Monday, November 03, 2014

Karakteristik Pendidik PAUD - Membangun Citra Diri Positif Anak

Karakteristik Pendidik PAUD - Membangun Citra Diri Positif Anak - Banyak perilaku guru yang dapat membunuh karakter anak, yaitu dengan membuat anak merasa rendah diri. Seorang guru yang tidak pernah memberi pujian atau kata-kata positif, kecuali cemoohan dan kata-kata negatif akan memuat muridnya menjadi tidak percaya diri. Rasa tidak percaya diri yang telah terbentuk sejak anak usia dini akan terbawa sampai dewasa.

Peran guru dalam membangun citra diri yang positif pada anak sangat besar, sehingga sebuah sekolah dasar di Medford Massachusetts yang bernama Dame School, membuat kebijakan untuk membangun citra diri positif kepada murid-muridnya.

Citra Diri Positif Anak

Kisah Dame School, menyatakan bahwa seluruh murid sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 3, tidak boleh diberikan nilai angka atau huruf di rapornya, tetapi hanya berupa uraian consisten dan not consisten, berbeda dengan di Indonesia rapor anak diisi dengan angka, bahkan diberi peringkat atau ranking. Menurut mereka, kalau seorang anak usia di bawah 9 tahun diberikan nilai (baik dan buruk), maka akan “memvonis” anak; pintar, sedang dan bodoh. Padahal anak-anak pada usia itu masih terus berkembang kemampuannya. Baru nanti ketika anak sudah kelas empat SD, nilai mulai diberikan, tetapi ranking tetap tidak diberikan.

Hasil Kerja harian murid-murid cukup diberikan “nilai” dengan gambar stiker (bintang, bunga atau mobil ) atau dengan tulisan gurunya yang berbunyi: good dan good effort. Ternyata dengan cara ini, anak-anak bersemangat untuk mengerjakan tugasnya dengan baik, karena setelah selesai guru akan menempelkan stiker di lembaran bukunya. Dalam memeriksa hasil kerja, guru tidak mencoret hasil kerja anak yang salah, tetapi dengan membetulkannya dengan cara menuliskan jawaban yang benar di samping hasil kerja anak yang salah.
Membangun Citra Diri Positif Anak

Murid-murid didorong untuk aktif berdiskusi, dan guru selalu memberi komentar positif kepada setiap pendapat yang dilontarkan kepada anak. Dengan cara ini murid-murid menjadi bersemangat untuk tetap masuk sekolah. Bahkan anak bertekad untuk tetap masuk sekolah walaupun suhu badannya panas tinggi.

Di Dame school, waktu libur panjang adalah waktu yang membosankan, tetapi waktu sekolah adalah waktu yang menyenangkan. Anak-anak begitu mencintasi sekolahnya, karena gurunya telah berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan yang membuat anak-anak antusias untuk belajar. Kalau anak senang hatinya, maka bagian limbik otaknya akan terbuka, sehingga anak dengan mudah menyerap pelajaran yang diberikan.

Keadaan belajar di Dame School terasa berbeda dengan keadaan belajar di Indonesia. Guru di Indonesia cenderung jarang memberikan pujian kepada anak, tetapi lebih banyak mengkritik dan memarahi anak. Hal ini menjadi salah satu faktor yang sering menjadi penyebab seorang anak tidak percaya diri adalah ketika di kelas ia tidak dapat menjawab pertanyaan atau ketika maju ke depan papan tulis untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Banyak guru yang bersikap negatif ketika mendapatkan muridnya tidak dapat menjawab pertanyaan, misalnya dengan perkataan : “itu salah, kamu pasti tidak belajar ya?“ atau “lihat anak-anak, betul tidak jawaban Rika?”. Seharusnya reaksi guru adalah “jawabannya belum lengkap, mungkin ada jawaban yang lain?” atau “jalannya sudah hampir benar, tetapi coba kamu ulangi lagi, mungkin ada jawaban yang kamu lupakan” atau “Ana, nanti kamu duduk sama Shella dan kamu berdua dapat memecahkan soal itu?”

Sering guru mempermalukan anak di depan kelas, memarahi atau bahkan menghukumnya. Kita semua pasti pernah melihat atau mempunyai pengalaman tentang sikap guru yang seperti itu. Sekali anak dipermalukan, ia akan takut, gemetaran ketika harus menjawab pertanyaan guru, sehingga ia menjadi tidak percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya di depan kelas. Sejak anak kecil juga sudah divonis dengan diberikan ranking atau dengan istilah “mendapat ranking sepuluh besar” atau “tidak masuk ranking.”

Sikap guru yang demikian, memang bukan hanya kesalahan guru saja, tetapi adalah kesalahan sebuah sistem pendidikan yang orientasinya hanya semata-mata mengejar keberhasilan akademik, yaitu sistem mengejar target kurikulum dengan segenap tes harian, ulangan umum, ujian akhir. Padahal untuk anak usia dini, yang terpenting ditanamkan adalah sikap agar anak-anak cinta belajar. Bukan semata-mata harus bisa karena kalau “harus” bisa, suasana belajar menjadi penuh beban, sehingga otak limbik anak tertutup, akhirnya anak tidak dapat mencapai potensi optimalnya.

Di dalam ilustrasi ini, dikandung bahwa seorang guru perlu menampilkan etika membangun citra positif anak melalui perilaku-perilaku: santun, tulus, mencintai anak, memberikan pujian dan menciptakan kesenangan anak dengan melabel atau memberi cap negatif anak.

Semoga bermanfaat.
 

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon