Wednesday, October 29, 2014

Pengelolaan Kegiatan Bermain Pada Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini - Pada kesempatan yang berbahagian kali ini membumikan pendidikan akan menguraikan tentang pengelolaan kegiatan bermain pada pendidikan anak usia dini (PAUD). Dimana dalam pengelolaan kegiatan bermain pada pendidikan anak usia dini ini ada sedikitnya 5 (lima) aspek yang harus diperhatikan. Kelima aspek tersebut diantaranya adalah;
  • (1) Penataan Lingkungan Main;
  • (2) Pijakan Awal Main
  • (3) Saat Main
  • (4) Beres-Beres; dan
  • (5) Recalling.

Kelima aspek di atas akan diuraikan di bawah ini. Baca juga: Makna Bermain bagi Perkembangan Anak Usia Dini

Lima Aspek Pengelolaan Kegiatan Bermain

Penataan Lingkungan Main
Penataan lingkungan main merupakan bagian yang penting dalam kegiatan belajar dan mengajar. Penataan lingkungan main yang bermutu harus dapat mengembangkan seluruh perkembangan anak yang menjadi tujuan sentra yaitu dapat membangun seluruh domain perkembangan berpikir anak, membangun tujuh kecerdasan dasar (multiple intelligent) dari semua anak yang datang ke sentra. Lingkungan main dapat di tata di dalam maupun di luar ruangan.

Baca juga: Perkembangan dan Lingkungan Anak Usia Dini

Penataan lingkungan main yang bermutu dan kaya di sentra juga harus mendukung perkembangan anak melalui tiga jenis main; main sensorimotor, main simbolik dan main pembangunan (Weikart, Rodgers, & Adcock, 1971, Erik Erikson, Jean Piaget, Lev Vygotsky, dan Anna Freud), mencakup sejumlah bahan bermain yang penataannya dapat mendukung perkembangan interaksi social di antara anak, serta perkembangan keaksaraan anak. Warna penataan ruang dan bahan yang direncanakan dapat berpengaruh positif atau negative pada perilaku anak usia dini (Torelli & Durrentt , 1998) (Hohman & Weikart, 1995) (Kritchevsky, Prescott , & Walling, 1969).

Baca juga: Model Pembelajaran dengan Pendekatan Sentra di PAUD

Idealnya luas tempat main untuk tiap anak di sentra ini minimal 7 meter persegi. Bila terdapat 10 anak main disentra ini, maka luas tempat yang harus disediakan adalah 70 meter persegi. Tempat main yang harus disediakan untuk tiap anak 2,5 – 3+ (baca: 2 ,5 - 3 lebih) (Phelps, 1986) yang arti nya bila untuk 10 anak, maka guru harus menyiapkan tempat main sebanyak 30 atau lebih tempat main.
Pengelolaan Kegiatan Bermain Pada Pendidikan Anak Usia Dini
Penataan alat main di tiap tempat kegiatan main haruslah luwes sehingga terhindar dari kesan penuh sesak, anak dapat bergerak bebas diantaranya, dan kemungkinan terjadinya konflik dengan yang lain dapat dihindari. Penataan lingkungan main disentra dapat meningkatkan kemampuan berfikir anak, daya imajinasi berupa ide/gagasan yang muncul saat pertama kali anak masuk dan melihat kedalamnya, akan melakukan apa selama kegiatan main berlangsung nanti.

Cara menata alat akan mempengaruhi anak untuk bergerak naik ketahap selanjutnya. Penataan lingkungan merupakan guru ketiga bagi anak. Perlu diperhati kan alat-alat main yang aman, bersih dan sehat bagi anak Kerja ini dibukti kan oleh penelitian di Florida yang dilaksanakan di Creative School pada tahun 1986 (Phelps, 1986). Dengan menggunakan kerja Kritchevsky dan kawan-kawan dan Phelps, dijelaskan bahwa guru anak usia dini seharusnya menggunakan sistem penghitungan tempat main untuk menjaga agar bahan main bermutu dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Kritchevsky dan kawan-kawan, menyarankan bahwa tempat main dimana anak dapat bergerak dengan bebas dan memilih kegiatan mereka seharusnya dua setengah (2,5) tempat main setiap anak.

Penelitian Phelps (1986) dan pengamatan langsung dalam kelas (Stannard, 2002) menyarankan tiga tempat main setiap anak untuk perkembangan anak usia dua, tiga, dan empat tahun. Jika satu ruang kelas mempunyai 20 anak yang akan bergerak di sekitar ruangan memilih kegiatan, disitu harus ada 60 tempat yang direncanakan untuk bermain. Tempat ini bukan 60 kegiatan main yang berbeda, tetapi 60 kemungkinan tempat dengan sedikitnya 12+ kegiatan main yang berbeda. Bila dua orang guru berada di dalam kelas dan satu guru sedang mengarahkan kegiatan seperti memasak atau pengalaman seni, sejumlah anak yang terlibat dapat dikurangi dari jumlah keseluruhan anak yang akan secara bebas membuat pilihan. Contoh:
Delapan sampai dengan sepuluh anak memasak kue dengan satu orang guru. Bila delapan sampai dengan sepuluh anak dikurangi dari jumlah keseluruhan kelompok, jumlah tempat pilihan yang bebas harus sebanyak 24-30 tempat main.

Penataan lingkungan main disentra dapat meningkatkan kemampuan berfikir anak, daya imajinasi berupa ide/gagasan yang muncul saat pertama kali anak masuk dan melihat kedalamnya, akan melakukan apa selama kegiatan main berlangsung nanti. Cara menata alat akan mempengaruhi anak untuk bergerak naik ketahap selanjutnya. Penataan lingkungan merupakan guru ketiga bagi anak.
Pijakan Awal Main
  • Menyambut dan mengajak anak untuk berkumpul di tempat yang telah disiapkan, mengucapkan berbagai cara seperti bernyanyi untuk mengambil perhatian anak.
  • Bacakan buku cerita dan nyanyikan lagu-lagu sesuai dengan tema dan minat anak.
  • Mendiskusikan aturan main untuk kelancaran dan kenyamanan main, antara lain: (1) Fokus, main sesuai keinginan yang disepakati; (2) Kontrol diri dalam berinteraksi dengan teman/anak lain dalam menggunakan alat main; (3) Beres-beres, selesai bermain kembalikan alat ke tempatnya (sesuai lebel pada tempatnya).

Sebelum kegiatan main berlangsung guru menginformasikan pada anak, siapa saja yang akan bermain bersama-sama, alat-alat apa yang akan dimainkan, berapa jumlah alat tersebut dan berapa orang yang akan memainkannya, serta sikap-sikap apa yang dibutuhkan untuk mendukung kelancaran main tersebut.
Guru juga menginformasikan pada anak kegiatan apa yang akan dilakukan selesai main di sentra. Membereskan bersama-sama semua alat main yang dimainkan kembali ketempatnya semula sesuai dengan klasifikasi yang telah dipersiapkan oleh guru. Menata kembali area main untuk kegiatan selanjutnya, memastikan area main kembali bersih dan rapi, memasti kan tidak ada barang yang terti nggal ataupun tercecer. Kegiatan beres-beres merupakan bagian main yang juga penting, kegiatan ini dapat membangun anak antara lain, anak belajar konsep-konsep tentang warna, bentuk, ukuran, menghitung, klasifikasi, perbedaan, persamaan dan urutan. Motivasi untuk beres-beres bisa dilakukan dengan cara menyanyi lagu yang berisi ajakan atau lagu-lagu yang sudah dipilih sesuai mana pada hari itu.
Mengenalkan tempat-tempat main dan batas tempat main dengan sentra yang lainnya untuk mendukung control gerak anak dengan cara mendatangi tempat-tempat tersebut (tour). Tidak lupa mengajak berdoa sebelum kegiatan main dimulai serta memberikan motivasi main dengan ucapan “selamat bermain”.
Saat Main
Saat kegiatan main berlangsung, guru bergerak bebas diantara anak, mengamati anak bermain, membuat catatan perkembangan yang ditampilkan anak, saat berada disekitar anak, guru memposisikan dirinya dapat mengamati keseluruhan anak tetapi tidak mengganggu dinamika gerak anak main. Mencatat kegiatan pertama yang dilakukan anak merupakan informasi bagi guru tentang pemahaman anak melalui main yang dipilihnya.

Guru memfasilitasi main anak dengan dukungan pendekatan yang “pas” yang dibutuhkan oleh masing-masing individu anak, baik dengan “modeling maupun labeling”. Itu sebabnya penting bagi guru untuk faham perkembangan anak yang datang ke sentranya, baik secara individu maupun kelompok guna mencapai hasil dalam bermain.

Ada 5 skala pendampingan Guru/orang dewasa di waktu anak main;
  • Pengamatan (Visually looking on)
  • Pernyataan tidak langsung (Non directive statement).
  • Pertanyaan (Question)
  • Pernyataan langsung (Directive statement)
  • Intervensi fisik

Saat interaksi main berlangsung guru juga merupakan sumber informasi bagi anak, memberikan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membangun dan menambah pengetahuan anak dalam kegiatan mainnya.
Beres-beres
Kegiatan beres-beres merupakan bagian penting pada kegiatan sentra, saat yang tepat untuk membangun semua domain perkembangan anak (estetik, afeksi, kognisi, bahasa, psikomotor, dan social), diakhir kegiatan main anak. Pengalaman langsung bagi anak untuk “bekerja tuntas” hingga semua alat kembali ketempatnya semula. Pengalaman langsung belajar mengklasifi kasikan alat main berdasarkan warna, bentuk, ukuran serta fungsi alat, belajar tentang urutan dan menata lingkungan.

Setiap tempat diberi nama dengan maksud untuk memudahkan bagi anak bersama-sama guru bekerja menyimpan alat main kembali ketempat semula. Pemberian nama merupakan salah satu dukungan perkembangan keaksaraan anak. Guru juga bisa memberikan pijakan dengan pertanyaan. Keterlibatan anak dalam beres-beres akan meningkatkan rasa tanggungjawab pada anak yang tak ternilai harganya.
Recalling
Setelah kegiatan beres-beres selesai, guru mengajak anak untuk berkumpul duduk membuat lingkaran, mengingat kembali kegiatan-kegiatan apa saja yang telah dilakukan. Masing-masing anak saling menceritakan pengalaman mainnya secara sederhana.

Pada kegiatan ini penting bagi guru untuk memiliki kemampuan dalam mengingat kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh semua anak yang main saat itu. Sehingga dapat membantu mereka untuk dapat mengingat pada bagian tertentu yang “terlupa”. Untuk menjaga kelengkapan hasil kegiatan yang telah berlangsung, guru membuat catatan observasi kegiatan main anak.

Kegiatan “recalling” merupakan saat guru mengetahui sejauh mana tujuan sentra dicapai oleh anak, menambah dan menguatkan pengetahuan yang dimiliki sesuai rencana belajar yang telah dibuat. Membungkus semua informasi yang telah didengar dari anak, menyaring informasi-informasi yang terkumpul (mana yang sesuai dan mana yang tidak) dan menambahkannya sesuai materi yang telah dirancang pada hari itu, membuat pengarahan yang menguatkan pengetahuan anak sebelum kegiatan sentra diakhiri dengan menyanyi dan salam. Adapun Manfaat Recalling adalah:
  • Anak dapat mengulang dengan mengingat kembali pengalaman mainnya dan menceritakannya.
  • Anak dapat mengembangkan kemampuannya dalam membuat deskripsi dari apa yang telah mereka lakukan (termasuk menceriterakan hasil karyanya).
  • Anak dapat mendengarkan pengalaman main dengan temantemannya yang lain, sehingga mereka dapat menambah dan memperluas gagasan mereka.
  • Anak dapat membangun konsep-konsep yang baru maupun yang lebih luas.

Demikianlah uraian tentang pengelolaan kegiatan bermain pada pendidikan anak usia dini (PAUD). Semoga bermanfaat dan bisa membuka wawasan serta khazanah keilmuan sahabat-sahabat.

Advertisement

2 komentar

Mendidik anak harus sejak dini namun meteri yang di ajarkan juga harus sesuai dengan usia si anak
www.peluangproperti.com

Sepakat om Bsf Admin, dalam konteks kekinian hal itulah yang sedang diperlukan, di samping materi, cara penyampaian juga hendaknya direlefansikan dengan karakterisik usia anak. Terima kasih sudah mampir om Bsf Admin.

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon