Wednesday, November 05, 2014

Teori-Teori Pembelajaran Bahasa Anak

Teori-Teori Pembelajaran Bahasa Anak - Bahasa anak awalnya berkembang secara alami. Proses ini dikenal dengan pemerolehan bahasa. Melalui interaksi dengan lingkungan anak memperoleh pengalaman yang memberi sumbangan terhadap perkembangan bahasa. Di samping itu, bahasa anak juga dapat distimulasi dengan berbagai cara. Stimulasi tersebut dikenal dengan pembelajaran yang direalisasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan belajar atau bermain. Agar pendidik dapat memberikan stimulasi yang tepat, pendidik perlu memiliki pengetahuan tentang perkembangan bahasa. Ada tiga teori dasar yang dapat digunakan untuk memahami perkembangan bahasa anak. Ketiga teori tersebut akan diuraikan pada penjelasan di bawah ini:

Teori-Teori Pembelajaran

Teori Behavioristik (Teori Perilaku) dari Skinner
Teori dalam aliran behavioristik yang diprakarsai oleh BF. Skinner yang menyatakan bahwa lingkungan memberi pengaruh utama bagi perkembangan bahasa anak. Oleh karenanya orang tua dan pendidik perlu aktif mengajak anak berbicara dan memberi contoh penggunaan bahasa yang baik. Teori perilaku juga percaya bahwa agar anak berhasil dibutuhkan penguatan. Bentuk penguatan khususnya adalah pujian atau barang-barang sederhana. Anak perlu diberi contoh ucapan sehingga anak dapat meniru ucapan tersebut. Atas keberhasilan anak mengulangi contoh yang diberikan, perlu diberi penguatan dan imbalan yang segera diberikan seperti ‘bagus’, pinter, diberi permen atau yang lainnya yang setimpal. Teori ini menekankan bahwa dalam perkembangan bahasa anak usia dini, orangtua dituntut untuk memberikan stimulasi, seperti aktif mengajak anak berbicara dan bercakap-cakap agar pencapaian kemampuan berbahasa anak maksimal.

Implementasi Teori Behavioristik Pada Pembelajaran Bahasa:
  • Perlu penguatan atau koreksi terhadap bahasa anak yang muncul karena adanya stimulus. Bila pengucapan bahasa tidak sebagaimana harusnya, orang tua atau pendidikan perlu mengkoreksi. Misalnya, kata ‘makan’ diucapkan ‘mam’. Ini perlu dibetulkan dengan mengulangi pengucapan ‘oh mau makan’. Kalau pengucapan benar yang didiamkan saja.
  • Pemberian contoh yang baik dalam berbahasa untuk ditiru anak. Bahasa merupakan hasil dari suatu kebiasaan. Pengetahuan tidak berasal dari dalam diri seseorang, tetapi merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungannya melalui pengkondisian stimulus yang menimbulkan respon.
  • Latihan yang diberikan kepada anak dapat berbentuk pertanyaan (stimulus) dan jawaban (respon). Bisa juga kepada anak dikenalkan kata-kata baru melalui tahapan-tahapan. Anak belajar sesuatu mulai dari yang sederhana sampai yang rumit, dari yang dikenal sampai yang belum dikenal dan abstrak (contoh: sistem pembelajaran drilling/pengulangan terus-menerus) Anak akan memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan dalam pembelajaran dan segera berikan balikan terhadap respon tersebut.
  • Pada setiap respon positif (benar) dari anak perlu segera diberikan penguatan oleh pendidik baik dengan pujian atau hadiah.
Teori Nativistik dari Chomsky
Noam Chomsky mengkritik teori yang dikemukakan Skinner. Ia menyatakan bahwa perkembangan bahasa anak tidak ditentukan oleh lingkungan semata. Faktor genetik (Nativistik) sangat menentukan perkembangan bahasa anak. Menurut Noan Chomsky kemampuan bahasa anak terbentuk mulai dari konsepsi. Dengan kata lain, sejak lahir anak telah memiliki kemampuan berbahasa. Kemampuan tersebut dikenal dengan Language Advice Device (LAD).

Teori-Teori Pembelajaran Bahasa Anak

Chomsky juga memperkenalkan Universal Grammar dalam kemampuan bahasa anak. Ini merupakan kelemahan dan sumber kritik atas teorinya Chomsky. Selanjutnya Chomsky juga menyatakan bahwa belajar bahasa sebaiknya sebelum usia sepuluh tahun. Kemampuan yang terbentuk pada saat dalam kandungan akan teraktualisasi atau berkembangan dengan didukung oleh faktor biologis dan faktor lingkungan setelah anak lahir. Untuk itu, Noam Chomsky menyatakan faktor lingkungan juga sangat berperan dalam perkembangan bahasa anak disamping kesiapan faktor biologis. Ada kemampuan yang tidak mungkin dimiliki anak, walau lingkungan memberi stimulasi yang maksimal kalau kondisi biologis belum siap untuk mencapai kemampuan tersebut. Misalnya, pengucapan huruf ‘g’ tidak mungkin dimiliki sebelum alveolenatal matang untuk berfungsi.

Teori Nativistik menyatakan bahwa bahasa sudah ada di dalarn diri anak. Pada saat seorang anak lahir, dia telah memiiiki seperangkat kemampuan berbahasa yang disebut Tata Bahasa Umum" atau 'Universal Grammar'. Teori ini mengatakan bahwa meskipun pengetahuan yang ada di dalam diri anak tidak rnendapatkan banyak rangsangan, anak akan tetap dapat mempelajarinya. Anak tidak sekedar meniru bahasa.yang dia dengarkan, tapi ia juga mampu menarik kesimpulan dari pola yang ada, hal ini karena anak memiliki sistem bahasa yang disebut Perangkat Penguasaan Bahasa.

Teori Nativistik juga memberikan pengetahuan bahwa keterampilan bahasa juga dipengaruhi oleh kematangan fisik anak, misalnya kematangan organ-organ bicara. Oleh karena itu, pendidik dalam dalam memberikan stimulasi perlu memperhatikan kesiapan anak. Teori ini juga memberikan wawasan bahwa anak akan belajar bahasa dengan cepat sebelum usia 10 tahun. Artinya, pembelajaran bahasa lebih baik diberikan sejak dini, karena lebih dari usia 10 tahun anak akan mengalami kesulitan.
Teori Konstruktivisme dari Piaget, Vygotsky, Gardner
Perkembangan kognisi dan bahasa dibentuk dari interaksi dengan orang lain. Dengan berinteraksi dengan orang lain, maka pengetahuan, nilai dan sikap anak akan berkembang (Konstruktivisme). Anak memiliki perkembangan kognisi yang terbatas pada usia-usia tertentu, tetapi melalui interaksi sosial, anak akan mengalarni peningkatan kemampuan berpikir.

Pengaruh pada pembelajaran. Anak akan dapat belajar dengan optimal jika diberikan kegiatan, Sementara anak melakukan kegiatan, anak perlu didorong untuk sering berkomunikasi. Adanya anak yang lebih tua usianya atau orang dewasa yang mendampingi pembelajaran dan mengajak bercakap-cakap akan menolong anak menggunakan kemampuan berbahasa yang lebih tinggi. Jika anak mengalami kesulitan, peran orang dewasa yang tepat akan membantu anak memecahkan persoalan sehingga anak dapat belajar sesuatu dari peristiwa tersebut. Karena itu pendidik perlu menggunakan metode yang interaktif, menantang anak untuk meningkatkan pembeiajaran dan menggunakan bahasa yang berkualitas.

Semoga bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon