Monday, November 24, 2014

Mengenal dan Memahami Metode Pendidikan Hati

Mengenal dan Memahami Metode Pendidikan Hati - Hawa nafsu dan setan senantiasa membujuk manusia melalui hatinya agar menyimpang dari kebenaran. Sebagai usaha membentengi hati dari rayuan keduanya, dan mensucikan hati yang sudah terbelenggu kekuasaan setan dan hawa nafsu, maka diperlukan suatu pendidikan hati (tarbiyatul-qulûb)—meminjam istilah Ibnu Taimiyah, atau riyâdhatul-qulûb menurut istilah Al-Ghazali, atau pensucian hati menurut istilah Hamka.

Metode Pendidikan Hati Menurut Ahli

Menurut Ibnu Taimiyah hati memerlukan pendidikan, maka ia akan tumbuh dan bertambah sampai sempurna dan murni, sebagaimana badan membutuhkan perawatan dengan makanan yang bergizi baginya. Hati akan bersih dengan menciptakan apa yang bermanfaat baginya dan menolak yang membahayakannya. Sama halnya dengan tanaman, ia akan tumbuh dengan makanan.[1]
Mengenal dan Memahami Metode Pendidikan Hati
Metode Pendidikan Hati

Hati yang kotor harus segera dibersihkan, sebab menurut Komaruddin Hidayat, hati yang tercemari akibat perbuatan-perbuatan kotor yang kita lakukan akan memadamkan pijarnya, sehingga tidak lagi punya daya menyinari. Karena itu, hati harus selalu kita bersihkan dari dosa; jangan menunggu sampai ia berkarat, sehingga dosanya semakin sulit dihapus, dan lama kelamaan dosa-dosa itu kita anggap sebagai kebaikan. Sebagaimana disinggung dalam ayat QS Fâthir ayat 8 yang kurang lebih artinya:
…Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)?
Demikian juga hati yang hanya cenderung kepada kejahatan harus segera diperbaiki. Mahmud Shubhi menjelaskan, tak ada perbuatan yang dilakukan anggota tubuh kecuali atas tanda-tanda dari hati. Karena itu, hatilah yang harus diperbaiki, diluruskan, dan dilakukan penilaian atasnya. Hadis Nabi menyatakan;
Allah tidak memandang bentuk kalian, melainkan memandang hati dan perbuatan kalian.[2]
Upaya pendidikan hati itu dilakukan agar manusia mampu menjaga fitrahnya. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa “Allah telah memberi fitrah manusia hanya untuk mencintai dan menyembah Allah. Jika fitrah itu terjaga dengan baik, maka hati akan ma'rifat kepada Allah, mencintai-Nya, dan hanya menyembah kepada-Nya”. Bisa ditambahkan bahwa ia juga akan melahirkan akhlak yang baik.

Pendidikan hati itu harus dilakukan agar hati yang kotor menjadi bersih dan hati yang keras menjadi lembut, serta hati yang lemah menjadi kokoh. Imam Khomeini menjelaskan bahwa semua watak dan sikap jiwa bisa diperbaiki selagi jiwa itu masih hidup di alam gerak dan perubahan yang tunduk pada dimensi waktu dan pembaruan serta memiliki materi dan potensi.[3]

Hamka bahkan berpandangan bahwa membersihkan hati dan mensucikan hubungan dengan Tuhan merupakan sebuah kewajiban seorang muslim yang pertama dan utama. Setelah kepercayaan itu terhunjam dengan teguh dalam hati sanubari, dan telah dapat pula diamalkan dan dikerjakan, haruslah ditebarkan pula kepada yang lain. Seorang muslim tidak senang hatinya kalau hanya dia sendiri saja yang tahu, padahal orang lain berenang dalam kesesatan dan kegelapan.[4] Hamka berpendapat bahwa seorang muslim ialah orang yang bercita-cita menjadi “al-insânul kâmil”, manusia sempurna. Muslim artinya orang yang menyediakan dirinya menuruti jalan yang utama.[5] Adakah manusia sempurna? Menurut Hamka, Ada! Yaitu manusia yang insyaf akan kekurangan lalu berusaha mencapai kesempurnaan, itulah manusia yang sempurna.

Dr Husain Haikal Pasya, seorang intelektual Islam di Mesir, yang telah berkecimpung di dalam suasana berfikir kebendaan mempergunakan rasio dengan sebebas-bebasnya, di hari mulai tuanya ia merasa bahwasanya hidup kebendaan perlu diimbangi dengan keruhanian. Maka pergilah ia mengerjakan rukun Islam kelima (haji) ke Makkah dan keluarlah bukunya yang terkenal “Fî Manzilil Wahyi” (Di Tempat Wahyu Diturunkan). Di pasal yang akhir dari buku itu ditulisnyalah tentang perlunya bagi nilai hidup manusia mengimbangi hidup kebendaan dengan hidup keruhanian.[6]

Implikasi Pendidikan Hati

Pendidikan hati termasuk ke dalam bagian ruhani manusia. Kutipan di atas mendukung pentingnya manusia menjaga hatinya. Hamka menegaskan bahwa kalau bukan keteguhan hatinya manusia mempelajari dan mengamalkan hidup ruhani itu agaknya akan pudarlah cahaya kemurnian jiwa dari alam ini. Hidup dalam keruhanian ialah ikhtiar mengalahkan gangguan-gangguan hawa nafsu, sehingga tercapai kemajuan yang sempurna, yang dinamai oleh Shufi Abdul Karim Jailani, “insan kamil”.

Metode apa saja yang perlu dilakukan sebagai bentuk pendidikan hati (tarbiyatul-qulûb) itu? Paling tidak, ada tiga hal yang bisa kita lakukan agar hati tetap terjaga kebersihannya, sehingga ia akan mudah menerima bisikan suara Ilahi dan menolak setiap bisikan hawa nafsu dan setan. Yaitu: memahami Al-Quran, memikirkan alam, dan zikir. Kemudian bagaimana ke tiga metode tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk pendidikan hati yang akan menjaga diri kita dari bisikan-bisikan hawa nafsu dan setan? Sahabat-sahabat membumikan pendidikan ada yang tahu? Sampai ketemu kembali pada postingan berikutnya.

Reff:
[1] Ibnu Taimiyah, Risalah Tasawuf Ibnu Taimiyah, h. 178.
[2] Ahmad Mahmud Shubhi, Filsafat Etika: Tanggapan Islam, h. 262
[3] Imam Khomeini, Memupuk Keluhuran Budi Pekerti, h. I24
[4] Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, h. 191-192
[5] Hamka, Lembaga Hidup, h. 187
[6] Hamka, Tasawuf, Perkembangan, h. 16

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon