Sunday, October 26, 2014

Hakikat Bermain Pada Pendidikan Anak Usia Dini

Hakikat Bermain Pada PAUD - Pada postingan kali ini, Membumikan Pendidikan akan mencoba share perihal hakikat bermain pada pendidikan anak usia dini atau PAUD. Sahabat-sahabat sudah ketahui pada tahun-tahun belakangan ini, pakar-pakar pendidikan banyak yang menaruh perhatian pada moral generasi muda. Dan akar dari semua itu adalah bagaimana pendidikan yang telah dilewati oleh generasi-generasi ini. Dan fokus semua itu adalah pada masa anak-anak. Berbagai teori-teori baru telah bermunculan yang sebenarnya sebagai penguat untuk teori-teori yang lama.
Hakikat Bermain Pada Pendidikan Anak Usia Dini
Masa anak-anak adalah masanya bermain. Menurut Seafeld dan Barbour aktivitas bermain merupakan suatu kegiatan yang spontan pada anak yang menghubungkannya dengan kegiatan orang dewasa dan lingkungan termasuk di dalamnya imajinasi, penampilan anak dengan menggunakan seluruh perasaan, tangan atau seluruh badan (Carol Seefeldt & Nita Barbour: 205). Kegiatan bermain yang dilakukan anak biasanya bersifat spontan penuh imaginatif dan dilakukan dengan segenap perasaannya.


Dalam bermain, anak membuat pilihan, memecahkan masalah, berkomunikasi, dan bernegosiasi. Mereka menciptakan peristiwa khayalan, melatih keterampilan fisik, sosial, dan kognitif. Saat bermain anak dapat mengekspresikan dan melatih emosi dari pengalaman dan kejadian yang mereka temui setiap hari. Melalui main bersama dan mengambil peran berbeda, anak mengembangkan kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain dan terlibat dalam perilaku pemimpin atau pengikut – perilaku yang akan diperlukannya saat bergaul ketika dewasa.


Dapat disimpulkan bermain menjadi sebuah milieu yang tak tertandingi dalam mendukung perkembangan dan belajar anak (Carol Cople and Sue Bredekamp, 2006: P. 20). Ini juga alasan mengapa anak usia dini memerlukan waktu main lebih besar dalam sepanjang harinya.

Hakikat Bermain untuk Anak

Para ahli seperti Johnson, Christie, dan Yawkey 1987; Piaget 1962; Van Hoorn et al. 1993 sebagaimana dikutip Owocki mengamati bahwa perilaku main menjadi makin kompleks dan abstrak saat anak-anak maju sepanjang masa kanak - kanaknya. Kemajuan ini dapat diamati ketika mereka terlibat dalam tiga jenis main yakni main sensorimotor, main peran, dan main pembangunan (Gretchen Owocki, 1999: p. 8). Tiga jenis main ini akan dilalui oleh semua anak tanpa memandang ras maupun bangsanya.


Lev Vigotsky, Piaget, Sara Smilansky Piaget (1951, dalam Wolfgang, 1992: 22 dan Sugiyanto, 1995: 16) berpendapat bahwa anak usia dini (0-8 tahun) akan melewati tiga tahapan perkembangan bermain, yaitu:
  • (1) Sensory motor play/ Practice Play (usia 3/4 bulan-1 ½ tahun),
  • (2) Symbolic/ Make Believe Play (+ 2-7 tahun), dan
  • (3) Social Play Games with Rules (+ 8-11 tahun).


Pada tahap pertama yaitu, Sensory motor play/Practice Play. Kegiatan anak sebelum usia 3-4 bulan belum dapat dikategorikan sebagai bermain. Sejak usia 3-4 bulan, gerakan anak telah lebih terkoordinasi dari pengalamannya, anak belajar bahwa dengan menarik mainan yang tergantung di atas tempat tidurnya, mainan tersebut akan bergerak dan berbunyi. Kegiatan bermain sensori ini menekankan pada permainan yang berpusat pada gerak sensori motorik anak.

Kemudian menuju pada tahapan kedua yaitu, Symbolic/make believe play (bermain pura-pura/bermain peran/dramatic play). Pada umumnya kegiatan anak diwarnai dengan kegiatan bermain khayal dan pura-pura. Anak sudah mulai dan dapat menggunakan berbagai benda sebagai simbol atau resentasi dari benda lain.

Dan pada tahap yang terakhir yaitu, tahap social play games with rules. Kegiatan bermain sudah menggunakan simbol yang lebih banyak dan dilatar belakangi oleh penalaran, logika dan objekti vitas.

Sekian, semoga bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon