Tuesday, October 28, 2014

Pendekatan Pembelajaran Dengan Sentra (Learning Centre)

Pendekatan Pembelajaran Dengan Sentra (Learning Centre) - Secara sederhana, sentra bisa diarti kan sebagai suatu wadah yang disiapkan guru bagi kegiatan bermain anak. Melalui serangkaian kegiatan main tersebut, guru mengalirkan materi pembelajaran yang telah disusun dalam bentuk lesson-plan. Rangkaian kegiatan itu harus saling berkaitan dan saling mendukung untuk mencapai tujuan belajar harian dan tujuan belajar pada semua sentra dalam satu hari harus sama. Setiap sentra memiliki center point dan semua mengacu pada tujuan pembelajaran yang telah direncanakan tim guru.

Tidak ada keharusan bagi setiap lembaga untuk menyiapkan banyak sentra, bergantung dari kemampuan lembaga dan kesiapan guru. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana tujuh kecerdasan dasar sesuai dengan teori Kecerdasan Jamak (Multiple Intelegences) yang dicetuskan Howard Gardner dan enam domain berfikir pada anak sebagaimana unsur yang dibangun secara terpadu melalui kegiatan-kegiatan di sentra. Kegiatan sentra dijalankan dengan tema-tema belajar yang serempak dan akan berganti dalam periode tertentu. Setiap sentra juga secara terpadu membangun anak dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan tiga (3) jenis main, yaitu main sensorimotor, main peran, dan main pembangunan.

Dalam pendekatan Sentra, ada tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan, mulai saat anak memasuki lingkungan sekolah kelompok mainnya hingga menyelesaikan kegiatan bermain dan kembali menuju rumah. Setiap tahapan itu terekam dalam laporan harian kegiatan guru, yang akan menjadi bahan untuk mengukur perkembangan anak, serta pada akhirnya memberikan respond dan stimulasi yang tepat agar kemampuan anak berkembang secara optimal.

Secara garis besar, perekaman kemampuan setiap anak mengacu pada tolak ukur kemampuan klasifikasi yang dibangun melalui serangkaian aktivitas yang menggunakan benda-benda (mainan) konkret. Dengan bendabenda itu anak mengenal warna, bentuk dan ukuran. Secara bertahap pula anak belajar untuk mengenal ciri-ciri, tanda-tanda dan sifat-sifat benda dan kejadian. Kemampuan mengklasifikasi dibangun, baik saat bermain maupun saat membereskan mainan. Terbangunnya kemampuan klasifikasi pada hal-hal yang konkret adalah bekal mutlak anak agar kelak mereka mampu mengklasifikasi hal-hal yang abstrak, mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta terbiasa menyikapinya dengan tepat.

Dalam hal penerapan disiplin, misalnya, sering guru atau orangtua menghadapi masalah atau bahkan tidak tahu lagi bagaimana upaya mendisiplinkan anak. Keadaan ini biasanya bermuara pada hukuman, yang umumnya justru kontra produktif bagi perkembangan anak. Yang kerap tidak disadari oleh orangtua atau guru adalah, bagaimana anak sanggup melakukan sesuatu sesuai dengan aturan atau yang sering dikenal hidup yang berdisiplin, jika dia belum memiliki referensi yang kuat menyangkut makna disiplin.

Pendekatan Pembelajaran Dengan Sentra (Learning Centre)

Sentra membantu anak mendapatkan referensi itu, antara lain, dengan cara simulasi langsung menyangkut suatu aturan. Anak menjadi mengerti mengapa dan untuk apa aturan itu dibuat. Contoh, pada saat main balok, anak belajar memahami bahwa balok digunakan untuk membangun. Jika balok digunakan untuk hal lain bisa menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun orang lain karena sifat dan bentuknya, yaitu terbuat dari kayu dan mempunyai sudut.

Contoh lain, aturan agar anak berjalan jika berada dalam ruangan. Jika anak berlari, maka bisa menimbulkan tabrakan, baik dengan orang maupun dengan benda-benda. Anak diajak untuk menemukan pengertian bahwa berlari bisa dilakukan di lapangan berumput, karena disana tidak banyak orang-orang maupun benda-benda dan jika dia jatuh tidak akan berbahaya.

Signifikansi Learning Centre

Salah satu elemen penting yang membedakan pendekatan sentra dengan pendekatan kelas tradisional adalah pengajaran tidak langsung (non-direct teaching). Pada program ini guru tidak menyuruh, tidak melarang dan tidak boleh marah pada anak. Apapun yang dilakukan oleh anak itu muncul dari anak itu sendiri, guru dapat membantu dengan memberikan pijakan pada anak. Pendekatan Sentra menekankan proses pembelajaran yang berpusat pada anak, sedangkan guru lebih berfungsi sebagai moti vator dan fasilitator.

Menurut Jean Piaget (1972), anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru, tentu saja, bisa menuntut anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dalam memahami sesuatu ia harus membangun pengertian itu sendiri. Ia harus menemukannya sendiri. Elemen ini penting karena dengan menemukan sendiri pengetahuannya melalui pengalaman-pengalaman bermain yang menyenangkan, pengetahuan itu akan memiliki akar yang kuat karena menyatu dalam proses perkembangan kemampuan berpikir anak. Selain itu, seperti kata Holt (1964);
Kita tidak mengetahui pengetahuan apa yang paling diperlukan anak di masa depan, oleh karena itu, tidak ada gunanya untuk mengajarkan sekarang. Sebaiknya kita membantu anak sekarang untuk makin mencintai dan makin pandai belajar sehingga dapat belajar segala sesuatu pada saat dibutuhkan.
Dalam pendekatan Sentra, anak dirangsang untuk aktif belajar melalui kegiatan bermain. Seluruh kegiatan pembelajaran berfokus pada anak sebagai subyek pembelajar, sedangkan pendidik lebih banyak berperan sebagai motivator dan fasilitator dengan memberikan pijakanpijakan (Scaff olding). Pijakan itu dapat digambarkan seperti dalam proses pengecoran bangunan bertingkat. Untuk mendapatkan kondisi lantai bagian atas yang kokoh, diperlukan tiang-tiang penyangga saat mengecornya. Bila betonnya sudah keras, maka bangunannya telah kokoh, tiang-tiang penyangga dapat dilepas karena tidak dibutuhkan lagi.

Semua itu dilakukan selama anak bermain. Dalam pendekatan ini anak diberi kesempatan untuk bermain secara aktif dan kreatif di sentra-sentra pembelajaran yang tersedia guna mengembangkan dirinya. Sentra digunakan sebagai wadah kegiatan bermain anak. Dengan Sentra, kemampuan dan keterampilan anak dibangun melalui bermain tanpa tekanan dan paksanaan dari guru dan lingkungan. Anak tidak disuruh duduk rapi dan tangan dilipat di atas meja untuk mendengarkan pengajaran guru.

Sentra membuat anak belajar dengan gembira dan senang. Suasana nyaman dan menyenangkan sangat disarankan. Karena, jika anak dalam kondisi tertekan, kecewa, sedih atau marah (emosi negatif), maka ia tidak akan dapat belajar. Berdasarkan teori yang lahir dari penelitian perkembangan otak, otak pusat berpikir manusia tidak akan berfungsi jika dalam keadaan emosi. Dengan memposisikan anak sebagai subjek bukan objek, dapat membuat seluruh potensi kecerdasan bisa dibangun dan membuat mereka akan tumbuh menjadi anak yang kreatif.

Elemen penting lain dalam pendekatan sentra adalah perhatian intensif pada evaluasi perkembangan kemampuan anak secara individual. Elemen ini mengharuskan adanya aktivitas perekaman perkembangan anak secara individual setiap hari. Secara kontinyu hasil perekaman itu menjadi bahan untuk respons atau stimulasi selanjutnya.

Semoga bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon