Wednesday, October 22, 2014

Karakteristik Anak Dengan Keterlambatan Perkembangan Fisik

Karakteristik Anak Dengan Keterlambatan Perkembangan Fisik - Setelah pada postingan sebelumnya membumikan pendidikan telah sedikit menguraikan mengenai ABK dan karakteristik anak dengan keterlambatan perkembangan mental. Maka, pada kesempatan kali ini akan share tentang Karakteristik anak dengan keterlambatan perkembangan fisik. Keterlambatan perkembangan fisik dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok yaitu: (1) Beresiko untuk menjadi terlambat berkembang yaitu anak-anak yang terlahir dan tumbuh berkembang di lingkungan yang tidak mendukung. Lingkungan yang tidak mendukung ini dapat terjadi bukan hanya pada kondisi atau keadaan sosial ekonomi yang kurang tetapi juga pada kondisi sosial ekonomi yang cukup atau lebih. Hal ini muncul karena pengetahuan tentang tumbuh kembang serta gizi dan stimulasi yang benar pada orang dewasa di sekitar anak sangat kurang. Namun dengan pertolongan dan bantuan yang layak, anak dengan keterlambatan perkembangan fisik ini akan dapat mencapai perkembangan yang normal. (2) Anak yang kehilangan kemampuan, diindikasikan dengan adanya perkembangan fisik pyang berbeda dengan anak lain. Misalnya anak dengan kehilangan kemampuan pendengaran atau penglihatan karena organ tubuh yang mendukung tidak terdapat dalam sistem penglihatan dan pendengaran.

Berikut ini akan dijelaskan mengenai macam-macam kondisi kehilangan kemampuan: 

Kehilangan Kemampuan Pendengaran

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang kehilangan kemampuan pendengaran adalah: Kehilangan kemampuan pendengaran dapat digolongkan ke dalam beberapa macam yaitu:
  • Tidak mampu mendengar adalah suatu kondisi di mana anak kehilangan kemampuan pendengaran baik yang bersifat permanen maupun sementara, yang dapat mempengaruhi unjuk hasil belajarnya. Untuk kerusakan yang berat akan menyebabkan kehilangan kemampuan untuk memproses informasi linguistik yang diperoleh melalui pendengarannya
  • Ketulian adalah kehilangan kemampuan pendengaran yang sifatnya sangat berat. Kondisi ini mempengaruhi unjuk hasil belajar.
  • Kesulitan mendengar adalah ketidak mampuan mendengar yang sifatnya berat tetapi belum termasuk dalam kategori tuli

Kehilangan kemampuan pendengaran dibagi menjadi 2 macam yaitu:
  • Kehilangan pendengaran yang sudah terjadi pada saat lahir disebut sebagai kehilangan pendengaran bawaan (congenital hearing loss).
  • Apabila kehilangan kemampuan ini terjadi sesudah anak lahir disebut kehilangan pendengaran (adventitious hearing loss)

Penyebab terjadinya kehilangan kemampuan pendengaran antara lain: Infeksi intrauterus yang berasal dari campak jerman, cytomegalovirus, herpes simplex virus; Lahir prematur; Diabetes karena kehamilan; Toxemia selama kehamilan; Kekurangan oksigen sebelum, saat dan sesudah lahir; Salah pembentukan struktur alat pendengaran; Bakteri meningitis; Otitis media; Salah minum obat; Campak; Enchepalitis; Cacar air; Luka di kepala; Terpajan oleh suara keras yang berulang kali.

Karakteristik Anak dengan Kesulitan Mendengar

Karakteristik anak-anak yang tuli atau kesulitan mendengar adalah:
  • Kesulitan dalam berkomunikasi. Anak yang tuli baik secara kualitas maupun kuantitas interaksi dan komunikasinya menjadi sangat jauh berbeda dengan anak normal.
  • Pembelajaran melalui pengalaman langsung menjadi terbatas. Mengingat kemampuan mendengarnya terganggu maka sumber-sumber pembelajaran yang diterimanya melalui pendengaran menjadi terbatas.
  • Secara kognitif tidak terlalu banyak berbeda dengan anak normal.
  • Secara akademik biasanya agak menonjol dibidang matematika, namun untuk bahasa dan membaca masih terus harus mendapat dukungan dari lingkungan sekitar agar terus berkembang.
  • Secara sosial emosional karena mereka terbatas dalam berinteraksi secara langsung di dalam kehidupan sehari-harinya seringkali hal ini membuat mereka mendapat pajanan untuk bahasa sosial emosional yang terbatas juga, akibatnya keterampilan sosialnya menjadi kurang berkembang.
  • Perilaku Anak-anak tersebut seringkali tidak diajak bermain oleh teman-teman yang bisa mendengar karena mereka sulit untuk menerima dan memahami perilaku sosial teman-temannya tersebut. Karena sulit memahaminya maka mereka pun jadi sangat terbatas perbendaharaan bahasa emosi padahal bahasa ini dapat membantu mereka untuk memahami perasaannya sendiri dan orang lain.
     

Kehilangan Kemampuan Penglihatan

Kehilangan kemampuan penglihatan adalah suatu kondisi dimana fungsi penglihatannya mengalami penurunan mulai dari derajat yang ringan hingga yang paling berat. Ada dua kategori besar yang tergolong dengan kehilangan kemampuan penglihatan yaitu: (1) Low vision yaitu, orang yang mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang berkaitan dengan penglihatan namun dapat menyelesaikan tugas tersebut dengan menggunakan strategi pendukung penglihatan, melihat dari dekat, penggunaan alat-alat bantu dan juga modifikasi lingkungan sekitar, (2) Kebutaan yaitu, orang yang kehilangan kemampuan penglihatan atau hanya memiliki kemampuan untuk mengetahui adanya cahaya atau tidak.

Karakteristik Anak dengan Kehilangan Kemampuan Penglihatan

Penyebab terjadinya kehilangan kemampuan penglihatan adalah karena adanya permasalahan pada struktur atau fungsi dari mata. Karakteristik dari anak dengan kehilangan kemampuan penglihatan:
  • Secara kognitif mengalami gangguan karena memiliki keterbatasan dalam variasi dan rentang pengalaman yang didapatkan, mobilitas dan interaksi dengan lingkungan yang terhambat. Kehilangan pengalaman-pengalaman yang berharga melalui hal-hal yang telah disebutkan di atas dan juga kurangnya kesempatan untuk mengamati dan menirukan anak-anak dan orang dewasa lainnya memberikan dampak yang sangat bermakna bagi perkembangan kognitifnya. Namun pada beberapa orang dengan kehilangan kemampuan penglihatannya memiliki kemampuan kognitif yang baik bahkan berbakat.
  • Secara akademis apabila ia tidak mengalami keterbatasan secara kognitif maka ia dapat memperlihatkan hasil belajar yang baik asalkan lingkungan sekitar memberikan dukungan yang penuh dengan alat-alat bantu yang memadai.
  • Secara sosial dan emosional anak dengan kehilangan kemampuan penglihatan dapat mengalami kesulitan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial karena ia sulit untuk dapat mengamati, menirukan dan menunjukkan tingkah laku sosial yang tepat. Agar ketrampilan sosial ini dapat berkembang maka anak-anak tersebut harus mendapatkan instruksi yang sifatnya sistematis dan langsung yang berkaitan dengan aspek-aspek sosial emosional yang harus dilakukan.
  • Dalam berperilaku seringkali terlihat kurang matang, merasa terisolasi dan kurang asertif terutama sekali jika lingkungan kurang kondusif. Selain itu ada perilaku stereotip yang dimunculkan seperti mengerjapkan mata, menjentikan jari, menggoyangkan badan atau kepala, atau menggeliatkan badan. Hal ini sering muncul dikarenakan mereka kehilangan stimulasi sensori, terbatasnya gerakan dan aktivitas mereka dilingkungan, kurangnya interaksi sosial.

Gangguan Bicara dan Berbahasa

Menurut IDEA (Individuals with Disabilities Education Act) tahun 1997, gangguan ini mengacu pada gangguan komunikasi seperti gagap, gangguan artikulasi, gangguan bahasa, atau gangguan suara yang berdampak pada hasil pembelajaran seorang anak.

Berbahasa dapat diaplikasikan dalam dua hal yaitu:
  • Bahasa ekspresif mengacu pada kemampuan individu di dalam menghasilkan suatu bahasa. Misalkan: menyampaikan isi pikiran atau pendapat secara verbal.
  • Bahasa reseptif mengacu pada kemampuan individu memahami suatu bahasa. Misalkan: orang yang mengerti bahasa asing tetapi ia tidak dapat berbicara dalam bahasa asing tersebut.

Penyebab terjadinya gangguan bicara dan berbahasa pada anak dapat dilihat dari berbagai faktor yaitu:
  • Secara biologis, dimana masalah itu berkaitan dengan susunan saraf pusat atau struktur dan fungsi dari sistem lain di dalam tubuh. Misalkan: langit-langit mulut yang tidak sempurna, lidah yang tebal dan pendek.
  • Lingkungan, dimana anak yang mengalami gangguan ini dikarena mendapat infeksi telinga yang berulang yang berakibat mengganggu pendengarannya atau sampai membuat ketulian. Hal lain yang juga berkontribusi adalah penelantaran dan perlakuan salah pada anak.

Karakteristik dari Anak dengan Gangguan Bicara dan Berbahasa

  • Secara kognitif mereka dapat berada dalam rentang tingkat kemampuan kognisi yang tinggi hingga yang terbelakang.
  • Secara akademik, pada anak usia dini yang dituntut untuk dapat mengekspresikan hasil pikirannya secara verbal maka anak akan mengalami kesulitan. Di samping itu anak harus memahami bahasa tersebut yang kemudian digunakan untuk belajar membaca dan menulis. Diketahui bahwa keterampilan berbicara dan berbahasa itu akan dipergunakan dalam setiap aspek kegiatan sekolah, misalnya untuk mempelajari subyek matematika, seni, dan kesadaran lingkungan bahkan saat istirahatpun akan memerlukan bahasa.
  • Secara sosial emosional, biasanya anak akan memiliki masalah juga. Terutama berkaitan dengan konsep diri yang dimilikinya. Apabila lingkungan banyak yang mencemoohkan dirinya maka anak cenderung akan memiliki konsep diri yang negatif. Ketika anak mengalami kesulitan dalam menyampaikan isi pikirannya karena penggunaan artikulasi yang salah, menyebabkan orang lain tidak dapat memahaminya. Keadaan ini membuat anak merasa terisolasi oleh lingkungannya.
  • Tingkah lakunya seringkali tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Misalnya anak batita yang kesulitan bicara ketika keinginannya tidak dapat dimengerti oleh orang lain maka batita tersebut akan berperilaku agresif dan tingkah laku ini tidak dapat diterima oleh lingkungannya. Dengan bertambahnya usia dari anak dengan gangguan bicara dan berbahasa ini apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat maka ia akan cenderung untuk menjadi lebih bermasalah dalam berperilaku.

Apabila orangtua atau guru menemukan anak dengan gangguan bicara dan berbahasa maka mereka harus segera merujuk kepada ahlinya yaitu dokter Telinga Hidung dan Tenggorokan dan mengikuti terapi yang disarankan. Beberapa rekomendasi berikut ini dapat dilakukan sebagai strategi pendidik dan sekolah dalam menangani anak dengan gangguan bicara dan bahasa (Ormrod, 2009 : 241):
  • Doronglah komunikasi lisan yang teratur : ajak anak untuk mulai berbicara di depan kelas. Hal ini dapat membantu mereka untuk berlatih bicara dan komunikasi.
  • Jadilah pendengar yang sabar : jangan tergoda untuk membantu anak dengan menyelesaikan kalimat yang sedang mereka buat. Biarkan mereka menuangkan pikiran secara mandiri dan berikanlah waktu ekstra sebagai pendengar.
  • Mintalah penjelasan ulang (klarifikasi) ketika suatu pesan yang disampaikan tidak jelas : jelaskan kata-kata yang dipahami pendidik dari pernyataan anak dan minta mereka untuk menjelaskan sisanya. Hal ini juga menjadi indikator bagi anak mengenai sebaik apa mereka berkomunikasi.


Gangguan Fisik

Gangguan ini biasanya berpengaruh pada gerakan kasar dan gerakan halus dari seseorang. Gangguan ini bisa bersifat ringan hingga yang berat. Penyebab dari gangguan fisik ini dapat dibagi menjadi tiga yaitu:


Karakteristik Anak Dengan Keterlambatan Perkembangan Fisik
  • Kelainan bawaan yang menyebabkan terjadinya telapak kaki rata, jumlah anggota tubuh yang tidak lengkap atau berlebih.
  • Penyakit seperti poliomyelitis, TBC tulang dll
  • Penyebab lain seperti gangguan neurologis dan lingkungan, yang menyebabkan cerebral palsy, spina bifida, amputasi, retak atau terbakar.

Karakteristik Anak dengan Gangguan Fisik

  • Secara kognitif dan akademik, anak dengan gangguan fisik akan memiliki fungsi kognitif dengan rentang dari yang rendah hingga yang tinggi. Sehingga anak-anak yang mengalami gangguan fisik namun memiliki kemampuan kognitif yang baik maka ia akan dapat berkembang dengan baik, asalkan gangguan fisiknya dapat ditangani dengan baik. Misalkan anak yang tidak memiliki kaki yang lengkap namun pintar ia dapat masuk sekolah dimana sekolah itu memberikan fasilitas yang cukup sehingga anak tersebut tidak memperoleh kesulitan mengakses kelas dan ruang-ruang lainnya.
  • Secara perilaku, anak dapat terganggu apabila gangguan yang dimilikinya itu menghambat gerakan, interaksi dengan orang lain. Sehingga anak perlu mendapat keterampilan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan dan diperlukannya.
  • Secara emosional, pada umumnya anak dengan gangguan fisik ini akan memiliki konsep diri yang rendah. Oleh karena itu harus terus didukung dan dikembangkan konsep diri yang positif pada anak tersebut.
  • Secara sosial, anak dengan gangguan fisik sangat memerlukan bantuan orang lain untuk dapat berinteraksi dengan teman sebayanya. Mereka memerlukan akses yang sesuai sehingga gangguan fisik yang dimilikinya tidak terhambat.
  • Secara fisik dan medis, anak dengan gangguan ini akan memiliki kondisi fisik dan medis yang berbeda dengan anak secara umum dan memerlukan perhatian yang khusus.

Semoga bisa menambah wawasan sahabat-sahabat membumikan pendidikan.


Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon