Monday, June 06, 2016

Hakikat Puasa bagi Manusia

Hakikat Puasa bagi Manusia - Siang ini situs membumikan pendidikan akan share mengenai sebenarnya apa esensi atau hakikat puasa bagi manusia. Sudah sahabat-sahabat ketahui bahwa puasa adalah ibadah yang tiada dapat indera manusia mengamatinya, dan yang tahu pasti hanyalah Allah Swt dan orang yang bersangkutan. Dengan demikian puasa adalah suatu ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah Swt. Oleh sebab itu, ibadah dan kebaktian ini tiada yang mengetahui secara pasti kecuali Allah Swt, lalu Dia sandarkan pada Dzat-Nya sendiri.
Hakikat Puasa bagi Manusia
Allah Swt berfirman:
“Segala amal perbuatan manusia adalah hak miliknya, kecuali puasa. Puasa itu bagi-Ku, dan Akulah yang berhak membalas dengannya”

Atau puasa disandarkan pada Dzat-Nya Allah itu, karena puasa suatu bentuk ibadah dimana pelakunya tidak mungkin menyekutukan Allah. Jauh berbeda dengan perbuatan orang-orang kafir dan musyrik yang menyembah patung, matahari dan bulan, dan sebagainya, tiada seorang pun dari mereka yang berpuasa ditujukan untuk patung dan sesembahan lainnya. Tapi ia berpuasa ditujukan bagi Allah Swt semata. Oleh sebab itulah puasa disandarkan oleh Allah pada Dzat-Nya sendiri, seperti dalam firman-Nya di atas. Maksudnya Akulah yang berhak membalas dengannya, atas dasar kemurahan Tuhan, bukan hak tuntutan manusia sebagai pelakunya.

Dalam redaksi yang lain, Abu al-Hasan dalam Kitab Mukhtashar Raudlah menjelaskan tentang hal tersebut, yakni setiap amal taat pahalanya surga, sedangkan puasa bertemu dengan-Ku, Aku memandangnya dan ia pun memandang-Ku. Tanpa adanya perantara (orang ketiga).

Baca juga: Pengertian Puasa dan Sejarah Diwajibkannya Puasa

Perang dengan Musuh Allah

Menurut pendapat sementara Ulama, yang dimaksud dengan puasa ialah berperang menundukkan musuh Allah (syahwat), sebab penghubung syetan ialah syahwat dan syahwat menjadi tegar akibat makan minum. Maka dengan cara puasa inilah musuh dapat ditundukkan, tekanan syahwat dan makan minum dikurangi.

Baca juga: Keutamaan dan Keistimewaan Bulan Ramadhan

Riwayat Wajibnya Puasa

Sehubungan dengan perang menundukkan nafsu syahwat, telah diceritakan dalam proses diwajibkannya puasa:
"Bahwasanya Allah Swt setelah selesai menciptakan akal, Dia berfirman: Wahai akal, menghadaplah kamu kepadaku! Maka dengan segera akal menghadap-Nya. Lalu Allah menyuruhnya: Mundurlah wahai akal! Maka ia segera mundur mentaati perintah Allah Swt. Kemudian Allah Swt bertanya: Wahai akal, sebenarnya siapakah kamu dan Aku ini? Akal menjawab: Ya Allah, Engkaulah sesembahanku, sedang aku hanyalah hamba-Mu yang lemah. Akhirnya ia dipuji oleh Allah dengan firman-Nya: Wahai akal, tiada makhluk yang Aku ciptakan lebih mulia dibandingkan kamu".
"Kemudian Allah Swt ciptakan pula nafsu, dan ketika ia disuruh menghadap Allah, sepatah katapun tiada jawaban darinya. Bahkan ketika ditanya oleh Allah: Siapa kamu dan siapa Aku ini? Jawabnya: Aku ya aku, Kamu ya Kamu. Maka dengan demikian ia patut menjalani hukuman, akibat tidak tahu diri, ia disiksa dilemparkan ke dalam kobaran api neraka jahannam selama 100 tahun. Dan setelah habis masa hukumannya, ia dikeluarkan dari neraka. Lalu ditanya kembali oleh Allah: Siapa sebenarnya engkau, dan siapa pula Aku? Jawabnya tiada berbeda dengan dulu: Aku ya aku, Engkau ya Engaku. Akhirnya ia dihukum kembali, tapi kali ini ia dilemparkan dalam neraka lapar selama 100 tahun. Sehabis masa hukumannya ia ditanya kembali tentang siapa Penciptanya. Maka berkat hukuman lapar (Puasa) ia mengakui bahwa dirinya adalah hamba yang lemah. Dan Allah Tuhannya, itulah sebabnya Allah mewajijbkan puasa baginya."  (Misykah)

Demikianlah sekelumit ulasan mengenai hakikat puasa bagi manusia. Karena begitu pentingnya ibadah yang satu ini (puasa), sampai-sampai Allah sendiri yang langsung menilai dan membalasnya. Semoga dapat bermanfaat dan bisa membuka lembaran baru dalam menunaikan ibadah puasa, lebih bisa mawas diri dalam menjalankan, selalu mengisinya dengan memperbanyak amalan-amalan ibadah, berlomba-lomba dalam kebaikan karena di bulan Ramadhan semuanya akan dilipat gandakan dan akhirnya kita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan yaitu tergolong ke dalam orang-orang yang dimuliakan oleh Allah karena takwa.

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon