Friday, January 23, 2015

Teori Belajar Behavioristik (Tingkah Laku)

Teori Belajar Behavioristik (Tingkah Laku) - Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.

Menurut Baharudin dan Wahyuni (2008), aliran behavioristik memandang belajar sebagai kegitan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan respon. Teori ini berasumsi bahwa hasil dari sebuah pembelajaran adalah perubahan tingkah laku yang dapat diobservasi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dengan faktor penentunya adalah penguatan atau dorongan dari luar. Teori behaviorisme memiliki komponen yang terdiri atas rangsangan (stimulation), tanggapan (response), dan akibat (consequence).

Teori Belajar Behavioristik (Tingkah Laku)

Belajar Perspektif Behaviorisme

Pandangan tentang belajar menurut aliran tingkah laku (behavioristik), tidak lain adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.

Asumsi Teori Belajar Behaviorisme

Behaviorisme didasarkan pada asumsi bahwa:
  • Hasil belajar berupa perubahan tingkah laku yang dapat diobservasi.
  • Tingkah laku dan perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dimodifikasi oleh kondisi-kondisi lingkungan.
  • Komponen teori behavioral ini adalah stimulus, respon dan konsekuensi.
  • Faktor penentu yang penting sebagai kondisi lingkungan dalam belajar adalah reinforcement.

Implikasi Teori Belajar Behaviorisme

Implikasinya terhadap pendidikan sebagai berikut.
  • Individualisasi: perlakuan individual didasarkan pada tugas, ganjaran dan disiplin.
  • Motivasi: motivasi belajar bersifat ekstrinsik melalui pembiasaan secara terus-menerus.
  • Metodologi: metode belajar dijabarkan secara rinci untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan tertentu dan menggunakan teknologi.
  • Tujuan kurikuler: berpusat pada pengetahuan dan keterampilan akademis serta tingkah laku sosial.
  • Bentuk pengelolaan kelas: pengelolaan kelas berpusat pada guru, hubungan-hubungan sosial hanya merupakan cara untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan yang hendak dicapai.
  • Usaha mengefektifkan mengajar: dengan cara menyusun program secara rinci dan bertingkat serta mengutamakan penguasaan keterampilan.
  • Partisispasi: peserta didik mungkin pasif.
  • Kegiatan belajar peserta didik: pemahiran keterampilan melalui pembiasaan setahap demi setahap secara rinci.
  • Tujuan umum pembelajatran: kemampuan mengerjakan sesuatu.
Pandangan lain dinyatakan bahwa implikasi teori Behaviorisme terhadap pendidikan adalah:
  • Perlakuan terhadap individu didasarkan kepada tugas yang harus dilakukan sesuai dengan tingkat tahapan, dalam pelaksanaannya harus ada ganjaran dan kedisiplinan.
  • Motivasi belajar berasal dari  luar (external), dan harus terus menerus dilakukan agar motivasi tetap terjaga.
  • Metode dijabarkan secara rinci untuk mengembangkan disiplin ilmu tertentu.
  • Tujuan kurikuler berpusat pada pengetahun dan keterampilan akadmis serta tingkah laku social.
  • Pengelolaan kelas berpusat pada guru dengan interaksi sosial sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan merupakan tujuan utama yang hendak dicapai.
  • Untuk mengefektifkan belajar maka dilakukan dengan cara menusun program secra rinci dan bertingkat, serta menutamakan penguasaan bahan atau keterampilan. 
  • Peserta didik cenderung pasif, sehingga peserta didik diarahkan pada pemahiran keterampilan melalui pembiasaan beberapa tahap secara rinci.

Sekian dan semoga dapat bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon