Saturday, November 08, 2014

Hambatan-Hambatan dalam Perkembangan Komunikasi Anak Usia Dini

Hambatan-Hambatan dalam Perkembangan Komunikasi Anak Usia Dini - Anak-anak usia dini adalah manusia yang utuh tapi belum sempurna secara mental dan pikirnya. Perasaan anak sudah ada sejak lahir dan semakin tumbuh kembang semakin sempurna perasaan anak. Terkadang orang tua meniadakan perasaan dan pikir anak ini sehingga menghambat komunikasi anak terhadap orang tuanya. Kebutuhan dasar anak adalah didengarkan, dimengerti, dihargai dan dipahami perasaannya. Sedang selama ini orang tua banyak yang menganggap bahwa orang tualah yang harus didengar.

Anak-anak seringkali belum mampu mengatakan apa yang dirasakan dan diinginkan karena keterbatasan kosa kata, maka anak lebih banyak menggunakan bahasa tubuh untuk ekspresikan perasaan dan pikiranya. Misalnya anak mengatakan, “bu, aku benci sama bu guru, karena tadi memarahi aku di depan kelas”. Kemudian ibunya bisa dipastikan akan menjawab, “pasti kamu melakukan kesalahan makanya bu guru marah sama kamu. Kalau kamu gak salah, gak mungkin bu guru tiba-tiba memarahimu”. Ini adalah pikiran orang tua tanpa memahami perasaan anak dibalik kata-kata benci.

Hambatan-Hambatan dalam Perkembangan Komunikasi Anak Usia DiniHambatan-hambatan komunikasi anak terhadap orang tua maupun teman sejawatnya adalah sering orang tua tidak bisa membaca bahasa tubuh anak-anak dan tidak bisa memahami perasaan anak serta 12 gaya komunikasi populer yang dilakukan orang tua. Pemahaman perasaan anak ini kadang memang susah diartikan, misalnya anak pulang dari sekolah sambil lesu dan tegang. Sampai rumah langsung bilang “ulanganku jelek dan temen-temen meledeki aku”. kadang orang tua hanya memandang saja dan bilang “gitu saja lemes, makanya belajar”. atau anak kelihatan lemes dan tidak bergairah, kadang orang tua hanya bilang “tuh kan sudah dibilangi, jangan lari-lari, sakitkan sekarang”. anak sebenarnya tidak butuh diingatkan atau dimarahi seperti itu, tetapi butuh pelukan dan kasih sayang, butuh ditenangkan. Orang tua seharusnya memahami bahasa tubuh anak sehingga bisa memahami perasaan anak agar komunikasi antara anak dan orang tua bisa berjalan wajar dan anak tidak terkendala dalam berkomunikasi.

12 Gaya Orang Tua dalam Berkomunikasi

Hambatan yang paling besar komunikasi anak adalah 12 gaya populer orang tua dalam berkomunikasi. 12 gaya populer itu adalah:
Memerintah
Tujuan orang tua memerintah adalah orang tua ingin mengendalikan masalah dengan cepat dan praktis. Pesan yang ditangkap anak adalah mereka harus patuh, tidak boleh membantah dan anak tidak punya pilihan lain. Dengan komunikasi model seperti ini anak jadi terbiasa tidak mau berkomunikasi karena dalam dirinya ada anggapan bahwa berkomunikasipun akan percuma karena tidak akan dindengar oleh orang tuanya. Misalnya, anak bilang “pak, aku gak mau berangkat sekolah”. Kalau bapaknya menjawab “apa-apaan sih, kenapa jadi malas begitu, pokoknya besok harus berangkat sekolah”. Untuk membiasakan anak berkomunikasi seharusnya diajak dialog kenapa gak mau berangkat sekolah.
Menyalahkan
Tujuan orang tua menyalahkan adalah orang tua ingin menunjukan kesalahan anak sehingga tidak diulang kembali, tetapi pesan yang ditangkap anak adalah anak merasa tidak pernah benar dan baik. Dengan komunikasi seperti ini anak menjadi tidak mau berkomunikasi karena berkomunikasi yang benar maupun baik tetap saja merasa tidak dianggap oleh orang tuanya. Misalnya anak bilang kepada ibunya “bu, kakiku luka nih…sakit sekali. Tadi habis jatuh..” Dan ibunya akan bilang “Nah, kan? Dari tadi ibu bilang jangan lari-lari, makanya jatuh.. Ga pernah mau dengerin ibu sih”. Sejak itu anak akan males kalau punya masalah bilang ke ibunya, karena kalau bilang maka akan disalahkan.
Meremehkan
Tujuan orang tua meremehkan adalah menunjukan ketidakmampuan anak dan merasa orang tua merasa lebih mampu, tetapi pesan yang diterima oleh anak adalah anak merasa tidak berharga dan tidak mampu. Dengan model komunikasi seperti ini anak tidak memiliki kepercayaan diri untuk berkomunikasi, karena baru mau berkomunikasi sudah dianggap tidak mampu. Misalnya, anak bilang “pak, aku gak bisa mewarnai gambar ini”, kalau bapaknya menjawab, “masa mewarnai seperti ini saja tidak bisa, bisanya apa dong?”. Kalau terjadi seperti itu maka anak punya kecenderung males berkomunikasi dengan ayahnya, karena dia tidak mau diremehkan lagi.
Membandingkan
Tujuan orang tua membandingkan ini adalah orang tua ingin memberi motivasi dengan memberi contoh orang lain, tetapi pesan yang diterima anak adalah anak merasa tidak disayang, pilih kasih dan merasa dirinya selalu jelek. Dengan model komunikasi seperti ini anak merasa tidak berharga dan rasa percaya dirinya menjadi rendah. Misalnya, anak bilang “aku mau digosoki gigi sama ibu”. Kalau ibunya menjawab “iih.. masa sudah besar masih dibantu,...lihat adikmu sudah bisa gosok gigi sendiri”. kalau terjadi seperti ini maka anak akan males untuk berkomunikasi dengan ibunya karena merasa tidak berharga dan bodoh dibandingkan dengan adiknya.
Mencap
Tujuan orang tua mencap adalah ingin memberi tahu kekurangan anak, tetapi pesan yang diterima oleh anak adalah merasa anak yang seperti itu dan merasa tidak berdaya. Misalnya Anak bilang: “bapak.. gendong pak…aku ga mau jalan..dengkulku sakit nih”. Kalau bapaknya menjawab “Kamu ini memang anak cengeng, begini saja minta gendong. Jalan sendiri..!”. Kalau komunikasi model ini diterapkan maka anak akan tidak mau berkomunikasi dengan bapaknya, karena kalau berkomunikasi akan dicap sebagai anak yang tidak mampu dan tidak berharga.
Mengancam
Tujuan orang tua mengancam adalah agar anak patuh dan menurut dengan proses yang cepat, tetapi pesan yang diterima oleh anak adalah anak merasa cemas dan mengalami ketakutan. Dengan model komunikasi seperti ini anak merasa takut untuk berkomunikasi dengan orang tuanya. Misalnya, anak bilang “ibu, tungguin....bantuin aku pakai sepatu”. Kalau ibunya menjawab “Pakai sendiri ah. Cepetan, ntar ibu tinggal lo..Biar kamu pulang sendiri”. kalau komunikasi seperti ini terjadi berulang kali maka anak tidak mau berkomunikasi dengan ibunya, karena kalau mau berkomunikasi maka anak akan dimarahi dan terancam.
Menasehati
Tujuan orang tua menasehati adalah agar anak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi pesan yang diterima oleh anak adalah orang tuanya terlalu bawel, sok tahu dan membosankan. Model komunikasi seperti ini membuat anak merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa dibandingkan dengan orang tuanya. Misalnya, anak bilang “bu, tadi Rahma ngetawain aku”. Kalau ibunya menjawab “Makanya kamu jangan suka ngetawain orang, kalau dibalas begitu baru tahu rasanya kan? Lain kali sama teman yang baik, jangan maumu sendiri”. kalau kaomunikasi model seperti ini terjadi berulang kali, maka anak akan merasa jemu berkomunikasi dengan orang tuanya.
Membohongi
Tujuan orang tua membohongi adalah agar urusan menjadi gampang dan mudah serta anak tidak bertanya-tanya lagi, tetapi pesan yang diterima oleh anak adalah semua orang dewasa tidak dapat dipercaya dan suka bohong. Komunikasi model seperti ini juga menciptakan anak suka berbohong, karena melihat orang tuanya. Misalnya, anak bertanya pada bapaknya, “bapak, kenapa sih bulannya cuma kelihatan setengah”, kalau bapaknya menjawab, “iya, kan yang setengah dimakan raksasa”. Kalau anak mengetahui yang sebenarnya, maka anak akan males untuk berkomunikasi dengan bapaknya, karena menganggap bapaknya suka berbohong.
Menghibur
Tujuan orang tua menghibur adalah agar anak tidak sedih atau kecewa, sehingga anak jadi senang dan tidak larut dalam kesedihan, tetapi pesan yang diterima oleh anak adalah anak tidak suka dihibur, karena kemarahan anak pada teman sejawat atau pada orang tua itu bersifat spontan dan cepat hilang. Jadi hiburan terhadap anak sebenarnya sangat tidak diperlukan. Misalnya anak bilang ke bapaknya, “pak, aku ngga mau temenan sama ruri..dia suka nakalin aku...”. kalau bapaknya menjawab “ya sudah....berteman sama yang lain saja, kan masih banyak temen yang lain”. Sebenarnya anak tidak butuh dihibur seperti itu karena anak hanya mengekspresikan rasa ketidak senangannya pada saat itu juga, tetapi besoknya pasti pasti berteman juga sama temannya itu.
Mengkritik
Tujuan orang tua menghibur adalah agar anaknya memperbaiki kesalahan dan meningkatkan kemampuan anak tersebut, namun pesan yang diterima anak adalah diri anak akan selalu merasa kurang dan salah. Pada dasarnya anak tidak suka dikritik karena akan kehilangan motivasi dan percaya diri. Misalnya anak bertanya pada bapaknya “bapak, nih aku sudah selesai mewarnai”. Kalau bapaknya mengkritik dan menjawab “ masak begini dibilang selesai, coba lihat masih banyak yang belum diwarnai”. Kritikan terhadap anak kadang membuat anak males untuk berkomunikasi dengan orang tua, karena kalu berkomunikasi takut untuk dikritik.
Menyindir
Tujuan orang tua menghibur adalah memotivasi, mengingatkan agar tidak selalu melakukan kesalahan dengan cara menyatakan yng sebaliknya, namun pesan yang diterima anak adalah hal itu sangat menyakitkan hati dan perasaan anak. Misalnya anak bilang “aku gak mau minum vitaminnya, rasanya ga enak”, kalau bapaknya menjawab “ooo, kakak suka ya kalau sakit...vitamin kan membuat badan jadi ga gampang sakit...kalau gak mau berarti kakak emang seneng sakit ya”. Sindiran akan membuat anak males untuk berkomunikasi dengan orang tuanya karena anak merasa sakit hati dan merasa lemah.
Menganalisa
Tujuan orang tua menganalisa adalah orang tua mencari penyebab sisi positif dan negatif anak atau kesalahan anak dan berupaya mencegah agar tidak melakukan kesalahn yang sama lagi, namun pesan yang diterima anak adalah menganggap orang tua sok pintar dan sok tahu perasaan anak. Misalnya anak bilang ke bapaknya “bapak, aku gak mau belajar sepeda lagi”. Ketika bapaknya menjawab “itu karena cara belajarmu yang salah, mestinya tanganmu jangan kaku dan pandangan harus ke depan, kamu kan selalu melihat ke bawah, terus rambutmu itu mestinya dikuncir biar kamu bisa leluasa bergerak gak bingung aja sama rambut”. Orang tua punya kecenderung untuk mengukur kemampuan anak itu sama dengan kemampuannya. Kalau komunikasi semacam ini terus menerus dilakukan, maka anak akan males untuk berkomunikasi dengan orang tuanya, karena anak menganggap orang tuanya tidak tahu perasaan dan usaha anak.

Dari pemahaman 12 gaya pengasuhan yang populer ini, maka orang tua merasakan betapa pentingnya memahami bahasa tubuh anak, jadi orang tua bisa menebak suasana hati anak. Kalaupun salah menebaknya, anak akan memberikan petunjuk sampai kita bisa tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak dan anak sendiri akhirnya mengenali perasaan apa yang dia rasakan.

Semoga dapat bermanfaat...

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon