Friday, November 07, 2014

Pengertian dan Macam-Macam Pola Asuk Anak

Pengertian Pola Asuk Anak - Pada kesempatan kali ini, Membumikan Pendidikan akan share mengenai pengertian pola asuh anak dan bagaimana macam-macamnya. Sebelum mengulas lebih jauh mengenai hal tersebut, sahabat-sahabat mengetahui apa yang dimaksud dengan pola asuh? Banyak mungkin yang tahu, dan tidak sedikit pula yang masih samar-samar walaupun term ini sudah sangat familiar apalagi yang sudah memiliki buah hati tercinta.

Jadi, menurut Kohn (dalam Krisnawati, 1997) bahwa pola asuh merupakan sikap orangtua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap orangtua ini meliputi cara orangtua memberikan aturan-aturan, hadiah maupun hukuman, cara orangtua menunjukkan otoritasnya dan juga cara orangtua memberikan perhatian serta tanggapan terhadap anak.

Sementara Theresia Indira Shanti, menyatakan bahwa pola asuh merupakan pola interaksi antara orangtua dan anak. Lebih jelasnya, yaitu bagaimana sikap atau perilaku orangtua saat berinteraksi dengan anak. Termasuk caranya menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku yang baik sehingga dijadikan contoh/panutan bagi anaknya.
Dengan demikian, secara sederhana dapat dikatakan bahwa pola asuh merupakan proses interaksi antara anak dengan orangtua dalam pembelajaran dan pendidikan yang nantinya sangat bermanfaat bagi aspek pertumbuhan dan perkembangan anak.

Macam-Macam Pola Asuh Anak

Anak terus berkembang baik secara fisik maupun secara psikis untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan anak dapat terpenuhi bila orang tua dalam memberi pengasuhan dapat mengerti, memahami, menerima dan memperlakukan anak sesuai dengan tingkat perkembangan psikis anak, di samping menyediakan fasilitas bagi pertumbuhan fisiknya. Hubungan orang tua dengan anak ditentukan oleh sikap, perasaan dan keinginan terhadap anaknya. Sikap tersebut diwujudkan dalam pola asuh orang tua di dalam keluarga. Secara garis besar, pola asuh orang tua dapat dibagi menjadi tiga tipe, yang akan diuraiakan pada uraian di bawah ini:
  • Pola Asuh Otoriter
Dalam pola asuh ini orang tua berperan sebagai arsitek, cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat diktator, menonjolkan wibawa, menghendaki ketaatan mutlak. Anak harus tunduk dan patuh terhadap kemauan orang tua. Apapun yang dilakukan oleh anak ditentukan oleh orang tua. Anak tidak mempunyai pilihan dalam melakukan kegiatan yang ia inginkan, karena semua sudah ditentukan oleh orang tua. Tugas dan kewajiban orang tua tidak sulit, tinggal menentukan apa yang diinginkan dan harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh anak. Selain itu, mereka beranggapan bahwa orang tua harus bertanggungjawab penuh terhadap perilaku anak dan menjadi orang tua yang otoriter merupakan jaminan bahwa anak akan berperilaku baik. Orang tua yakin bahwa perilaku anak dapat diubah sesuai dengan keinginan orang tua dengan cara memaksakan keyakinan, nilai, perilaku dan standar perilaku kepada anak. Misalnya:
“Harus”
“mesti”
Tidak boleh”
“Jangan”

Pola asuh jenis ini cenderung atau sering menggunakan kalimat perintah dan larangan.

Pola asuh seperti ini akan berdampak buruk pada anak, seperti ia merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif, selalu tegang, tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk), begitu juga kemampuan komunikasinya yang buruk. Selain itu, dampak dari pengasuhan yang otoriter adalah anak merasa tertekan, dan penurut. Mereka tidak mampu mengendalikan diri, kurang dapat berpikir, kurang percaya diri, tidak bisa mandiri, kurang kreatif, kurang dewasa dalam perkembangan moral, dan rasa ingin tahunya rendah.
  • Pola Asuh Demokratis
Dalam pola asuh ini, orang tua memberi kebebasan yang disertai bimbingan kepada anak. Orang tua banyak memberi masukan-masukan dan arahan terhadap apa yang dilakukan oleh anak. Orang tua bersifat obyektif, perhatian dan kontrol terhadap perilaku anak. Dalam banyak hal orang tua sering berdialog dan berembuk dengan anak tentang berbagai keputusan. Menjawab pertanyaan amak dengan bijak dan terbuka. Orangtua cenderung menganggap sederajat hak dan kewajiban anak dibanding dirinya. Pola asuh ini menempatkan musyawarah sebagai pilar dalam memecahkan berbagai persoalan anak, mendukung dengan penuh kesadaran, dan berkomunikasi dengan baik. Misalnya:
“Menurut Ade, mana yang lebih bagus yang kuning atau yang merah?”
‘Ade boleh pilih salah satu”
“silahkan kaka pikirkan dengan baik baik,supaya kaka tidak menyesal nantinya”
‘Apa sih bedanya tempat berenang kemarin dengan tempat berenang sekarang ka?” menurut kaka lebih seru yang mana?’

Pada pola asuh ini orang tua menggunakan bahasa atau ekspresi yang memungkinkan anak untuk mengekspresikan apa yang dia rasa, pikir dan inginkan.
Pola Demokratis (authoritative) mendorong anak untuk mandiri, tetapi orang tua harus tetap menetapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat, dan penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindakan anak yang konstruktif. Anak yang terbiasa dengan pola asuh Demokratis (authoritative) akan membawa dampak menguntungkan. Di antaranya anak akan merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya terpupuk, bisa mengatasi stres, punya keinginan untuk berprestasi dan bisa berkomunikasi, baik dengan teman-teman dan orang dewasa. Anak lebih kreatif, problem solvingnya baik, komunikasi lancar, tidak rendah diri, dan berjiwa besar.
  • Pola Asuh Permissif
Pola asuh ini memperlihatkan bahwa orang tua cenderung menghindari konflik dengan anak, sehingga orang tua banyak bersikap membiarkan apa saja yang dilakukan anak. Orangtua bersikap damai dan selalu menyerah pada anak, untuk menghindari konfrontasi. Orang tua kurang memberikan bimbingan dan arahan kepada anak. Anak dibiarkan berbuat sesuka hatinya untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Orang tua tidak peduli apakah anaknya melakukan hal-hal yang positif atau negatif, yang penting hubungan antara anak dengan orang tua baik-baik saja, dalam arti tidak terjadi konflik dan tidak ada masalah antara keduanya. Misalnya:
‘Iya deh…iya…mamah ngalah…ambil semau ade’
“boleh”
“terserah ade aja lah…mamah udah pusing”

Bahasa yang digunakan sebagian besar memuat kata-kata yang selalu meng"iya"kan dan memperbolehkan semua yang dikehendaki anak.

Pola asuh seperti ini tentu akan menimbulkan serangkaian dampak buruk. Di antaranya anak akan mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya kontrol diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk, dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuanya. Bukan tidak mungkin serangkaian dampak buruk ini akan terbawa sampai ia dewasa. Tidak tertutup kemungkinan pula anak akan melakukan hal yang sama terhadap anaknya kelak. Akibatnya, masalah menyerupai lingkaran setan yang tidak pernah putus.

Catatan:
  1. Dalam konteks pengasuhan anak, A.M Ginoot, membagi pola asuh dalam tiga daerah, yaitu daerah hijau, kuning dan merah. Artinya: (1) Jika anak sedang melakukan kegiatan di daerah hijau, yaitu kegiatan yang dikehendaki orangtua (sesuai dengan nilai atau norma yang ada), maka orangtua dapat menerapkan pola asuh permisif, (2) Jika anak melakukan kegiatan di daerah merah yaitu kegiatan yang tidak dikehendaki orang tua (bertentangan dengan nilai atau norma yang ada), maka dapat menerapkan pola asuh otoriter, dan (3) Jika anak melakukan kegiatan di daerah kuning (daerah antara hijau dan merah), yaitu daerah dimana seharusnya dilarang, namun masih dapat ditolerir, maka dapat menerapkan pola asuh demokratis.
  2. Namun demikian, di daerah manapun anak-anak melakukan kegiatan, apakah di daerah hijau, kuning atau merah, dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, sebaiknya orangtua menerapkan pola asuh demokratis. Dengan demikian pengasuhan yang diberikan oleh orangtua lebih mengutamakan kasih sayang, kebersamaan, musyawarah, saling pengertian dan penuh keterbukaan.

Demikianlah uraian tentang pengertian pola asuh anak dan macam-macamnya. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan keilmuan kita terutama dalam mengasuh anak-anak kita yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa. Di pundak anak-anak kitalah gambaran masa depan bangsa ini.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon