Wednesday, November 26, 2014

Memikirkan Alam Sebagai Metode Pendidikan Hati

Memikirkan Alam Sebagai Metode Pendidikan Hati - Pada postingan sebelumnya, membumikan pendidikan telah memaparkan metode pendidikan hati yang pertama yaitu memahami Al-Quran. Selanjutnya, cara yang kedua yang harus dilakukan agar hati tetap terjaga kebersihannya yaitu dengan Memikirkan Alam. Sebagai salah satu metode pendidikan hati, Memikirkan Alam juga akan mengajarkan kita untuk mengenal Sang Pencipta dan dapat mengambil pesan-pesan yang tersirat dalam setiap kejadian. Hal ini akan membuat kita lebih sadar akan posisi kita di dunia. Oleh karena itu, memikirkan alam dapat kita jadikan sebagai metode pendidikan hati.

Memikirkan Alam Sebagai Metode Pendidikan Hati

Dalam firman Allah yang kurang lebih artinya;
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (QS Qaff ayat 37).
Buku Terjemah Al-Quran versi Depag RI menerjemahkan kata qalbun pada ayat di atas dengan akal.[1] Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menerjemahkannya dengan hati. Bisa jadi dua-duanya benar. Yang berpendapat qalbun di sini akal, karena yang dimaksud adalah hati yang memiliki fungsi berfikir yang sama dengan fungsi akal.

Menurut Hamka, orang yang merasa ada hati, orang itulah yang disebut berfikir. Ada hati, artinya adalah ada inti fikiran dan ada akal budi. Sangatlah tercela orang yang ada hati tetapi tidak berjalan fikirannya, ada mata tetapi tidak melihat dan ada telinga tetapi tidak mendengar.[2]

Memikirkan Alam Sebagai Metode Pendidikan Hati

Manusia yang cerdas adalah manusia yang penglihatan, pendengaran, dan hatinya, mampu menangkap pesan-pesan di balik alam ini. Cara kerjanya adalah mata dan telinga menyampaikan informasi yang ditangkapnya dari alam ke hati, dan hati mencernanya menjadi sebuah cara berpikir (paradigma) dan ilmu. Singkatnya, hati yang bisa mengambil pelajaran dan manfaat dari apa yang dilihat dan didengarnya dari alam ini.

Disebutkan pula dalam QS Al-A'râf ayat 179,
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
Hati yang digunakan untuk berfikir dan memahami akan menjadikan pemiliknya menjadi manusia sejati dan mengangkat derajatnya di sisi Tuhan. Jika tidak, maka manusia tidak ubahnya seperti binatang—bahkan lebih rendah, sebab hati itu tidak bisa menarik hikmah dan manfaat dari fakta-fakta yang dibawa oleh mata dan telinganya. Sekian dan semoga dapat bermanfaat.

Reff;
[1] Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, h. 854
[2] Hamka, Al-Azhar, Jilid 9, h. 6883

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon