Friday, May 15, 2015

Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus yang Mengalami Tunadaksa

Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus yang Mengalami Tunadaksa - Postingan kali ini, membumikan pendidikan masih akan share mengenai karakteristik anak berkebutuhan khusus dengan kelainan fisik yaitu tunadaksa. Inilah postingan terakhir mengenai karakteristik anak berkebutuhan khusus dengan kelainan fisik setelah pada postingan sebelum dan sebelumnya membumikan pendidikan telah share dua dari tiga anak dengan gangguan fisik yaitu tunanetra dan tunadaksa.

Baca juga :

Langsung saja berikut uraian singkatnya.

Karakteristik Anak Tunadaksa 

Ilustrasi
Dini seorang anak cerebral palsy, sejak kecil dia mengalami kelumpuhan atau kelayuhan pada anggota gerak sebelah kanan yaitu tangan dan kaikanannya yang disertai gangguan pada otot motorik wicara. Dini jika berjalan terlihat sempoyongan, dan bila bicara sulit untuk dimengerti orang lain. Pada awalnya oleh lingkungan dia dianggap sebagai anak yang tidak normal mentalnya. Tetapi lama-kelamaan lingkungan menyadari bahwa dia memahami dan mengerti apa yang di bicarakan orang lain, tetapi sangat sulit untuk ekspresi responnya secara verbal maupun motorik lainnya. Setelah dia bersekolah di sekolah khusus atau SLB untuk anak-anak tunadaksa, dia dapat mengekspresikan maksudnya dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan dan sedikit dapat dimengerti orang lain.

Anak tunadaksa adalah anak-anak yang mengalami kelainan fisik, atau cacat tubuh, yang mencakup kelainan anggota tubuh maupun yang mengalami kelainan anggota gerak dan kelumpuhan yang disebabkan karena kelainan yang ada di syaraf pusat atau otak, disebut sebagai cerebral palcsy (CP), dengan karakteristik sebagai berikut:
Karakteristik Anak Tunadaksa

  • Gangguan Motorik
Gangguan motoriknya berupa kekakuan, kelumpuhan, gerakan-gerakan yang tidak dapat dikendalikan, gerakan ritmis dan gangguan keseimbangan. Gangguan motorik ini meliputi motorik kasar dan motorik halus.

  • Gangguan Sensorik
Pusat sensoris pada manusia terleak otak, mengingat anak cerebral palsy adalah anak yang mengalami kelainan di otak, maka sering anak cerebral palsy disertai gangguan sensorik, beberapa gangguan sensorik antara lain penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan perasa. Gangguan penglihatan pada cerebral palsy terjadi karena ketidakseimbangan otot-otot mata sebagai akibat kerusakan otak. Gangguan pendengaran pada anak cerebral palsy sering dijumpai pada jenis athetoid.

  • Gangguan Tingkat Kecerdasan
Walaupun anak cerebral palsy disebabkan karena kelainan otaknya tetapi keadaan kecerdasan anak cerebral palsy bervariasi, tingkat kecerdasan anak cerebral palsy mulai dari tingkat yang paling rendah sampai gifted. Sekitar 45% mengalami keterbelakangan mental, dan 35% lagi mempunyai tingkat kecerdasan normal dan diatas rata-rata. Sedangkan sisanya cenderung dibawah rata-rata (Hardman, 1990).

Baca juga: 10 Saran Praktis Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

  • Kemampuan Berbicara
Anak cerebral palsy mengalami gangguan wicara yang disebabkan oleh kelainan motorik otot-otot wicara terutama pada organ artikulasi seperti lidah, bibir, dan rahang bawah, dan ada pula yang terjadi karena kurang dan tidak terjadi proses interaksi dengan lingkungan. Dengan keadaan yang demikian maka bicara anak-anak cerebral palsy menjadi tidak jelas dan sulit diterima orang lain.

  • Emosi dan Penyesuaian Sosial
Respon dan sikap masyarakat terhadap kelainan pada anak cerebral palsy, mempengaruhi pembentukan pribadi anak secara umum. Emosi anak sangat bervariasi, tergantung rangsang yang diterimanya. Secara umum tidak terlalu berbeda dengan anak–anak normal, kecuali beberapa kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dapat menimbulkan emosi yang tidak terkendali. Sikap atau penerimaan masyarakat terhadap anak cerebral palsy dapat memunculkan keadaan anak yang merasa rendah diri atau kepercayaan dirinya kurang, mudah tersinggung, dan suka menyendiri, serta kurang dapat menyesuaiakan diri dan bergaul dengan lingkungan.

Sedangkan anak-anak yang mengalami kelumpuhan yang dikarenakan kerusakan pada otot motorik yang sering diderita oleh anak-anak pasca polio dan muscle dystrophy lain mengakibatkan gangguan motorik terutama gerakan lokomosi, gerakan ditempat, dan mobilisasi. Ada sebagian anak dengan gangguan gerak yang berat, ringan, dan sedang. Untuk berpindah tempat perlu alat ambulasi, juga perlu alat bantu dalam memenuhi kebutuhannya, yaitu memenuhi kebutuhan gerak. Dalam kehidupan sehari-hari anak perlu bantuan dan alat yang sesuai. Keadaan kapasitas kemampuan intelektual anak gangguan gerak otot ini tidak berbeda dengan anak normal.

Demikianlah uraian mengenai Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus yang Mengalami Tunadaksa. Semoga bisa menambah perbendaharaan wawasan sahabat-sahabat membumikan pendidikan terkait karakteristik anak berkebutuhan khusus dengan kelainan fisik yang terdiri dari tunanetra, tunarungu dan tunadaksa. Dan mudah-mudahan pula postingan ini dapat bermanfaat.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon