Sunday, November 09, 2014

Prinsip Pembelajaran Bahasa Anak Usia Dini

Prinsip Pembelajaran Bahasa Anak Usia Dini - Pada postingan kemarin, membumikan pendidikan telah menguraikan dua dari tiga aspek tentang solusi dan strategi dalam komunikasi anak usia dini yaitu komunikasi efektif dan peningkatan komunikasi efektif. Dan aspek yang ketiga yaitu prinsip pembelajaran bahasa anak usia dini. Uraiannya sebagai berikut.

Prinsip pembelajaran bahasa untuk anak usia dini adalah interaksi aktif. Ada tiga hal penting yang menjadi sumber pembelajaran bahasa/bagi anak di kelas, yaitu: (1) Anak; (2) Orang dewasa/Pendidik; dan (3) Lingkungan.
a. Anak
Anak perlu dirangsang untuk dapat saling bercakap-cakap satu dengan yang lainnya. Dengan interaksi aktif antar anak, maka bahasa anak akan berkembang dengan cepat. Karena itu di lembaga PAUD perlu menggabungkan anak dari berbagai usia. Harapannya adalah anak yang lebih tua dapat mencontohkan bahasa yang Iebih kaya kepada anak yang Iebih muda, demikian sebaliknya anak yang Iebih muda akan banyak belajar dari anak yang Iebih tua.
b. Orang Dewasa (Tutor/Pendidik)
Orang dewasa yang hanya diam di dalam kelas kurang mendukung perkembangan bahasa anak. Segala sesuatu yang dilakukan anak dapat diperkuat oleh pendidik dengan ucapan-ucapan yang menggali kemampuan berpikir anak Iebih tinggi yang tentunya akan terucap melalui percakapannya dengan pendidik. Pendidik menggali dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka sehingga anak dapat berpikir aktif. Karena itu perlu pendidik yang aktif akan memberikan pengalaman pada anak dalam menggunakan bahasa yang tepat. Pendidik juga perlu mengucapkan kalimat dengan bahasa yang benar. Jika orang dewasa memberikan contoh kata-kata yang keliru, maka anak akan meniru kata-kata tersebut. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang dewasa untuk memfasilitasi pembelajaran bahasa anak, antara lain:
  • Pembelajaran bahasa bagi anak-anak menjadi mudah apabila mereka memiliki lingkungan dan stimulasi yang tepat.
  • Bayi belajar dan mendapat ide untuk "bicara" dari mendengar orang-orang disekitarnya bercakap-cakap. Oleh karena itu, saat beraktivitas dengan bayi upayakan untuk selalu mengatakan apa yang kita lakukan, seperti: “Ayo ganti popok dulu. Wah popoknya basah. Ibu ambil popoknya, dibersihkan dulu ya pakai air, sekarang dilap, nah baru pakai popok yang bersih. sudah selesai”.
  • Anak siap belajar untuk membuat suara dari bahasa yang ia pelajari. Bila seorang anak hidup dalam lingkungan dimana dua bahasa dipakai maka ia akan dapat membunyikan suara kedua bahasa tersebut. Seperti suara mobil dan binatang, ini dapat membantu meningkatkan kemampuan mendengar anak.
  • Pertama-tama kita harus menjadi pendengar yang baik. Bicaralah sebanyak mungkin dengan bayi dan mencoba membuat percakapan pribadi dengan mereka. Usahakan agar anak melihat bahasa tubuh anda.
  • Biarkan anak memahami perkataan dan perasaan kita dengan cara mencocokkan apa yang kita katakan dengan apa yang kita lakukan atau yang kita katakan dengan ekspresi wajah kita.
  • Sangatlah penting untuk mengaitkan antara perkembangan bahasa dengan perkembangan lingkungan dan sosial anak-anak
  • Kurikulum seharusnya diletakkan pada kerangka budaya.
  • Pendidik terlampau sering membuat setting belajar untuk anak usia dini terkesan mirip "sekolah". Akibatnya banyak pendidik terdorong mulai mengajarkan membaca, menulis, berhitung dan aspek formal lain dari pembelajaran. Sesungguhnya membelajarkan anak usia dini memerlukan waktu lebih lama sampai anak siap menerima.
  • Belajar membaca dan menulis akan terserap jauh Iebih cepat dan efektif oleh anak-anak yang sudah memiliki latar belakang pemaharnan dan kemampuan verbal. Contohnya ditambahkan seperti apa pemahaman dan kemampuan verbal itu. Untuk menambah kosa-kata anak, pendidik harus menggunakan kata-kata tersebut secara ekspresif. Penggunaan kosa kata baru sebaiknya dilakukan berulangkali. Dan kata-kata tersebut hendaknya bermakna dan menyentuh perasaan anak-anak sehingga tidak mudah dilupakan.
  • Bergembiralah dalam membawakan lagu anak dengan berekpresi sesuai dengan irama.
  • Dengarkan apabila anak sedang berbicara sampai selesai baru kemudian tanggapi.
c. Lingkungan
Prinsip Pembelajaran Bahasa Anak Usia Dini

Lingkungan tempat anak itu berada juga harus merupakan lingkungan yang aktif, yaitu lingkungan yang kaya dengan bahasa. Orang dewasa bisa meletakkan banyak kata di lingkungan bermain anak. Di mana-mana anak dapat melihat tulisan sehingga menolong anak dalam mempelajari keaksaraan. Misalnya : kalau ada meja, dapat diberi tulisan "m e j a", dll. Pendidik yang aktif akan membawa lingkungan di luar anak yang kaya dengan bahasa ke dalam pikiran anak dan juga mengeluarkan segala sesuatu yang ada di dalam pikiran anak ke luar melalui bahasa yang diucapkan anak. Dengan demikian pengetahuan anak akan terus bertambah. Selain tiga hal penting di atas, berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan bahasa dan mendorong percepatan dalam pemerolehan bahasanya, yaitu:
  • Anak berada di dalam lingkungan yang positif dan bebas dari tekanan. Anak selalu dibiasakan untuk ikut dalam pembicaraan. Bila ada benda yang dibicarakan orang tua dapat menunjuk dan menyebutkan nama benda itu. (sebagaimana disebutkan di atas, bahwa lingkungan yang kaya bahasa akan menstimulasi perkembangan bahasa anak. Stimulasi tersebut akan optimal jika anak tidak merasa tertekan. Anak yang tertekan dapat menghambat kemampuan bicaranya. Dapat ditemukan anak gagap yang disebabkan karena tekanan dari lingkungannya).
  • Pandang mata anak saat berbicara. Kontak tersebut mendorong anak aktif berbicara, Menunjukkan sikap dan minat yang tulus pada anak. Anak usia dini emosinya masih kuat, karena itu pendidik harus menunjukkan minat dan perhatian tinggi kepada anak. Orang dewasa perlu merespon anak dengan tulus.
  • Menyampaikan pesan verbal diikuti dengan pesan non verbal. Dalam bercakap-cakap dengan anak, orang dewasa perlu menunjukkan ekspresi yang sesuai dengan ucapannya. Perlu diikuti gerakan, mimik muka, dan intonasi yang sesuai. Misalnya: orang dewasa berkata,"saya senang" maka perlu dikatakan dengan ekspresi muka senang, sehingga anak mengetahui seperti apa kata senang itu sesungguhnya.
  • Melibatkan anak dalam komunikasi. Orang dewasa perlu melibatkan anak untuk ikut membangun komunikasi. Kita menghargai ide-idenya dan memberikan respon yang baik terhadap bahasa anak.
  • Gunakan ejaan yang benar. Hindari ejaan yang dibuat-buat, seperti cayang, antik ya (sayang, cantik ya).
  • Bicarakan apa yang benar-benar dilakukan dan dialami anak. misalnya, ‘ayo kita makan ya’, wah adik kepanasan, mari mama bedaki badannya’.
  • Beri respon yang lebih banyak atas pertanyaan anak. Misalnya, saat anak bertanya ‘dari mana ma’. Jawab dengan mama dari toko di sebelah, ini beli gula untuk buat teh manis ayah’.
  • Gunakan tata bahasa yang benar dalam berbicara. Hal ini penting karena anak peniru yang unggul. Ia akan terbiasa dengan percakapan sehari-hari. Misalnya, ‘Ibu akan memandikan kamu/adik’.
  • Betulkan kesalahan bahasa anak dengan lembut, baik dalam pengucapan mapun susunan. Misalnya, Mama, mam adik nasi. Dengan lembut orang tua mengatakan ‘adik mau makan nasi ya’. Hindari mentertawakan ucapan dan dialek anak. anak akan malu atau justru mengulang-ngulang kesalahan itu.
  • Hindari memaksa anak untuk menghafal kata. Sebenarnya anak suka mengulang-ulang kata yang baru dikenal. Orang tua dapat mendukung aktivitas ini. Tetapi, bila anak enggan orang tua tidak perlu mendorong lagi.
Demikianlah uraian mengenai prinsip pembelajaran bahasa anak usia dini. Semoga dapat bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon