Tuesday, March 17, 2015

Konsep Dasar dan Karakteristik Pengembangan Motorik Halus Anak

Konsep Dasar dan Karakteristik Pengembangan Motorik Halus Anak - Postingan sebelum-sebelumnya, membumikan telah share mengenai peran motorik halus dan urgensi pengembangan motorik halus dalam hubungannya dengan pengembangan seni di taman kanak-kanak (TK). Dan pada kesempatan kali ini, membumikan pendidikan akan share mengenai Konsep Dasar dan Karakteristik Pengembangan Motorik Halus Anak. Bahwa munculnya peran dan pengembangan motorik halus dalam hubungannya dengan pengembangan seni anak tentu saja dilandasi oleh konsep-konsep yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh pendidikan anak berikut dengan karakteristiknya. Maka, di bawah ini ada beberapa konsep dasar dalam pengembangan motorik halus anak yang cetuskan oleh beberapa tokoh pendidikan anak.
J. H. PESTALOZZI (Pengajaran Berupa)
Sumber pengetahuan adalah alat dria: pengamatan permulaannya. Oleh karena itu dalam pelajaran harus digunakan benda-benda yang sebenarnya. Benda tersebut diamati dari segala segi dengan alat indra anak di bawah pimpinan pendidik dan dipelajari jumlah, bentuk dan namanya. Setelah diamati anak mengukur dan menggambarkannya. Setelah menggambar baru anak diajarkan menulis.

Baca juga : Peran Motorik Halus dalam Pengembangan Seni
FRIEDRICH FROBEL (Azaz Bekerja Sendiri)
Dasar utama untuk mempelajari pengetahuan dan kecekatan adalah keaktivan anak-anak (auto-aktivitas). Cara mendidik yang baik menurut Frobel ialah dengan metode yang banyak memberi kesempatan kepada anak untuk sibuk aktif mengerjakan, membuat dan menciptakan sesuatu atas inisitaif sendiri (ekspresi). Bentuk pengajaran Frobel adalah :
  • 1) Menggambar >>> diawali dengan garis vertikal dan horizontal
  • 2) Spielgaben dan Spielformen >>> dengan permainan bentuk
  • 3) Alat permainan untuk ber-frobel (pekerjaan tangan) >>> misalnya mozaik, lidi peletak, cincin, bilah lipat, bilah anyaman, kertas lipat dan tanah liat.

MARIA MONTESSORI
Untuk melatih fungsi-fungsi motoris anak tidak perlu diadakan alat-alat tertentu, kehidupan sehari-hari cukup memberi latihan bagi motorik anak.

Asas metode Montessori adalah:
  • Pembentukan sendiri. Perkembangan itu terjadi dengan berlatih, yang dapat dikerjakan sendiri oleh anak-anak.
  • Masa peka. Masa peka merupakan masa di mana bermacam-macam fungsi muncul menonjolkan diri dengan tegas untuk dilatih.
  • Kebebasan. Mendidik untuk kebebasan dengan kebebasan, dengan tujuan agar masa peka dapat menampakkan diri secara leluasa dengan tidak dihalanghalangi di dalam ekspresinya.

OVIDE DECROLY (Centres d’interet)
Menurut Decroly, pelajaran yang diberikan harus berkaitan dengan hal-hal yang dapat mengikat perhatian anak-anak yaitu hal-hal yang menjadi “pusat-pusat minat” mereka. Cara pembelajaran bagi suatu “pusat minat” adalah:
  • Mengamati (memperoleh pengalaman).
  • Mengolah pengalaman.
  • Ekspresi (Abstrak dan Konkret).
  • Ukuran (mengukur, menimbang dan menghitung).
Ekspresi Abstrak berhubungan dengan pemakaian bahasa, sedangkan Ekspresi Konkret meliputi menggunting, merekat, menggambar, menjahit, bersandiwara, bersenam, dan bermain. Penekanannya pada kegiatan menggambar sebagai pengabadian pengamatan yang telah dilakukan.

Karakteristik Pengembangan Motorik Halus

Keterampilan motorik halus yang paling utama adalah kemampuan memegang pensil dengan tepat yang diperlukan untuk menulis kelak. Pada awalnya anak memegang pensil dengan cara menggenggam seluruh pensil dan digunakan hanya untuk mencoret-coret. Cara ini dilakukan oleh anak usia 2-3 tahun. Setelah itu cara memegang pensil sudah berkembang lebih baik lagi, tidak menggunakan seluruh jari, melainkan hanya jempol dan telunjuk. Pada saat ini anak tidak lagi menggunakan lengan dan bahunya untuk ikut melakukan gerakan menulis atau menggambar, melainkan lebih banyak bertumpu pada gerakan jari.
Konsep Dasar dan Karakteristik Pengembangan Motorik Halus Anak

Karakteristik Keterampilan Motorik Anak

Karakteristik keterampilan motorik anak dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Pada saat anak berusia 3 tahun, kemampuan gerakan halus anak belum terlalu berbeda dari kemampuan gerakan halus pada masa bayi. Meskipun anak pada saat ini sudah mampu menjumput benda dengan menggunakan jempol dan jari telunjuknya, tetapi gerakan itu sendiri masih sangat kikuk.
  • Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak secara substansial sudah mengalami kemajuan dan gerakannya sudah lebih cepat, bahkan cenderung ingin sempurna.
  • Pada usia 5 tahun, koordinasi motorik halus anak sudah lebih sempurna lagi. Tangan, lengan, dan tubuh bergerak di bawah koordinasi mata. Anak juga mampu membuat dan melaksanakan kegiatan yang lebih majemuk, seperti dalam kegiatan proyek.
  • Pada akhir masa kanak-kanak (usia 6 tahun), ia telah belajar bagaimana menggunakan jari jemari dan pergelangan tangannnya untuk menggerakkan ujung pensil.
Demikianlah uraian singkat tentang Konsep Dasar dan Karakteristik Pengembangan Motorik Halus Anak. Semoga bisa menjadi bahan review ketika membelajarkan anak. Sehingga anak dapat mengembangkan skill atau kemampuan mereka. Terakhir semoga dapat bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon