Wednesday, March 04, 2015

Konteks Pengembangan Paradigma Pendidikan Nasional

Konteks Pengembangan Paradigma Pendidikan Nasional - Pengembangan paradigma pendidikan nasional mesti dikaitkan dengan falsafah pendidikan progresif yang ditekankan pada pentingnya peran serta aktif para pembelajar (the learners) dalam penetapan tujuan yang mengarahkan segenap aktivitas mereka masing-masing dalam keseluruhan proses pembelajaran, menuju tercapainya kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan (John Dewey, dikutip oleh Ackoff & Greenberg, 2008). Pendidikan pada hakekatnya adalah proses penemuan diri yang berlangsung sepanjang hayat untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki seseorang secara penuh, yang memberikan kepuasan dan makna pada kehidupannya.

Semenjak dua abad yang pertama dari Revolusi Industri, pendidikan cenderung diarahkan pada peningkatan kemampuan baca-tulis-berhitung (reading, writing, arithmetic) guna menghasilkan tenaga kerja terampil untuk menjalankan roda industri. Makna hakiki pendidikan sebagai a life long process of self-discovery nyaris terlupakan. Pendidikan secara massal pun berkembang tanpa kendali, memperlakukan murid sebagai bahan mentah yang diproses secara ‘mekanistik’ untuk menghasilkan produk akhir yang bisa dijual.
Konteks Pengembangan Paradigma Pendidikan Nasional

Dari lima muara pengembangan pendidikan: sains, teknologi, ekonomi, etika dan estetika, tiga muara yang disebut terdahulu yang diutamakan. Padahal muara etika yang menyangkut perilaku, kesantunan, keadaban sangat penting bila mengingat kembali bahwa pendidikan adalah pengawal peradaban (the guardian of civilization).

Demikian juga aspek estetika, yang bertautan dengan keindahan sebagai produk dari aktivitas kreatif dan rekreatif; selama ini kurang memperoleh perhatian. Akibatnya, baik lingkungan alam maupun lingkungan binaan yang semula asri, selaras, serasi, seimbang, penuh harmoni, sekarang menjadi kian bertambah rusak, jelek dan membahayakan kehidupan manusia, terutama generasi mendatang.

Paradigma pendidikan yang terlalu terfokus pada kepentingan pragmatis, teaching mind melalui drill & skill, kiranya perlu diseimbangkan dengan tujuan ideal touching heart melalui ethics & esthetics. Mesti disegarkan kembali bahwa pendidikan merupakan kekuatan moral dan intelektual yang berjalan seimbang, tidak boleh timpang.

Selama ini nampak bahwa pendidikan di Indonesia terlalu menekankan aspek intelektualitas, kurang memperhatikan aspek moralitas. Lebih banyak berkutat tentang pemenuhan kepentingan pasar dan industri, ketimbang pengembangan karakter dan kearifan. Lebih disibukkan dengan urusan pencarian dana daripada mengembangkan ilmu yang autentik. Padahal Washburn (2005) sudah mengingatkan bahwa
The greatest threat to the future of higher education is the intrusion of a market ideology into the heart of academic life.
Dalam konteks pedagogik, tak kalah penting untuk diungkapkan tentang suasana demokratis yang harus diciptakan agar setiap pembelajar berani menyampaikan gagasan, bila perlu berdebat, kendati dengan cara yang santun.

Dialog antara guru dengan murid yang mengalir lancar dan tema yang luas akan sangat menyenangkan, menumbuhkan rasa percaya diri, tidak takut berbuat salah, berani mengambil resiko, dan tertantang mencoba hal-hal baru. Sekolah dan kampus menjadi tempat yang selalu menarik, belajar sambil bermain, dan sarat dengan tantangan. Mereka juga akan belajar saling menghargai dan saling menghormati, yang sangat bermanfaat dalam kehidupan nyata di luar sekolah.

Paradigma pendidikan yang demokratis, bernuansa permainan, penuh keterbukaan, menantang, melatih rasa tanggung jawab, akan merangsang anak didik untuk datang ke sekolah atau ke kampus karena senang, bukan karena terpaksa. Meminjam kata-kata Ackoff & Greenberg (2008):
Education does not depend on teaching, but rather on the self-motivated curiosity and self-initiated actions of the learner.

Transisi ke Abad XXI

Kenyataan memperlihatkan bahwa perubahan tata kehidupan abad XX lebih sering terjadi baik dalam magnitudo maupun keragamnya, dibandingkan dengan perubahan selama 1000 tahun sebelumnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan itu didorong oleh tatanan sosio-ekonomik abad XIX, yang didesakkan oleh revolusi industri. Pada kesempatan berikutnya revolusi itu memacu dan memicu kebutuhan teknologik, ilmu pengetahuan dan sosial budaya dalam arti memerlukan tenaga trampil, cerdas dan terdidik untuk mengelola perubahan itu. Tidak kalah pentingnya ialah berkembangnya modus ilmu pengetahuan dalam ranah produksi keilmuan.  Kita juga mencatat bahwa dalam abad XX itu, gagasan dan manusia tidak hanya merambah ke jagad renik dan menemukan material baru sebagai soko guru ilmu pengetahuan, tetapi juga melahirkan konsep, gagasan dan aksi menjelajah alam dalam 3-dimensi, sebagai perluasan usaha sebelumnya untuk menguasai bumi melalui usaha-dua dimensional. Bersamaan dengan itu tumbuh tantangan dan perkembangan etos serta gairah penelitian alam dan hakikatnya.

Sementara itu kita juga mencatat bahwa pada abad XX merebak Perang Dunia yang meminta korban 43 juta manusia, tetapi juga mendudukan berbagai kelompok bangsa dalam pinggiran perang dingin yang sangat menghantui kemanusiaan. Kesalahan dan teror dalam mengelola kemampuan perlombaan persenjataan nuklir mengancam perjalanan bangsa dalam setiap kelok peradaban. Kini pada abad XXI, walaupun harus diakui masih adanya ancaman ledakan nuklir, penghasil energi pemusnah yang belum terkalahkan, kemanusiaan masih harus mewaspadai adanya ancaman lain yang berkembang dari dalam laboratorium ilmu pengetahuan mulai dari pemanfaatan bioteknologi sampai kepada kecanggihan perlombaan persenjataan dan perusakan lingkungan karena tidak terkontrolnya virus buatan. Manusia juga disadarkan bahwa penyakit jenis baru tidak dapat diabaikan begitu saja. Ancaman alami yang datang dari gesekan lempeng benua, maupun dari simpanan magma yang terkungkung, daya sembur dan ledak gunung api. Ulah manusia sendiri ikut memberi aksen pemanasan angkasa bumi yang dapat berlanjut pada perusakan lingkungan. Kemajuan ilmu pengetahuan juga memperihatkan bahwa bumi kita bukan wahana antariksa aman bagi kemanusiaan.

Hikmah dari semua ini yang dapat kita tarik adalah terlihatnya ubahan peta dunia yang tampak tidak lagi hanya pembagian menurut sekat ideologi atau geografis, yang makin lama makin pudar. Namun, secara virtual terdapat sekat teknologik dan saintifik. Hampir semua bangsa mendekatkan diri dengan penguasa pasar global, yang ditandai dengan atribut penguasaan teknologi dan inovasinya. Mereka yang tidak dapat meraihnya harus rela tergeser kepinggiran dan tertinggal dibelakang, dalam percaturan bangsa di dunia model baru itu.

Demikianlah uraian tentang Konteks Pengembangan Paradigma Pendidikan Nasional. Semoga bisa membuka wawasan sahabat-sahabat membumikan pendidikan mengenai pengembangan pendidikan dalam konteks kekinian.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon