Monday, February 02, 2015

Biografi John Locke Filosuf Empiris Dengan Teori Tabularasa

Biografi John Locke Filosuf Empiris Dengan Teori Tabularasa - John Locke lahir pada tanggal 29 Agustus 1632 di sebuah kota Wrington, Somersetshire kira-kira dua belas mil dari Bristol Inggris, sebagai anak seorang sarjana hukum bernama Locke, ayahnya seorang pengacara Negara dan pegawai kepada Hakim perdamaian di Chew Magna yang pernah menjabat sebagai kapten kavaleri untuk parlemen pasukan pada awal bagain dari perang saudara Inggris. Ibunya Agnes Keene, adalah putri seorang penyamak kulit dan terkenal sangat cantik.
Biografi John Locke Filosuf Empiris Dengan Teori Tabularasa

John Locke mendapat pendidikan di rumah. Pada usia 14 tahun ia sekolah Westminster untuk persipan ke Oxford. Locke belajar ilmu alam dan kedokteran serta mencapai gelar kesarjaan tahun 1658. Kemudian masuk dunia diplomasi dan ditempatkan di Brandenburg tahun 1665. Karena profesi diplomatnya ini, ia lalu mengunjungi banyak Negara. Dia pernah ke Paris dan Belanda pada masa Stanhourder Koning Willm III, kemudian kembali ke oxford, belajar lagi dan menjadi dokter. Ia membaca tulisan-tulisan Descrates dan merasa sangat tertarik pada filsafatnya.

Pada tahun 1683 ia pergi ke pengasingan di Belanda, di sana ia ikut serta dalam gerakan politik yang menepatkan William dari orange atas takhta Inggris. Setelah pencapaian Wiliam dari Orange, ia kembali ke Inggris, Pensiun untuk kehidupan pribadi, dan mengabdikan diri untuk studinya. Dia meninggal pada tahun 1704. Locke adalah wakil dari kebudayaan Inggris pada masanya. Dengan pikiran terbuka untuk masalah-masalah  yang  paling  beragam.  Locke  adalah  seorang  filsuf,  seorang  dokter  medis, pendidik, dan seorang politikus.

Karya Fundamental John Locke

Dalam Buku Yang berjudul "essay concerning human understanding", Locke menjelaskan terungkapnya bertahap pikiran sadar ini.Berdebat melawan baik Agustinian pandangan manusia sebagai awalnya berdosa dan cartesia posisi, yang menyatakan bahwa orang bawaan tahu dasar proposisi logis. Locke berpendapat sebuah kosong pikiran, tabularasa, yang dibentuk oleh pengalaman; sensasi dan refleksi menjadi dua sumber dari semau ide. Pemikiran mengenai pendidikan adalah garis besar tentang bagaimana mendidik pikiran ini, ia mengungkapkan keyakinan bahwa pendidikan yang menerbitkan orang itu atau lebih mendasar bahwa pikiran adalah sebuah lemari kosong dengan pernyataan.

Dalam teori tabularasa yang menyatakan bahwa kita dilahirkan dengan keadaan jiwa yang bersih, seperti kertas putih tanpa sifat dan tanpa idea. Apa yang kita ketahui atau kita pikirkan datang dari pengalaman. Semua informasi berdasarkan pengalaman, baik melaui alat dria kita ataupun melalui refleksi yang seterusnya sampai kepada jiwa kita. Karena itu locke ada dua sumber pengetahuan, yaitu "pengindraan" dan "refleksi". Pengatahuan pengindraan berhubungan dengan pengalaman lahiriah, sedangkan refleksi berhubungan dengan pangalaman batiniah.

Semua pengetahuan kita kaya dengan gagasan-gagasan (ide-ide) yang kita peroleh melalui pengalaman dalam kejadian hidup sehari-hari. Pengetahuan merupakan hasil pengujian terhadap ide. Kemudian timbul pertanyaan apakah antara idea yang satu dengan idea yang lainnya ada persesuaian. Dalam hal ini ada empat bentuk yang muncul, yaitu: 1) dalam bentuk identitas atau perbedaan, 2) dalam bentuk hubungan, 3) dalam bentuk koeksistensi atau berada bersama-sama, 4) dalam bentuk kenyataan.

Dalam bentuk yang pertama, pengetahuan diperoleh dengan cara memeriksa dua idea atau lebih, untuk melihat apakah ada persamaan atau perbedaan. Dalam pengetahuan yang kedua yaitu ada dua atau lebih idea yang berhubungan satu sama lain. Dalam bentuk yang ketiga, yaitu pengetahuan yang berpangkal pada kecocokan antara idea yang satu dengan yang lainnya. Bentuk yang terakhir, yakni pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pada pengalaman yang berada di luar jiwa kita.

Mayer menyimpulkan dari buku "essay concerning human understanding" sebagai berikut: Menurut John Locke, kita dapat menyatakan dunia luar secara pasti tanpa penyataan logika. Logika silogisme dari Aristoteles tidak membantu kita untuk mendapatkan pengetahuan. Memang dala matematik terdapat silogisme, namun hal itu tumbuh dari dalil-dalil matematik yang bertautan. Kita harus selamanya dibimbing oleh pengalaman, dan probabilitas merupakan penunjuk jalan bagi kita untuk mendapatkan pengetahuan. Locke juga mengemukakan bahwa ada perbedaan antara pikiran kita dengan dunia obyektif. Kita tidak dapat mengenal esensi yang sebenarnya (hakikat) dari phenomena material maupun spiritual. Ada hubungan yang erat antara sebab dan akibat.

John Locke sebagai penganut teori tabularasa, teori kertas putih, kertas tidak tertulis. Dalam bidang pendidikan, ia menganjurkan pengamatan gejala-gejala psikis, manurutnya, segala sesuatu. Melalui pengalaman inderawilah helai-helai kertas itu diisi. Artinya pengamatan dengan pancaindera akan mengisi jiwa dengan kesan-kesan (sensation) yang dengan jalan sistesis, analisis dan perbandingan diolah menjadi pengetahuan (reflexion).

Sebagai pendidik, John Locke mengutamakan pendidikan jasmani. Dia juga menganjurkan pakaian yang cocok, tidak terlalu panas dan tidak terlalu sempit, makanan sehat tanpa pedas, sering menghirup udara segar, melakukan gerak olah raga, serta kapala dan kaki harus selalu dingin. John Locke mengutamakan pendidikan di rumah daripada di sekolah, karena pendidikan di rumah memberi kesempatan mengenal dari dekatkepribadian anak.

Ciri didaktik John Locke adalah :
  • Belajar seperti bermain,
  • Mengajarkan mata pelajaran berturut-turut, tidak sama,
  • Mengutamakan pengalaman dan pengamatan,
  • Mengutamakan pendidikan budi pekerti

Pendidikan Budi Pekerti Perspektif John Locke

Perihal pendidikan budi pekerti, John Locke menekankan soal menahan diri dan membangkitkan rasa harga diri, pendapat orang harus menjadi salah satu alasan penting untuk perbuatan susila. Selain itu anak harus memperhatikan apakah orang lain menyetujui atau mencela. John Locke mementingkan kepatuhan si anak. Dari permulaan anak harus dibiasakan kepada yang baik-baik. Pendidikan harus dapat mempertahankan kewibawaannya. Ia menolak hukuman-hukuman dan hadiah. Ia pun menolak pendidikan agama yang berlebihan. John Locke tidak setuju anak diberi Kitab Injil. Menurutnya, anak lebih baik disuruh membaca cerita-cerita Bibel.

Semoga bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon