Friday, February 20, 2015

Dimensi Pengembangan Sikap dan Perilaku Beragama pada Anak TK

Dimensi Pengembangan Sikap dan Perilaku Beragama pada Anak TK - Setelah pada postingan sebelumnya telah membumikan pendidikan share bagaimana dimensi pengembangan perilaku moral pada anak TK. Maka pada postingan kali ini, membumikan pendidikan akan share dimensi pengembangan perilaku anak yang ke-2 yaitu dimensi pengembangan sikap dan perilaku beragama pada anak TK. Dimensi ini sangat diperlukan oleh anak sebagai bekal untuk menapaki kehidupan yang lebih real dan realistis dan instan. Di samping sebagai bekal, dimensi ini akan berfungsi sebagai filter dari dimensi-dimensi pengembangan perilaku yang lainnya. Langsung saja uraiannya sebagai berikut. 

Sikap Beragama Anak

Perilaku Sikap Beragama ditunjukkan oleh anak untuk dapat melakukan kebaikan atau menghindarkan pada keburukan sehingga anak kelak mampu memilih jalan yang dapat mengantarkannya kepada kebaikan dan kebahagiaan hidup di dunia. 

Tahapan Perkembangan Sikap dan Perilaku Beragama 

Perkembangan sikap dan perilaku beragama anak melalui tiga tingkatan, sebagai berikut:
Dimensi Pengembangan Sikap dan Perilaku Beragama pada Anak TK
  • Tingkatan dongeng (The Fairy Tale Stage). Tingkat ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun. Pada tingkat ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Penghayatan untuk konsep ke-Tuhanan berkembang sesuai dongeng tingkat perkembangan intelektualnya, artinya anak menanggapi agama masih menggunakan konsep fantasi yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
  • Tingkat Kenyataan (The Realistic Stage). Tingkat ini dimulai pada anak berusia 7-15/16 tahun atau sejak anak masuk SD sampai usia remaja akhir (Adolesense). Pada tingkat ini ide anak tentang ke-Tuhanan sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan pada tingkatan (realis). Konsep tentang ke-Tuhanan muncul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pembelajaran ajaran dari orang dewasa lainnya.
  • Tingkat Individu (The Individual Stage). Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka.

Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi atas tiga golongan yaitu:
  • Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
  • Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perseorangan).
  • Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama.

Memahami konsep keagamaan pada anak-anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sifat agama pada anak-anak tumbuh mengikuti ideas concept on outhority (ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya autoritarius), artinya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka.

Bentuk dan Sikap Beragama pada Anak

Ada beberapa bentuk dan sikap beragama pada anak yang bisa sahabat-sahabat pengajar atau pendidik ketahui, yaitu :

  • Tidak Mendalam (Unreflective)
Anak menganggap Tuhan itu bersifat seperti manusia. Ajaran agama mereka terima begitu saja tanpa kritik. Kebenaran yang mereka terima cukup sekedarnya saja, tidak perlu mendalam. Seringkali anak sudah merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Meskipun demikian ada beberapa anak yang memiliki ketajaman pikiran untuk mempertanyakan apa yang diajarkan pada mereka.
  • Egosentris
Konsep keagamaan dipandang dari kesenangan pribadinya, misalnya anak senang pergi ke rumah ibadah dengan orangtuanya karena sepulang dari sana biasanya orangtuanya mengajak mereka ke toko atau ke warung untuk membeli sesuatu yang anak sukai.
  • Anthromorphis
Melalui konsep-konsep yang terbentuk dalam pikiran dan daya fantasi anak, seringkali mereka menganggap bahwa perilaku dan keadaan Tuhan itu sama dengan manusia. Sebagai contoh, konsep tentang Tuhan itu maha melihat dimaknai oleh anak bahwa Tuhan dapat melihat segala perbuatannya langsung ke rumah-rumah mereka layaknya orang mengintai.
  • Verbalis dan Ritualis
Kehidupan beragama pada anak sebagian besar terjadi melalui ungkapan verbal (ucapan). Mereka menghafal doa dan atau kalimat puji-pujian melalui ucapannya. Praktek keagamaan yang bersifat ritualis seperti sholat bersama keluarga di rumah merupakan hal yang sangat berarti bagi perkembangan sikap beragama pada anak.
  • Imitatif
Sebagai peniru yang ulung anak mampu mewujudkan tingkah laku keagamaan (religius behaviour). Sifat peniru ini merupakan modal yang positif dalam pendidikan keagamaan pada anak. Anak akan meniru semua perilaku keagamaan baik yang mereka dengar, lihat, rasakan dan lakukan oleh orang dewasa.

Demikianlah uraian tentang dimensi kedua dari beberapa dimensi tentang pengembangan perilaku pada anak TK yaitu dimensi pengembangan sikap dan perilaku beragama atau spiritual. Semoga dapat bermanfaat dan bisa menambah wawasan.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon