Wednesday, December 31, 2014

Biografi Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidikan Indonesia

Biografi Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidikan Indonesia - Pada postingan kali ini, blog Membumikan Pendidikan akan share mengenai biografi tokoh pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara. Berikut uraiannya.

Ki Hajar Dewantara, pada masa mudanya bernama R.M Suwardi Suryaningrat yang terlahir dari pasangan Kanjeng Pangeram Harjo (KPH) Surjaningrat dan Raden Ayu (RA) Sandiyah pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. KPH Surjaningrat merupakan putera Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Harjo Surjosasraningrat yang bergelar Sri Paku Alam III (Suratman, 1985: 2). Ki Hajar Dewantara (Selajutnya disebut KHD) adalah keturunan Sri Paku Alam III, demikian pula istrinya Raden Ajeng Sutartinah atau lebih akrab dipanggil dengan Nyi Hajar Dewantara. Keduanya merupakan kerabat Paku Alaman (Suratman, 1985: 4). Salah satu ciri khas kerabat paku Alam ialah ketertarikan dan kepandaian dalam bidang kesusastraan, mempelajari kesenian yang indah.

Karir Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Biografi Ki Hajar Dewantara Bapak Pendidikan Indonesia
Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional)
Pendidikan dasar KHD ditempuh di ELS (Europeesche  Lagere School) pada 1904. ELS merupakan sekolah dasar pada masa pemerintahan kolonial Belanda.  ELS menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Sesudah tamat ELS, timbullah masalah dimana KHD akan meneruskan sekolahnya. Akhirnya KHD masuk Sekolah Guru Bumiputra (Kwekschool Voor Indlands Nder Wijsers) di Yogyakarta. Tetapi tidak lama kemudian datang dokter Wahidin Sudiro Husodo di pura Pakualaman, dan mencari siapa di antara putera-putera yang bersedia masuk Sekolah Dokter Jawa (STOVIA, School Tot Opleiding Voor Indlansche Arsten) di Jakarta, dengan mendapat beasiswa (Suratman, 1985: 8-11).

Pada tahun 1906 dr. Wahidin Sudirohusodo datang menemui mahasiswa STOVIA, beliau adalah seorang cendekiawan dan pada waktu itu sedang merintis perjuangan untuk mengumpulkan dana bagi keperluan pendidikan rakyat jelata. Kemudian pada 20 Mei 1908 atas prakarsa pemuda sutomo yang kemudian dikenal dengan panggilan dr. Sutomo didirikanlah perhimpunan Budi Utomo, Karena kelahiran perhimpunan tersebut menandai datangnya saat pembangunan bangsa Indonesia, maka hari lahir Budi Utomo ditetapkanlah oleh Pemerintah sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Dewantara,1982: 20-27). Pada saat itu KHD ikut aktif dalam organisasi Budi Utomo dan mendapat tugas di bagian propaganda. Tidak hanyak itu bersama-sama Douwer Dekker (Dr. Setiabudhi) dan Dr. Cipto Mangunkusumo mendirikan partai politik yang sangat revolusioner bernama Indische Partij (IP) tahun 1912 (Yamin, 2009: 169). Tiga tokoh tersebut kemudian disebut dengan “Tiga Serangkai”.

Karir Politik Ki Hajar Dewantara

Bersama Dr. Cipto Mangunkusumo pada awal Juli 1913 , mendirikan “Comite tot Herdenking van Nedrlands Honderdjarige Vrijheid” atau “Komite Bumiputera” untuk menolak perayaan untuk memperingati Nederland 100 tahun setelah ditindas oleh Napoleon Bonaparte. Perayaan ini tidak hanya dirayakan oleh bangsa Belanda, akan tetapi rakyat Indonesia sampai di pelosok-pelosok desa diharuskan untuk mengumpulkan uang untuk  perayaan tersebut (Sajoga, 1956: 194).

Kemudian KHD menulis brosur yang berjudul “Als ik eens Nedelander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda” buah pena dari KHD. Di dalam buku Imagined Communities karangan Benedict Anderson (2008: 177) dikutip beberapa kalimat asli dari brosur tersebut, kutipan dari buah pena KHD adalah sebagai berikut;
“…Menurut pendapat saya, ada sesuatu yang tidak pada tempatnya – sesuatu yang tak senonoh- jika kita (saya mmasih menjadi seorang Belanda dalam khayalan saya ini) meminta orang-orang pribumi untuk ikud merayakan kemerdekaan kita. Pertama, kita akan melukai perasaan mereka karena yang kita rayakan ini adalah kemerdekaan kita sendiri di tanah air mereka yang kita jajah. Saat ini kita sangat bahagia karena seratus tahun silam kita bebaskan diri kita dari dominasi asing; dan semua itu berlangsung tepat di mata orang-orang yang masih kita dominasi. Tidakkah terlintas dibenak kita bahwa budak-budak malang ini juga mengidamkan saat-saat seperti ini, tatkala mereka, seperti kita, dapat merayakan kemerdekaan mereka sendiri? apakah kita barang kali merasa bahwa, karena kebijkan kita yang meremukkan jiwa, maka kita menganggap semua jiwa manusia itu mati? Kalau memang begitu, maka kita menipu diri kita sendiri, sebab tak peduli seberapa primitifnya pun sebuah komunitas, ia pasti menentang segala corak penindasan. Andaikan saya seorang Belanda, saya tidak akan mengatur perayaan kemerdekaan di sebuah negeri di mana kemerdekaan orang-orangnya terampas”.
Benedict Anderson yang menulis alanisa sepintas di dalam bukunya yang terkenal Imagined Communities (2008: 178) menyebutkan bahwa tulisan KHD tersebut mampu membangkitkan gelombang nasionalisme di Indonesia. Sedangkan menurut Sejarawan Joss Wibisono (2012: 106), tulisan KHD “Als ik eens Nederlander was” mengandung banyak aspek. Diantaranya yakni aspek politik, aspek kritik kemasyarakatan, dan aspek bahasa. Dalam soal bahasa terlihat bagaimana KHD menggunakan kefasihanya berbahsa Belanda untuk menghantam (kolonialisme) Belanda. Yang jelas KHD bukan lagi sebagai seorang bumiputra melainkan orang Belanda imajiner yang dengan kefasihan seorang oenutur asli yang mengolok-olok sesamanya Belanda. Sinisme KHD meluap-luap, walaupun masih dalam takaran yang lihai dan cerdik.

Pengalaman Ki Hadjar Dewantara dan kawan-kawannya di lapangan perjuangan politik, dengan melalui berbagai rintangan, penjara dan pembuangan dengan segala hasilnya, menimbulkan pikiran baru untuk meninjau cara-cara dan jalan untuk menuju kemerdekaan Indonesia (Tauchid, 1963: 29). Ki Hadjar Dewantara yang terus berjuang tak kenal lelah dalam menghadapi berbagai masalah, khususnya dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia melalui pendidikan.

Demikianlah uraian tentang Biografi bapak pendidikan Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara. Semoga dapat menambah wawasan kita dan selaku generasi penerus harus tetap menjunjung tinggi cita-cita beliau dalam membumikan pendidikan di bumi pertiwi tercinta Indonesia.

Advertisement

2 komentar

Semangat perjuangan Pak Ki Hajar Dewantara, ini mungkin patut kita tiru, khususnya memajukan bidang pendidikan.

lebih baik lagi kita perjuangkan dan pertahankan cita-cita beliau.

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon