Sunday, November 02, 2014

Karakteristik Pendidik PAUD - Menanamkan Kebaikan Tanpa Pamrih

Karakteristik Pendidik PAUD - Menanamkan Kebaikan Tanpa Pamrih - Seorang pendidik walaupun telah berusaha menjadi pendidik yang ideal, tetapi belum menjamin akan berhasil dalam membantu perkembangan anak, karena banyak faktor lain yang mempengaruhinya, misalnya pendidikan di rumah, pengaruh kawan, dan sebagainya. Namun dengan memberikan layanan pendidikan dan bimbingan yang penuh perhatian, kasih sayang, siswa akan menjadi lebih baik. Lebih-lebih pada pendidikan anak usia dini, hasil pendidikan tidak akan segera nampak hasilnya. Ada sebuah teori yang disebut sleeper effect, yang menyatakan bahwa efek pendidikan, hasilnya baru terlihat beberapa tahun kemudian. Oleh karena itu satu karakter penting untuk dimiliki pendidik adalah “mendidik (menanam kebaikan) tanpa pamrih”.

Ada sebuah kisah tentang Johny Appleseed, mudah-mudahan cerita ini dapat memberikan inspirasi pada semua pendidik untuk menebarkan benih kebajikan walapun tidak tahu bagaimana hasilnya nanti:
Alkisah ada seorang bernama Johny yang senang berkelana. Ia selalu mengantongi segenggam biji apel dikantongnya. Kemanapun ia pergi, ia selalu menebar biji apel, sehingga ia terkenal dengan Johny Appleseed. Ia tidak berpikir apakah benih yang ditebarkan akan tumbuh dan ia juga tidak berniat menikmati buahnya, atau berteduh di bawahnya. Apa yang dilakukan Johny the Appleseed ternyata menumbuhkan beribu-ribu pohon apel yang mana Johny tidak bisa melihat hasilnya.
Ada sebuah teori yang dapat memberikan inspirasi mengenai dampak berkelanjutan dari menanam sebuah kebajikan, walau sekecil apapun, yaitu Chaos Theory (Teori Chaos) dari James Gleick, yang mengenalkan konsep efek kupu-kupu (Butterfly effect) yang berbunyi: seekor kupu-kupu yang mengepakkan udara dengan sayapnya hari ini di Beijing, dapat menyebabkan tornado di New York tahun depan. Konsep ini mengajarkan kepada kita bahwa sekecil apapun tindakan sekarang, akan mempunyai dampak besar di kemudian hari. Konsep ini memberikan peringatan kepada kita untuk berhati-hati dalam berpikir, berkata dan bertindak, karena kita tidak dapat memprediksi bagaimana dampak hebatnya di masa depan.

The Butterfly effect

Chaos Theory (Teori Chaos) James Gleick

Dalam Chaos Theory diterangkan mengapa sebuah kepakan sayap kupu-kupu bisa membentuk pola (pattern) yang khas. Pernahkan kita bayangkan mengapa Austria melahirkan orang-orang jenius dan kreatif, seperti para komposer dunia John Strauss, Mozart, Schubert dan Mahler. Psikolog Sigmud Freud, Ekonom Loudwig atau negara Singapura bebas korupsi, atau warga Korea di Seoul yang turun ke jalan berpesta pora merayakan kemenangan tim sepak bolanya masuk ke final, tetapi tidak membuat satu pohonpun patah, tidak ada satu pot bungapun rusak, dan tidak ada satu pun botol minuman yang tergeletak di jalan.

Terbentuknya sebuah pola dalam Chaos Theory diterangkan oleh adanya sebuah konsep Strange attractor yaitu magnet yang dapat menarik apa saja yang mempunyai kualitas yang sama. Hal ini dapat diilustrasikan, misalnya:

Adanya kerumunan burung dari berbagai jenis yang sedang makan biji-bijian yang tersebar di atas tanah. Tiba-tiba ada sebuah kejutan yang menyebabkan semua burung beterbangan. Sudah dapat dipastikan bahwa burung akan terbang bersama burung-burung lainnya yang sejenis dan tidak pernah masuk dalam kelompok burung lain.

Adanya daya tarik yang aneh (strange attractor) dalam sebuah sistem sosial akan menjadi daya tarik bagi mereka yang memang pada prinsipnya mempunyai kualitas yang sama dengan daya tarik itu. Semakin banyak orang tertarik dan berkumpul dalam kerumunan sistem itu, maka akan membentuk sebuah pola dengan ciri khas perilakunya. Sebuah organisasi yang korup, akan menarik orang-orang yang tidak jujur karena tertarik oleh daya magnet perilaku korup. Begitu pula organisasi yang baik bisa menjadi magnet yang dapat menarik orang-orang baik untuk berkumpul bersama melakukan kebajikan. Namun mungkin saja dalam suatu kerumunan baik akan terdapat beberapa orang yangtidak baik, begitu pula sebaliknya, karena disebut teori chaos atau teori kekacauan.

Biasanya orang-orang yang baik dalam kerumunan jahat suatu saat akan terlempar dari sistem sosial yang ada sekarang karena mereka tidak tahan hidup di tengah–tengah kerumunan orang yang pola tingkahlakunya bertentangan dengan hati nuraninya. Begitu pula orang-orang tidak baik berada dalam kerumunan orang baik suatu saat akan terlempar keluar.

Orang-orang yang baik terlempar dari kerumunan buruk adalah mereka yang mempunyai lentera hati nurani yang terang benderang sehingga dapat menjadi strange attractor baru yang dapat menarik orang yang berkepribadian sama. Selanjutnya dapat mengubah sistem sosial yang ada menjadi pola baru yang positif. Begitu pula, para pendidik yang mempunyai nurani yang kuat, akan tidak tahan berada dalam sebuah birokrasi pendidikan yang buruk, sehingga akan terlempar dari sistem tersebut, dan berani untuk memulai suatu yang berbeda dan mau mengadakan “perubahan” siapa tahu para pendidik yang menyadari fungsinya sebagai “pendidik, membangun citra positif anak” akan berkumpul bersama bahu membahu membentuk karakter anak didiknya.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa, pendidik anak usia dini dalam melaksanakan tugasnya senantiasa mengedepankan kode etik “menanam kebaikan tanpa pamrih mencintai anak”, dengan asah, asih, dan asuh, mendidik dan mengasuh dengan kasih sayang semata karena amanah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Semoga bermanfaat.

Advertisement

2 komentar

pas banget nih tulisannya ... terimaksih infonya ghan ...

ya sama-sama... semoga bermanfaat.

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon