Saturday, February 28, 2015

Pendidikan sebagai Penyalur dan Pengembang Karakter Luhur

Pendidikan sebagai Penyalur dan Pengembang Karakter Luhur - Pendidikan bukanlah semata-mata berfungsi sebagai alat penyalur ilmu pengetahuan, namun juga sebagai pendorong berkembangnya nilai-nilai luhur yang menjadi dasar berkembangnya watak yang baik. Watak yang baik itu antara lain berupa sikap jujur, adil, demokratis, disiplin, dan toleran. Watak adalah keunggulan moral yang berperan sebagai penggerak utama seseorang di saat ia akan melakukan tindakan. Watak merupakan kekuatan moral yang dapat berfungsi sebagai daya yang menentukan pilihan bentuk-bentuk tindakan. Bertindak dengan watak berarti melangkah atas dasar nilai-nilai yang baik, luhur, patut, dan berdaya-guna. Watak bukanlah sesuatu yang begitu saja ada dan tumbuh dalam diri seseorang, melainkan sesuatu yang dapat dipelajari dan dibangun seseorang dalam menjalani kehidupan.

Dalam konteks inilah, guru/dosen memiliki peran sentral dalam keikutsertaannya membentuk watak peserta didik. Karena itu, guru/dosen dituntut tidak saja mumpuni dalam pengetahuan dan pandai dalam menjalankan tugas menyalurkan ilmu, tetapi juga menjadi acuan dan teladan bagi anak didik. Integritas guru/dosen jelas memiliki kedudukan penting karena pesan moral yang baik hanya akan memiliki kredibilitas tinggi manakala dibawakan oleh penyalur yang baik pula. Namun, pengembangan watak luhur dalam perilaku sehari-hari hanya bisa dilaksanakan bila dalam lingkungan tempat anak dibesarkan terbangun norma-norma pengendali perilaku (baik tertulis ataupun tidak tertulis) yang difahami secara baik dan ditegakkan secara konsisten. Karena pembangunan watak memiliki posisi sangat penting dalam pembangunan bangsa, perlu adanya fokus perhatian terhadap jenis-jenis watak tertentu untuk dikembangkan sehingga menjadi bagian perilaku masyarakat. Di banyak negara lain, telah lama dikembangkan beberapa pilihan watak luhur yang dianggap strategis bagi pembangunan bangsanya.

Bagaimana dengan Indonesia? Betapa pun para pendiri negeri ini sejak awal telah menyadari betapa pentingnya pembangunan watak, namun hingga hari ini belum ada konsensus kuat tentang jenis-jenis watak luhur mana yang harus diajarkan dan diterapkan secara sistematis. Budi pekerti atau akhlaq mulia memang telah diajarkan pada lembaga pendidikan, namun sifatnya masih sporadis dan kurang intensif (belum terfokus dan ketat) sehingga hasilnya dirasakan belum maksimal.

Bila kita sepakat, fokus perhatian pengembangan watak bangsa Indonesia terletak pada enam watak itu, yakni tiga berdimensi personal (jujur, akal sehat, dan pemberani), dan tiga lainnya berdimensi sosial (adil, tanggung-jawab, dan toleran). Bila pengembangan keenam watak ini benar-benar dikembangkan secara nasional, tak mustahil peningkatan kualitas manusia Indonesia dalam kurun waktu satu generasi saja akan terjadi.

Implementasi Pengembangan Karakter (Watak)

Penekanan jenis-jenis watak yang ingin dikembangkan di suatu lingkungan tertentu dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan. Di lingkungan perguruan tinggi, misalnya, terdapat kebutuhan mendesak untuk dikembangkan watak “kejujuran akademis” (academic honesty). Watak ini penting dikembangkan agar mahasiswa dan dosen memiliki kesadaran tinggi dan memiliki komitmen kuat untuk menjunjung tinggi kejujuran akademis sehingga tak mudah terjerumus pada praktek-praktek ketidakjujuran, seperti plagiatisme (plagiarism) dalam berkarya. Ini penting karena dengan berkembangnya teknologi digital dan semakin terbukanya akses informasi, berbagai kemudahan untuk mengunduh (download) data, mengirim file, dan melakukan duplikasi text dengan cara “copy/cut and paste” di setiap komputer, pragiarisme semakin mudah dapat dilakukan.

Kemudian, watak lain yang juga perlu dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi adalah watak untuk ‘’produktif” dan “kreatif/inovatif”’ dalam berfikir dan berkarya. Bila watak ini secara khusus didorong untuk dikembangkan, niscaya perguruan tinggi akan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran produktif, kreatif/inovatif, dengan didasarkan pada sifat kejujuran yang kuat. Agar watak semacan ini dapat kuat terbangun, pihak kampus harus merancang infrastruktur yang memadai, baik berupa kurikulum pengajaran yang secara tegas mendukung tujuan ini, merumuskan aturan-aturan tegas bagi pelanggar kejujuran, membangun pakta-integritas untuk menjaganya, merancang data-base untuk pemantauan (monitoring), hingga menumbuhkan suasana interaksi akademis yang sehat dan berintegritas.

Apapun pilihan yang ditentukan, yang paling penting dilakukan adalah mencanangkan pelaksanaan strategi pendidikan yang tepat agar watak luhur itu dapat berkembang dan terinternalisasi efektif dalam diri setiap peserta didik. Selain sekolah/kampus, lingkungan keluarga menjadi tempat penting bagi pembangunan watak luhur ini. Peran orang-tua di rumah tetap memiliki posisi paling sentral. Tak dapat dipungkiri, lembaga keluarga adalah lembaga pendidikan terpenting di banding lainnya. Karena itu, pembangunan watak secara nasional mustahil dapat dilakukan tanpa upaya serius mendorong keluarga untuk ikut menjalankan misi character building ini.

Namun, kehidupan modern tak jarang semakin dilihat menggeser peran keluarga. Jam belajar dan interaksi sosial anak di lingkungan sekolah/kampus sering lebih panjang dibanding interaksi dalam keluarga. Karena itu, peran sekolah/kampus dalam ikut membangun watak peserta didik pada tempat dan waktu tertentu bisa lebih penting. Karena itu, sebagaimana dikatakan Thomas Lickona (1993):
School must help children understand core values, adopt or commit to them, and then act upon them in their own lives.
Artinya, dalam pendidikan karakter, sekolah/kampus harus mendorong peserta didik untuk mampu memahami nilai-nilai moral yang baik (moral knowing), mampu merasakan nilai-nilai luhur itu hingga ke lubuk hati yang paling dalam (moral feeling), dan akhirnya memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan apa yang diketahui dan dirasakannya itu ke dalam tindakan nyata (moral action) (Ratna Megawangi, 2004: 111).

Apa yang harus diperhatikan agar hal ini dapat terimplementasi? Shea (2003) menyebut empat aspek yang harus dilakukan dalam pembentukan watak, yakni:
Pendidikan sebagai Penyalur dan Pengembang Karakter Luhur
  • Perhatian pada sisi emosi peserta didik seperti menghargai diri sendiri (self-respect), kemampuan ber-empathy, dapat menahan diri (self-control), rendah hati dan lain-lain.
  • Meningkatkan life-skills seperti kemampuan mendengarkan orang lain dan kemampuan berkomunikasi.
  • Menumbuhkan kemauan (will), seperti menguatkan niat dan menghimpun tenaga untuk prinsip-prinsip luhur dalam kehidupan nyata.
  • Pembiasaan (habit), yakni pengembangan sikap untuk merespon berbagai situasi dengan baik secara konsisten dan berkelanjutan.
Superka, Ahrens dan Hedstrom (1976) menyarankan strategi yang sedikit berbeda: Beragam cara kreatif dapat dicoba dilakukan dalam pendidikan karakter. Namun yang perlu diingat, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, pengembangan karakter luhur hanya akan tumbuh sehat, bila ada dukungan kuat dari komunitas tempat seseorang hidup sehari-hari. Komunitas yang sehat adalah komunitas yang di dalamnya terjadi interaksi yang sejajar, yakni masing-masing anggota memiliki kesamaan derajat, ada kesamaan tingkat keterlibatan, dan ada sikap keterbukaan. Langkah membangun interaksi sehat ini memerlukan pemahaman dan latihan terus-menerus. Manakala komunitas semacam ini terbangun, maka setiap anggota di dalamnya memiliki jalinan hubungan erat yang diikat oleh nilai-nilai moral yang disepakati bersama. Sikap luhur seperti kejujuran, keadilan, tanggung-jawab, rasional, berani dan toleran sebagaimana disebutkan, bila telah menjadi bagian dari norma komunitas, akan berkembang kuat. Setiap anggota dalam komunitas itu secara demokratis akan menjaganya dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan.

Pola-pola interaksi sehat merupakan embrio tumbuhnya sebuah komunitas responsif. Amitai Etzioni (1996) menggunakan terminologi “komunitas responsif” untuk menandai sebuah komunitas yang bersifat non-represif, yaitu sebuah komunitas yang di dalamnya, di satu sisi, tidak ada upaya-upaya pemaksaan penerapan nilai karena tidak ada lagi kekuatan sentripetal komunitas (centripetal forces of community) yang memberangus hak-hak individu, namun di sisi lain, tiap-tiap individu tidak juga menganut kebebasan yang mengabaikan tanggung jawab kolektif (sebagaimana terjadi dalam iklim komunitas libertarian free-for-all). Nilai-nilai moral bersama tumbuh atas kesadaran, bukan paksaan. Etzioni (1996, hal. 92) menulis,

The term ‘responsive’ implies that the society is not merely setting and fostering norms for its members, but is also responding to the expressions of their values, viewpoints and communications in refashioning its culture and structure.

Demikianlah...Semoga dapat bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon