Monday, July 18, 2016

Bijak dalam Memilih Sekolah Baru

Setelah pada artikel sebelumnya Membumikan Pendidikan share mengenai sekolah konsepsional atau transaksional, maka pada kesempatan kali ini Membumikan Pendidikan akan share dengan mengambil judul Bijak dalam Memilih Sekolah Baru. Bahwa sejalan dengan telah berakhirnya tahun pelajaran 2015-2016, masa penerimaan siswa baru tahun ajaran 2016-2017 pun dimulai. Mengingat pentingnya pendidikan sebagai investasi masa depan, orang tua berupaya untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya. Langkah yang mereka tempuh adalah dengan mencarikan sekolah negeri favorit (unggul) dengan pertimbangan sekolah negeri lebih ringan dari sisi biaya dan lebih lengkap sarana dan prasarana yang dapat menunjang keberhasilan putra-putrinya kelak ketika menempuh pendidikan.


Bagi orang tua yang memiliki anak yang berprestasi gemilang baik secara akademik maupun non akademik tidak terlalu khawatir dengan pilihan sekolah karena kalau nilainya bagus, anaknya bisa masuk ke sekolah manapun sesuai dengan minatnya. Namun, bagi orang tua yang anaknya memiliki nilai akademik kurang, mereka perlu upaya ekstra agar bisa mendapatkan sekolah favorit. Bahkan ada orang tua yang rela berkorban memberikan uang (sumbangan) lebih. Jika ada orang tua yang demi dapat memasukan anaknya ke sekolah negeri favorit meski dengan kondisi anak yang nilainya kurang lantas menempuh dengan jalan pintas yaitu dengan menyuap sekolah. Maka sejatinya orang tua yang melakukan hal tersebut telah menempuh jalan yang salah.
Bijak dalam Memilih Sekolah Baru
Memang, banyak system penerimaan peserta didik sudah memakai system online dan sudah bagus dari sisi transparansi dan kemudahan layanan. Namun tidak menutup kemungkinan ada oknum yang bermain di luar system. Sangat disayangkan, biasanya oknum yang bermain di luar system justru orang-orang yang tahu hokum, berpendidikan tinggi dan berstatus sosial yang baik. Orang-orang yang bermain di luar system inilah yang perlu lebih diwaspadai karena sungguh menciderai keadilan dan menumbuhkan benih-benih korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di sekolah.


Secara prinsip sekolah itu sama saja karena memiliki visi dan misi untuk mencerdaskan anak bangsa. Namun, predikat sekolah favorit di masyarakat tidak bisa dielakkan. Orang menganggap sekolah yang satu dikatakan lebih unggul dari sekolah yang lain dan itu terjadi secara alami. Biasanya orang melihat dari seberapa banyak sekolah itu memiliki prestasi akademik lulusannya. Bahkan, dulu ketika Ujian Nasional masih menjadi syarat kelulusan, sekolah yang berhasil meluluskan 100% siswanya menjadi branding sekolah dan banyak orang tua memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.


Melihat fenomena semacam itu, maka sesungguhnya masih banyak orang tua yang menilai keunggulan sekolah dari sisi output-nya saja. Padahal, sekolah dikatakan unggul dan efektif perlu mengukur input-nya juga. Lebih jauh kita harus paham dulu bahwa sekolah memiliki entitas yang sangat kompleks. Kita perlu mengetahui factor dan indicator efektivitas sekolah yang bisa dibandingkan. Meskipun sudah diketahui indicator efektivitas sekolah, masih perlu memastikan apakah indicator tersebut memenuhi kaidah “cause and effect” (Robert Bolen, 2005). Singkatnya, betapa kompleksnya criteria sekolah dikatakan sekolah efektif apalagi bisa dikatakan sekolah favorit dan unggul. Namun, secara sederhana sekolah efektif dan bisa dikatakan unggul ketika sekolah tersebut melakukan proses terbaik. Jelasnya adalah sekolah yang menerima input biasa-biasa saja, namun dengan proses terbaik mampu menghasilkan lulusan yang luar biasa kualitasnya baik dari sisi akademik maupun non akademik.


Untuk menemukan sekolah seperti apa yang diuraikan di atas tidaklah mudah. Orang tua perlu cermat dan meneliti lebih jauh, misalnya dari sisi sumber daya manusia yang dimiliki sekolah. Dalam buku “Gurunya Manusia”, Munif Chatib menyatakan bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang dikelola oleh guru dan staff yang tidak pernah berhenti belajar. Mereka adalah orang-orang yang selalu berpikir kreatif untuk menggali model pembelajaran yang efektif, membuat inovasi pembelajaran kemudian menerapkannya, membuat pelatihan-pelatihan dan diskusi-diskusi terkait permasalahan yang dihadapi di sekolah tersebut.

Sekolah unggul juga bisa dimaknai dengan sekolah yang diisi oleh guru-guru yang memiliki jiwa pengabdian dan integritas yang tidak hanya mampu mentransfer pengetahuan namun juga mampu mendidik, membina, melatih, menginspirasi, dan memberikan teladan akhlak dan budi pekerti yang baik bagi siswa-siswanya. Sehingga dapat vercapai lulusan yang berwawasan luas, berakhlak mulia, dan memiliki keterampilan hidup.

Selamat bagi anak-anak yang berhasil diterima di sekolah favorit yang diminati. Bagi orang tua yang anaknya masih belum bisa diterima di sekolah negeri tidak perlu berkecil hati dan tidak perlu minder ketika masuk sekolah yang tidak mendapat label favorit. Karena kemampuan anak masih bisa berkembang jika orang tua mau bersabar mendidik dan mau bekerja sama dengan sekolah karena seunggul dan sefavorit apapun sekolah tanpa dukungan dan peran serta orang tua dalam mendidik, anak akan sulit untuk berhasil.

Demikianlah uraian mengenai Bijak dalam Memilih Sekolah Baru. Semoga dapat membantu dan bermanfaat. Ayooo sekolah!

Advertisement

Terima kasih telah berkomentar dengan baik dan sopan.
EmoticonEmoticon