Sunday, November 16, 2014

Karakteristik dan Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)

Karakteristik dan Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) - Pada postingan sebelumnya, membumikan pendidikan telah share bagaimana konsep dasar dari pembelajaran berbasis masalah berikut pengertiannya. Dan pada kesempatan kali ini, membumikan pendidikan akan sedikit mengupas bagaiamana karakteristik dari pembelajaran berbasis masalah itu sendiri berikut langkah-langkah pembelajarannya.

Sebagai pendahuluan, membumikan pendidikan sekali lagi akan menjelaskan apa itu pembelajaran berbasis masalah (PBM) atau dalam bahasa inggris familiar dengan Problem Based Learning (PBL). Langsung saja, pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengguanakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi kuliah atau materi pelajaran.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah

Karakteristik dan Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)

Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow, Min Liu (2005) menjelaskan karakteristik dari Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), yaitu :
Learning is student-centered
Proses pembelajaran dalam PBL lebih menitikberatkan kepada siswa sebagai orang belajar. Oleh karena itu, PBL didukung juga oleh teori konstruktivisme dimana siswa didorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Authentic problems form the organizing focus for learning
Masalah yang disajikan kepada siswa adalah masalah yang otentik sehingga siswa mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat menerapkannya dalam kehidupan profesionalnya nanti.
New information is acquired through self-directed learning
Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja siswa belum mengetahui dan memahami semua pengetahuan prasyaratnya, sehingga siswa berusaha untuk mencari sendiri melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya.
Learning occurs in small groups
Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha membangun pengetahuan secara Colaborative, maka PBM dilaksanakan dalam kelompok kecil. Kelompok yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan penetapan tujuan yang jelas.
Teachers act as facilitators.
Pada pelaksanaan PBM, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Namun, walaupun begitu guru harus selalu memantau perkembangan aktivitas siswa dan mendorong siswa agar mencapai target yang hendak dicapai.

Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)

Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) memiliki ciri tersendiri berkaitan dengan langkah pembelajarannya. Barret (2005) menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan PBM sebagai berikut:
  • Siswa diberi permasalahan oleh guru (atau permasalahan diungkap dari pengalaman siswa)
  • Siswa melakukan diskusi dalam kelompok kecil dan melakukan hal-hal berikut. (a) Mengklarifikasi kasus permasalahan yang diberikan; (b) Mendefinisikan masalah; (c) Melakukan tukar pikiran berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki; (d) Menetapkan hal-hal yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah; dan (e) Menetapkan hal-hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah
  • Siswa melakukan kajian secara independen berkaitan dengan masalah yang harus diselesaikan. Mereka dapat melakukannya dengan cara mencari sumber di perpustakaan, database, internet, sumber personal atau melakukan observasi.
  • Siswa kembali kepada kelompok PBM semula untuk melakukan tukar informasi, pembelajaran teman sejawat, dan bekerjasama dalam menyelesaikan masalah.
  • Siswa menyajikan solusi yang mereka temukan.
  • Siswa dibantu oleh guru melakukan evaluasi berkaitan dengan seluruh kegiatan pembelajaran. Hal ini meliputi sejauh mana pengetahuan yang sudah diperoleh oleh siswa serta bagaimana peran masing-masing siswa dalam kelompok.

Sementara itu Yongwu Miao et.al. membuat model Protokol Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) yang disajikan dalam ilustrasi berikut.
Bagan PBL Protocol
Pada dasarnya, langkah-langkah menurut Barret (2005) dan Miao et.al. (2000) ini memiliki kesamaan.

Peran guru sebagai fasilitator sangat penting karena berpengaruh kepada proses belajar siswa. Walaupun siswa lebih banyak belajar sendiri tetapi guru juga memiliki peranan yang sangat penting. Peran guru sebagai tutor adalah memantau aktivitas siswa, memfasilitasi proses belajar dan menstimulasi siswa dengan pertanyaan. Guru harus mengetahui dengan baik tahapan kerja siswa baik aktivitas fisik ataupun tahapan berpikir siswa.

Baca juga: Mengoptimalkan Peran Guru dalam Proses Pembelajaran

Barret (2005) menyebutkan beberapa hal yang harus dikuasai atau dilakukan oleh tutor agar kegiatan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dapat berjalan dengan baik, yaitu:
  • Harus berpenampilan meyakinkan dan antusias
  • Tidak memberikan penjelasan saat siswa bekerja
  • Diam saat siswa bekerja
  • Menyarankan siswa untuk berbicara dengan siswa lain bukan dengan dirinya
  • Meyakinkan siswa untuk menyepakati terlebih dahulu tentang pemahaman terhadap permasalahan secara kelompok sebelum siswa bekerja individual
  • Memberikan saran pada siswa tentang sumber informasi yang dapat diakses berkaitan dengan permasalahan
  • Selalu mengingat hasil pembelajaran yang ingin dicapai
  • Mengkondisikan lingkungan atau suasana belajar yang baik untuk kegiatan kelompok
  • Menjadi diri sendiri atau tampil sesuai dengan gaya sendiri sehingga tidak menampilkan sikap di luar kebiasaan dirinya.

Demikian dan Semoga dapat bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon