, dalam Frieda, 2009).
  • Gangguan dalam komunikasi non verbal, misalnya tidak menggunakan gerakan tubuh dalam berkomunikasi selayaknya orang lain ketika mengekspresikan perasaannya atau merasakan perasaan orang lain, seperti: menggelengkan kepala, melambaikan tangan, mengangkat alis, dan sebagainya.
  • Tidak menunjuk atau memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan keinginannya, melainkan mengambil tangan orang tuanya untuk mengambil objek yang dimaksud.
 
Perilaku
  • Repetitif (pengulangan), misalnya: tingkah laku motorik ritual seperti berputar-putar dengan cepat (twirling), memutar-mutar objek, mengepakngepakan tangan (flapping), bergerak maju mundur atau kin kanan (rocking).
  • Asyik sendiri atau preokupasi dengan objek dan memiliki rentang minat yang terbatas, misalnya berjam-jam bermain dengan satu objek saja.
  • Sering memaksa orang tua untuk mengulang suatu kata atau potongan kata.
  • Mungkin sulit dipisahkan dari suatu benda yang tidak lazim dan menolak meninggalkan rumah tanpa benda tersebut, misalnya seorang anak laki-laki yang selalu membawa penghisap debu kemanapun.
  • Tidak suka dengan perubahan yang ada di lingkungan atau perubahan rutinitas.
 
Identifikasi Anak dengan Spektrum Autisma
Sampai saat ini, tidak ada tes diagnosa autisma yang dapat digunakan secara universal, karena kekhususan masing-masing anak dengan autisma. Oleh karena itulah, maka kita memberikan sebutan anak dengan spektrum autisma. Biasanya, psikiatri menggunakan kriteria dari APA (American Psychiatric Association) tahun 2000 yang berfokus pada kemampuan komunikasi, interaksi sosial, serta pola-pola tingkah laku repetitif dan stereotip. Perilaku-perilaku tersebut muncul sebelum usia tiga tahun. Akan tetapi, gambar berikut dapat dijadikan acuan untuk mengenali anak dengan spektrum autisma.

Penyebab Autisme

Sampai saat ini, para ilmuwan belum secara pasti mengetahui apa yang salah pada otak anak dengan spektrum autisma, tetapi yang pasti, penyebabnya lebih kepada neurobiologis, bukan interpersonal (National Research Council, 2001; Strock, 2004 dalam Hallahan & Kauffman, 2006).

Demikianlah uraian mengenai Karakteristik Anak dengan Gangguan Emosional dan Spektrum Autisma. Semoga dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan.
 

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon